Petir terus menyambar, raga ini rapuh seakan ingin tumbang layaknya dahan pohon di seberang jalan sana. Aku hanya terpaku, terdiam membisu di bawah naungan payung sambil di temani derasnya hujan. Malam makin larut. Dingin mulai menusuk kulit. Aku berjalan meninggalkan tempat ini bersama kalutnya hati. Masih teringat akan dia yang pernah hadir untuk mengisi kekosongan hati ini. Berawal dari kebodohanku yang telah merasakan perasaan yang tak seharusnya aku rasakan, atau aku yang tidak peka akan perasaannya.
Takdir. Kombinasi dari 1 kejadian dengan kejadian yang lain hingga terjadi sesuatu diluar keinginan. Semata-mata yang akhirnya membuat aku sadar bahwa tiada satu manusia yang sempurna. Bagaimana dengan cinta? Aku mengingat sebuah novel yang sering aku baca karangan Ginger Elyse Shelley. Berceritakan tentang skandal besar percintaan yang dialami oleh Kimberley Tuddles dan Matteus Macgregor dimana mereka sangat berbeda kasta. Matthew yang berstatus bangsawan inggris di zaman Victoria tahun 1800-an, dan Kimberley yang hanya seorang pelayan istana.
Di dalam cerita tersebut terdapat kalimat yang mengatakan “seandainya kebersamaan itu selamanya”, maka ceritaku juga demikian. Berandai-andai dan terus berandai-andai akan kebersamaan dan kebahagiaan bisa selalu hadir di kehidupanku, namun tetap saja pasti akan ada konflik yang ikut serta bermain di dalamnya.
****
Senja di hari sabtu itu sangat indah, dedaunan yang menari-nari, menggantung di ranting pepohonan rimbun karena desiran angin membuatku merasa ingin terbang. Aku percepat kayuhan sepeda berwarna merah hati. Aku melamun sambil mengayuh sepeda. Aku mulai merasakan ada seseorang yang mengikuti, aku mulai sadar dan mempercepat kayuh sepeda. Ia sepertinya ada dibalik ilalang di sebelah kiri, tapi semakin aku mempercepat kayuhan semakin cepat juga ia mengikutiku. Tiba-tiba…
Trakkk !!
Seseorang telah melempar keranjang sepedaku dengan batu kerikil. Aku menepi sebentar. Aku turun dari sepeda, dan aku mulai menyadari bahwa aku sudah terlalu jauh bersepeda sore itu, namun tempatnya sangat indah, dibalik tumbuhan ilalang di sebelah kanan terdapat danau dimana kau bisa menyaksikan sang surya yang tenggelam. Tapi tetap saja meskipun tempat itu sangat indah, aku tetap ketakutan. Karena tempat itu memang jauh dari keramaian. Bulu kuduk di leherku tiba-tiba saja merinding….
DUAAAAAAARRRRR !!
AAAAAAAAAAAAAAA !!
“Selamat sore Maharani, sore ini kamu mau kemana?”
****
Dialah Rama, sebut saja raram, itu panggilan kesehariannya. Dia salah satu pria tampan di sekolah yang memiliki reputasi sebagai salah satu siswa teraneh. Tak ada satupun di sekolah yang mau berteman dengannya. Ia salah satu orang yang paling di hindari oleh siapapun, termasuk para guru dan kepala sekolah. Ia anak yang aneh. Ada yang bilang ia gila karena korban perceraian, ada juga yang bilang ia gila karena putus cinta, ahh entahlah. Tadi aku mengatakan bahwa Rama adalah salah satu siswa aneh di sekolah, kalian pun pasti bertanya-tanya apakah ada siswa aneh lain selain Rama? Bagaimana dengan siswi bernama Maharani Kemala? Itulah namaku, panggil saja Rani. Reputasi yang aku miliki di sekolah adalah ‘Maharani, si perempuan pendiam’ atau ‘Maharani, si wanita jenius’, jenius dalam hal apa? Aku tidak merasa begitu pintar dibanding dengan yang lain. Jika memang mereka mengatakan IQ yang aku miliki adalah 129, itu memang benar. Aku yang sejak duduk di kelas 1 SD sampai sekarang ini aku duduk di kelas 2 SMA Pertiwi Garuda, aku selalu meraih peringkat pertama di kelas, dan saat ada test IQ di sekolah dimana seluruh murid wajib mengikutinya. Sempat kesal dan ingin marah kepada guru BK (Bimbingan Konseling) di sekolah ku dimana hasil test seluruh siswa kelas 10-12 di pajang di setiap pintu kelas. Aku yang pagi hari itu dibuat gempar satu sekolah dimana hasil test kemarin, IQ yang aku miliki adalah IQ tertinggi 1 sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa aku memiliki IQ sebesar 129. Aku bukannya merasa senang malahan merasa malu, sangat malu, bahkan kesal. Buatku tindakan yang dilakukan oleh guru BK di sekolah adalah tindakan yang amat berlebihan. Akhirnya aku jadi bulan-bulanan para senior di sekolah, mereka mengatakan aku ini orang yang sombong.
