“Ikanaide”
Ucapku sambil dengan air mata yang mengalir di pipi, begitu pula dengannya yang hanya menyunggingkan senyum di bibirnya yang ranum. Jujur aku tidak akan bisa melupakannya bahkan sampai detik ini. Dan itu adalah kenangan terakhirku di musim dingin setahun lalu. Kyoto memasuki musim semi, bunga sakura mulai bermekaran, tupai-tupai yang bersembunyi dari tempatnya ber-hibernasi mulai berkeliaran.
****
Apa ini, rasanya kakiku dingin. Tak hanya di kaki, mulai menyebar ke seluruh tubuh. Namun tidak lama kemudian suhunya mulai menghangat. Akhirnya aku coba membuka mata ini, rasanya berat sekali. Rasa-rasanya aku lupa akan sesuatu.
“Jun, ayo bangun. Kau harus segera berangkat ke sekolah.”
Ahhh, lagi-lagi ibu yang membangunkanku. Selalu begini setiap di hari selasa, entah ini sugesti atau sebuah kutukan yang membuatku selalu kesiangan di hari selasa dan ibu menjadi alarm di pagi harinya. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
“Ibu, aku izin mengambil beberapa tangkai bunga di halaman.”
Ibu melirikku sambil tersenyum.
“Ambil saja, aku tahu. Itu pasti untuknya.”
Aku menunduk malu-malu. Ibu sudah sangat mengenalnya, kami memang sudah kenal sejak masih kanak-kanak. Wajar ibu sangat kenal dengan sifat dan perilakunya. Aku beranjak dari tempat duduk dan tidak lupa memeluk ibu.
Di perjalanan menuju sekolah aku sengaja memutar arah, aku merindukannya. Ku lewati rumahnya yang nampak sepi, yang terlihat hanya adiknya yang bermain-main di halaman rumah dengan riang. Ingat 2 bulan yang lalu saat adiknya menangis karena ia lupa membelikannya permen. Aku sampai lupa kalau 5 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
Sampailah aku di sekolah. Bosan tanpa kehadirannya, orang-orang di kelas mulai berbisik sambil sesekali terdengar namaku disebut. Dasar penggosip. Belajar juga rasanya aku tidak konsentrasi, padahal hari ini bagian sensei Taka yang mengajar. Biasanya aku semangat, namun untuk kali ini rasanya, ahh sudahlah !
Bell istirahat berbunyi. Aku mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku karya Hiraku Murakami yang aku pinjam selama 1 bulan. Uang saku terpaksa aku gunakan untuk membayar denda karena melewati batas tanggal peminjaman.
“Hey Jun?”
Seseorang memanggilku, ternyata Toru.
“Mau kemana, kau sudah makan belum? Oh iyah jangan lupa nanti malam kita datang ke café di distrik 9.”
“Hah, untuk apa kau datang ke café disana? Bukankah di dekat-dekat sekolah kita juga ada café yang tidak kalah enak tempat dan makananya?”
“Aduh Jun, kau ini. Apa kau lupa kalau hari ini Hana berulang tahun yang ke-17?”
Aku hanya diam dan melangkahkan kakiku menuju taman belakang sekolah.
“Hey Jun, oisssh. BAKA !”
Di taman belakang aku selalu menghabiskan waktu bersamanya ketika jam istirahat atau saat ada waktu luang. Entah itu kami membaca buku, belajar, mengerjakan PR, dan memakan bento yang ia bawa. Ia sangat pandai memasak dan sangatlah enak masakan buatannya, aku merindukan Onigiri dan sushi yang ia buat. Atau disaat-saat sedang musim semi seperti ini, kami lebih senang berbaring diatas rumput, memejamkan mata sambil mendengarkan suara angin yang berhembus hingga salah satu dari kami tertidur.
Dialah Ayumi yang ceria, dialah Ayumi yang periang, dialah Ayumi yang selalu ada disaat seseorang sedang bersedih, dialah Ayumi yang menyukai bulan April, bunga Sakura, dan bunga mawar. Taman belakang sekolah yang dimana tumbuh pohon sakura Somei Yoshino yang menjadi saksi bisu dimana kami menghabiskan waktu bersama. Dari hal yang normal hingga ia menunjukkan kegilaannya, menghabiskan susu kotak berisi 1 liter dan ia habiskan hanya dalam waktu 1,5 menit dan jika itu berhasil akan ia tulis di buku hariannya. Pernah juga gagal, dimana susu yang sedang ia tenggak membuatnya tidak kuat yang akhirnya susu keluar dari lubang hidungnya, ia terbatuk-batuk sampai matanya berair.
Tadi aku bilang bahwa Ayumi sangat suka bunga sakura dan bunga mawar. Menurutnya bunga mawar adalah bunga yang melambangkan cinta. Cinta itu banyak mengandung arti. Dan cinta membuat setiap manusia menjadi seorang yang puitis dan humanis dadakan. Ayumi pernah berkata bahwa cinta merupakan sesuatu yang tidak berbentuk, misterius, dan penuh tanda tanya. Namun semua orang merasa berbunga-bunga karena kehadirannya. Karena hidup hanya sekali, maka lakukanlah setiap aktivitasmu dengan rasa cinta, dengan rasa memiliki, dengan kasih sayang.
Dengan begitu kamu akan terus tetap merasa bahagia dan bersyukur bahwa hari ini kau telah menumbuhkan salah satu benih anugerah yang Tuhan berikan di hidupmu yaitu cinta. Kemudian bulan April. Di bulan ini bunga sakura mulai bermekaran. Karena dibulan inilah saatnya masuk musim semi dan segala aktivitas dimulai. Menurutnya, bunga sakura itu sangatlah membuat hatimu selalu bersemangat. Bunga sakura seolah-olah menemani dan memberikanmu semangat. Aku suka isi kepalanya yang penuh dengan fantasi.
Hah, fantasi !
Jam menunjukkan pukul 2 siang yang artinya jam belajar di sekolah telah usai. Aku menyempatkan diri ke makam Ayumi. Beruntunglah bunga yang tadi aku bawa sedari pagi tidak layu karena aku menaruhnya di kantung berisi air segar. Sesampainya di pemakaman, aku bersihkan makamnya dari dedaunan yang berserakkan. Ada beberapa karangan bunga di nisannya, masih segar dan nampak baru di beli. Mungkin dari kerabat atau keluarganya. Aku sisipkan mawar merah di tengah-tengah karangan bunga yang layu.
“Sudahlah Jun, kau harus rela melepaskannya. Dia sudah tenang di alam sana, ayo.”
“Tapi Hana..”
Hana menggenggam erat tanganku sambil tersenyum. Aku menarik tubuh Hana dan memeluknya.
“Kau pasti bisa melewati ini semua, kau masih punya aku, Toru, dan yang terpenting adalah ibu dan ayahmu. Cinta bukan membuatmu lemah, namun kehadirannya membuatmu makin kuat.”
Aku mengangguk dan ia melepaskan pelukanku serta menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir di pipiku.
****
Ayumi, kau akan melewatkan musim semi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Begitupun dengan aku, dan aku menyesal karena terlambat mengatakannya padamu. Kau, bulan April, bunga sakura dan bunga mawar adalah hadiah dari Tuhan yang terindah. Biarkan aku menghayati setiap hembusan angin dan wanginya bunga sakura. Musim semi di tahun ini adalah sebuah pelajaran besar untukku menatap masa depan nantinya.
Terimakasih Ayumi.
Kyoto, 16 April 2016
Komentar
Posting Komentar