“Huuu. Dia bukan pendiam, tetapi pelit untuk berbicara. Pantas saja IQ nya tinggi, punya ilmu nggak mau dibagi.”
“Iyahh, hey bicaralah !! jangan bisanya cuma diam dan diam.”
“Hhahhaa, kuper dasar !! hidupnya cuma rumah, sekolah, perpus !!”
Hatiku terasa teriris, pedih, banyak yang menghardik, membicarakan yang tidak-tidak. Aku diam saja, tidak melawan. Tapi ada beberapa kawan yang aku kenal dan faham mengapa aku bisa memiliki IQ sebesar itu. Aku hanya bisa diam dan diam, tidak bicara apapun. Menyesal? Ya !! seharusnya aku tidak ikut test IQ itu, harusnya aku izin saja, pura-pura sakit, atau 1000 alasan lain yang aku sampaikan kepada guruku. Aku mengakui bahwa diriku termasuk murid yang aktif di kelas, aku selalu maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal-soal yang guruku berikan dan aku bisa mengerjakannya, itu juga kalau mood-ku sedang baik. Jika tidak yaa kadang kala aku salah mengerjakan, dan guruku juga bisa memakluminya. Tetapi sekali lagi, aku tidak merasa pintar, Albert Einsten pun yang memiliki IQ sebesar 160 saja tidak merasa cerdas, jenius, atau apalah itu. Ia hanya bilang “I have no special talent. I am only passionately corius.” Kecerdasan seseorang itu relative, aku sama dengan yang lainnya. Sama-sama satu menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Ahh, sudahlah !!
Semua berawal dari perpustakaan. Gara-gara aku membantunya untuk mencari buku sejarah. Ia terus bertanya “dimana letak rak untuk buku sejarah kelas 2 SMA”, aku sudah menunjuknya dengan mengatakan “Di sebelah sana, tinggal jalan lurus letak rak nya di sebelah kanan”, namun tetap saja. Ia bersikeras untuk menanyakan pertanyaan bodoh itu. Akhirnya aku antar dia ke rak buku yang di maksud. Tapi konyol, ia meminta untuk di ambilkan. Apa yang dimau orang ini? Akhirnya aku mengambil buku yang ia mau. Mungkin karena kesal, aku menyodorkan buku itu secara kasar. Sontak ia terkejut, ia mulai kesal. Akhinya ia membanting buku itu ke lantai sembari menggertak.
“Kalau tidak mau membantu ya sudah ! Tidak perlu repot-repot membantu. Arggghh. Semua orang di sekolah ini sama saja !!”
Ia berlalu meninggalkanku. Siswa yang berada di dalam perpustakaan terkejut akan keberadaan kami. Aku sampai kena omel penjaga perpustakaan dan mengusirku. Sial !! Aku berjalan menuju kelas. Namun langkahku terhenti ketika aku melewati taman sekolah. Rama, aku terpaku melihatnya. Timbul rasa bersalah atas kejadian barusan. Tapi, ahhh. Lagipula yang bersalah itu dia. Aku tidak salah apa-apa. Aku niat membantu, tapi dia.. ahhh sudahlah.
“Tidak usah mematung disitu, hey. Perempuan aneh !”
Dia berbicara, nampaknya berbicara denganku. aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Di sekitarku banyak siswa putra. Hanya aku siswi perempuan disitu.
“Ehh, punya telinga tidak? Kenapa hanya diam disitu? Kemari lah..”
Yaa. Dia berbicara dengan ku. Aku mulai risih, akhirnya aku mulai meniggalkannya. Namun dari kejauhan, ia terus berkicau.
****
“Kamu.. ngapain kamu disini?”
Ia hanya tesenyum, senyum yang menakutkan. Seperti senyum para pembunuh di film yang pernah aku tonton.
“Hey, kenapa diam?”
Aku memalingkan pandangan. Ia mengikuti arah pandanganku. Orang ini sungguh menjengkelkan. Mau apa dia?
“Aku mengikutimu karena aku ingin mengajak kau bermain. Aku ingin tahu apakah orang secerdas seperti kamu bisa diajak bermain.”
Aku mengerutkan kening. Bermain, aku seperti anak kecil yang diajaknya bermain. Aku bergegas menuju sepeda namun ia mencengkeram tanganku kuat-kuat.
“Kau tak perlu mengendarai sepedamu, biar aku yang mengendarainya. Kau duduk di belakang. Aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat indah.”
Kata-katanya sungguh memuakkan. Aku mencoba melepaskan tanganku dari cengkeramannya. Lagipula siapa yang mau mengikuti kemauannya untuk bermain? Aku ingin pulang.
“Rani, kau kasar sekali. Hey, dengar !! Aku tidak punya teman !! aku hanya ingin bermain denganmu. Sekali ini saja. Cobalah !! kau tahu reputasiku di sekolah seperti apa? Mereka menganggapku gila. Padahal aku tidak gila. Ayolah, aku mohon. Kau adalah orang cerdas di sekolah, maka dari itu aku ingin memastikan bahwa kau juga tidak menganggapku demikian. Kau pasti bisa berpikir, dengan otakmu yang cerdas bahwa aku tidak gila”.
“Kau ini bicara apa? Sudah, aku mau pulang”.
“Rani aku mohon”.
Ia memelas padaku, entah seperti terhipnotis aku malah mengiyakan ajakannya. Bodoh !! Akhirnya ia mengambil kemudi sepeda. Aku duduk di kursi belakang, di boncengnya. Ia mengayuh sepeda dengan cepat menembus kencangnya hembusan angin sampai rambutku berantakan.
“Ramaaa, pelan-pelan bawanya. Bisa nggak, sih?”
“Sudah kamu diam saja, pegangan kuat-kuat.”
Lagi-lagi aku menuruti kemauannya. Ia semakin cepat mengayuh sepeda yang entah kita akan bermain di tempat yang seperti apa, dan akhirnya kita tiba di suatu tempat yang memang cukup jauh dari tempat tadi.
“Kita sampai.”
Sekilas, tempat ini sungguh indah. Aku belum pernah kemari sebelumnya. Matahari mulai terbenam. Tanganku di tariknya, kami berjalan menuju dermaga. Anehnya, semakin lama tempatnya nampak aneh, seram. Apa dia mengajakku untuk uji nyali? Rasanya aku ingin berteriak meminta tolong, namun tempat ini sangat sepi. Tak nampak ada tanda-tanda kehidupan manusia disini, kecuali tanaman ilalang di sekitarnya.
“Ini tempat apa? Aku mau pulang. Matahari akan terbenam. Aku mau pulang.”
“Kau mau bermain tidak?”
“Hey, aku mau pulang. Besok saja kita bermainnya.”
Aku berlari secepat yang aku bisa. Naas, aku tetap tertangkap olehnya. Ia membopong tubuhku dan membawa ku kembali ke dermaga.
“Lepaskan, kamu gila !”
Akhirnya aku di turunkan juga, aku memasang wajah marah. namun ia hanya tersenyum. lelaki aneh !!
“Ayo kita bermain.”
“Kamu gila !! aku mau pulang.”
“Ssssttttt…. Tadi kamu sudah setuju untuk ikut bermain denganku. Pejamkan matamu.”
“Tapi…”
“Kalau kamu tidak mau, aku lempar kamu ke danau !!”
Aku mulai ketakutan. Orang ini kasar. Aku menurut, aku memejamkan kedua mataku.
****
Hujan diluar masih deras. Aku mencoba untuk relax dengan merendam kaki dengan air hangat yang telah di campur dengan sedikit garam. Pegal-pegal di kaki sedikit hilang. Aku meraih tas kecil merah milikku dan merogoh isinya. Aku hanya ingin mengambil handphone, namun yang aku ambil malah sebuah album foto berdesain batik dengan warna merah. Sial, aku membuka album foto ku, terismpan banyak kenanganku bersamanya. Dada ini sesak, aku menghela nafas dan air mata ini mulai menitik. Reflex aku melempar album foto itu ke dinding, menangis sekencang-kencangnya sambil di temani derasnya hujan dan petir yang terus menggelegar.
****
“Simpan mawar yang ku beri,
mungkin wanginya mengilhami,
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu,
Sebelum kau ludahi aku,
Sebelum kau robek hatiku”
-Dewa 19, Risalah Hati-
“Kamu nggak usah nyanyi. Suara kamu memang aku akui bagus, tapi.. Aku mau pulang, Rama..”
Dia masih terus menyanyikan lagu yang sama, aku terkejut tiba-tiba dia menutup kedua mataku yang sudah terpejam ini dengan sehelai kain, hampir menutup kedua lubang hidung sehingga aku sulit bernapas.
“Hey, rama lepasin, aku nggak ngerti mau kamu apa tapi ini sudah keterlaluan, ram. Aku bakal teriak !!”
‘Teriak saja hey, tidak akan ada yang mau mendengarmu. Kau lupa tempat ini jauh dari keramaian. Tempat ini berjarak 13 KM dari keramaian. Maka teruslah berteriak. Hahahah !!”
Mendengar perkataannya aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak, akan tetapi ia malah mengikat kedua tanganku dengan sehelai kain yang lain, permukaan kain itu sangat kasar. Aku mencoba melawan, namun tenaganya lebih kuat dibandingkan tenagaku. Aku terus menjerit meminta tolong, aku hanya bisa pasrah. Pikiranku melayang tak tentu arah, mati akibat seseorang yang tidak aku kenal. Namun aku tidak mau mati konyol seperti ini. Mati dibunuh oleh psikopat yang baru aku kenal.
“Hey, teruslah berteriak !! aku suka teriakanmu. Kedengarannya seperti anak kucing yang lehernya terjepit jendela. Hahaah”.
Aku merasakan ia memegang kakiku, aku merasa sepatu yang aku kenakan ia lepas, namun tidak. Ia hanya mengambil talinya saja. Kemudian talinya ia gunakan untuk mengikat rambutku yang tergerai panjang. Aku benar-benar pasrah, badan ini terasa panas, keringat dingin di wajah mulai menitik, kain penutup mata mulai basah karena air mataku. Seketika hening, tak ada suara ia bernyanyi. Tidak ada, sama sekali. Hening, sunyi, hanya riak air danau yang terdengar, suara jangkrik yang menggelitik, angin yang ikut serta menggoyangkan tumbuhan ilalang sehingga menimbulkan suara khasnya. Rama, kemana dia? Dia menginggalkanku? Sial !! Tangisku makin menjadi-jadi, aku bersimpuh di dermaga itu, memanggil nama ibu dan ayahku, serta Rama. Layaknya di film-film aku menangis, menjerit ketakutan karena sendirian.
“Buka dong penutup matanya..”
“Bagaimana bisa? Kau bodoh !! Tanganku telah kau ikat, aku mana bisa membukanya? Bodoh !!”
Tiba-tiba saja kain yang barusan mengikat pergelangan tanganku telah lepas, sesegera mungkin aku membuka penutup mata namun lagi-lagi ia tahan.
“Eiitsss, tunggu dulu.. jangan dulu kamu buka, rani.”
“Rama !! mau kamu apa?”
Ucapku sambil terisak karena tangis.
“Hahhaha, kamu lucu. Kamu kira ini lagi shooting film, pakai adegan nangis segala?”
Aku tak bisa lagi bicara, aku hanya bisa menangis. Pikiranku campur aduk, kesal, takut, jantung memompa aliran darah begitu cepat. Ia berbisik memerintahku untuk membuka kedua mataku dalam hitungan ketiga.
“1… 2… 3… buka mata kamu, ran.”
Aku membuka perlahan mataku, dan… Tuhan, apa yang Rama lakukan padaku? Air mata ini terhenti, berubah menjadi senyuman. Semburat warna langit menjadi indah. Rama, apa yang kau lakukan padaku? Apakah ini fantasi saja? Rama, kau membuat hatiku melayang, air mata ini terhenti. Senyumku terkembang. Ia melangkah mendekatiku, berdiri di sampingku sambil terenyum, aku membalas senyumannya. Kemudian ia memelukku erat. Sangat erat.
****
“Kita begitu berbeda dalam semua hal, kecuali dalam cinta….”
Begitu yang ia ucapkan saat aku sedang mengerjakan PR yang Pak Thamrin berikan siang tadi. Ia datang dan mendekatiku sembari membawa dua botol air mineral. Aku mengerutkan kening dan menyunggingkan senyum.
“Kerjain dulu, tuh. Senyam senyum terus, sok manis betul.”
Aku tertawa pelan dan lanjut mengerjakan soal-soal yang tertera di buku. Ia berencana untuk mengajakku ke suatu tempat dan akan ada kejutan di komunitas. Entah akhir-akhir ini aku selalu diajak kemanapun ia ingin pergi. Lebih sering untuk hunting dan mendaki gunung, ia memiliki hobi yang sama denganku ternyata. Fotografi dan pecinta film fiksi. Kalau ia merasa jenuh kadang kala jalan-jalan ke mall hanya untuk menonton, atau makan. Seminggu yang lalu ia mengajakku untuk hiking. Ia mengikuti komunitas pecinta alam ternyata, aku diajaknya untuk mendaki gunung Lawu.
Entah mengapa aku jadi keseringan ingin naik gunung dan memiliki banyak kawan diluar sekolah. Buah bibir di sekolah makin menjadi-jadi saat aku dan Rama sedang makan pada jam istirahat di kantin. Mereka mengatakan aku dan Rama berpacaran, saat jam pulang sekolah aku selalu pulang bersama Rama, atau saat hang-out tidak sengaja berpapasan dengan beberapa siswa yang satu sekolah dengan kami. Tak hanya itu, beberapa teman 1 komunitas mengatakan hal yang sama, ahh.. aku dan Rama tidak begitu menanggapinya.
“Hey, nanti sehabis maghrib ada pertemuan komunitas. Mendingan ngerjain PR nya nanti aja. Aku bantuin.”
Aku mengerutkann kening.
“Emang kamu bisa?”
“Bisa, zaman sudah canggih. Tinggal searching aja di internet apa susahnya? Manfaatkan fasilitas yang ada. Beresin bukunya, kamu pulang sekarang, prepare, nanti aku jemput, kita berangkat bareng.”
“Ahahhaha, kamu nih. Aku udah tahu kok mau ada kumpulan, nggak usah di ulang lagi.”
“Ya sudah makanya ayo. Sudah mau sore ini, nanti nggak sempat. Belum nanti terjebak macet dijalan.”
“Memang kumpulnya dimana? Taman Suropati, kan?”
“Iyah, tapi…”
“Tapi kenapa? Dekat sama rumah aku, kok. Cuma 15 menit, nggak akan macet.”
Ia memutar bola matanya dan menarik lenganku untuk segera bangun dan bergegas. Beberapa pasang mata di tempat parkir menatap kami, Rama dan Rani. Orang-orang menaruh pikiran kalau aku memiliki hubungan khusus dengannya. Rama merogoh saku celananya, mengambil kunci motor dan mulai menstarter. Diperjalanan ia terus mengoceh tentang komunitas Lidi Rimba, bertanya padaku apakah aku suka naik gunung, mengunjungi air terjun, snorkeling, atau masuk ke goa. Menceritakan juga pengalaman-pengalamannya di komunitas Lidi Rimba.
Sesampainya aku dirumah, ia bilang padaku agar berangkat duluan jika sudah jam 5 ia belum datang menjemputnya. Nanti bertemu di lokasi. Aku mengiyakan sarannya, dan ia berlalu dengan maticnya. Aku segera menyelesaikan PR dengan sisa waktu yang hanya 2 jam. Segera aku bergegas ke kamar dan langsung mengerjakan kembali PR. 15 soal tugas Biologi telah aku lalap dan mempelajari beberapa soal latihan di chapter berikutnya. Mengikuti komunitas Lidi Rimba sejujurnya membuat waktu belajarku tersita, namun dibalik itu semua aku tidak lagi menjadi orang yang kuper. Aku jadi lebih banyak mengetahui bentuk-bentuk keaneka ragaman hayati seperti yang aku pelajari secara nyata saat aku hiking bersama rama dan kawan-kawan dari komunitas. Banyak ilmu yang aku dapat dari Lidi Rimba tentang arti kebersamaan. Lidi Rimba seolah-olah menjadi rumah ketiga bagiku setelah rumah orang tua tempat aku berteduh dan tinggal, serta sekolah dimana aku menuntut ilmu bersama teman-teman. Guru sebagai orang tua kedua, dan kak Fadhil yang sudah aku anggap sebagai kakak kandung. Mengingat bahwa aku juga anak tunggal, nyamannya memiliki senior seperti kak Fadhil.
Jam telah menunjukkan angka 4 tepat. Aku segera mandi, dan solat ashar. Ingat juga bahwa aku belum makan siang, akhirnya aku berinisiatif untuk membeli nasi di warteg dekat rumah dan membungkusnya untuk makan di rumah saja. Sebungkus nasi dengan lauk sambal goreng ati ampela, tumis jamur, dan sayur bayam. Dengan lahap segera mungkin aku habiskan. Setelah selesau langsung aku raih ransel hitam di kursi makan dan menunggu kedatangan Rama di beranda rumah sambil beberapa kali aku coba menelponnya. Tak sekalipun ia angkat. Jarum jam juga telah melewati angka 5, artinya aku berangkat saja duluan.
Sesampainya di Taman Suropati, sudah banyak yang berkumpul dari komunitas Lidi Rimba. Tua, muda, anak-anak banyak yang berkumpul. Aku belum melihat rama, belum kelihatan juga batang hidungnya.
“Akhirnya nona datang juga.”
Ucap seseorang dari belakang.
“Rama !!! ishhh, kamu nih aku tunggu dari rumah.”
“Maaf-maaf aku berangkat duluan tadi. Hehehhe.”
Ucapnya sambil menyisir kebelakang poni belah duanya dengan jari tangan.
“Jadi? Kalau tahu begitu aku nggak usah nungguin kamu.”
“Hahahah, kamu ngambek? Marah? nggak suka? Ya udah !!”
Aku memasang muka kesal pada Rama. Lagipula jika ia memberitahu ingin berangkat duluan, aku bisa berangkat sendiri. Acara dimulai setelah solat maghrib berjama’ah. Disusul dengan acara pembukaan dan sambutan dari kak Fadhil selaku ketua komunitas, dan ditutup dengan halal bi halal serta hiburan acoustic dari band Walking Time selaku guest star.
“Non, selamat bergabung di Lidi Rimba.”
Ucap kak Fadhil sambil tersenyum menjabat tanganku, kami mengobrol panjang lebar, bertanya akan kegemaran, bercanda, dan saling bertanya kesibukan masing-masing diluar Lidi Rimba. Aku sempat bertanya padanya tentang Rama. Seperti apa orangnya di komunitas ini, apakah termasuk orang yang aktif atau pasif, ia menjelaskan dengan tatapan mata yang amat serius. Aku bisa membacanya. Ia mengatakan bahwa otak dari terbentuknya komunitas ini berawal dari Rama. Rama? Kak Fadhil bilang kalau Rama sebenarnya anak yang jenius setara Einstein. Namun karena suatu insiden, dia jadi orang yang sangat lusuh di komunitas. Dia yang awalnya semangat membentuk komunitas ini menjadi menjadi anak yang memiliki setengah nyawa. Seperti zombie saja.
Aku kaget awalnya, namun kak Fadhil meyakinkan itu serius, dan bukan omong kosong belaka. Akan tetapi aku tahu betul reputasinya di sekolah seperti apa, itupun hanya mengetahui dari mulut ke mulut. Aku belum menyaksikannya langsung karena memang berbeda jurusan. Aku dari IPA dan dia kelas Bahasa.
“Iyah, Rani. Kamu memang belum mengetahui Rama sepenuhnya, karena memang awalnya Rama tidak seperti sekarang. Kamu ingat waktu 2 minggu lalu kita ke Lawu? Dia yang mengajak dan bilang kalau ia punya ide brilliant untuk mengajak warga sekitar kaki gunung lawu untuk menjaga kelestarian alam, terus yang biasanya kita kalau naik gunung tuh cuma naik-naik doang, sekarang enggak. Kemarin kita pada bawa karung bekas, kan?
Gue kira itu buat apaan, ternyata buat ambil sampah di gunung. Nggak Cuma itu. 3 hari yang lalu juga kita bersosialisasi tentang komunitas kita ke sekolah-sekolah SMA-Sederajat, hari ini juga gue sengaja kumpulin kalian buat silaturahmi dengan anggota baru, dan lo lihat sendiri banyak yang mendaftar untuk bergabung bersama komunitas kita.”
Ucap kak Fadhil dengan serius, ia pun melanjutkan pembicaraan.
“Komunitas Lidi Rimba ini sudah terbentuk selama 4 tahun, otak dari nama Lidi Rimba itu sebenarnya juga dari Rama. Selama gue menjabat sebagai ketua, gue mengakui banyak sekali kekurangan. Tidak mau menampung aspirasi para anggota, struktur organisasinya juga berantakan, jobdesc tiap divisi juga nggak jelas. Rama juga bertingkah masa bodo seolah-olah mengikuti komunitas ini hanya ikut naik gunung, selepas itu sudah. Mau ada kemajuan atau tidak disini, ya terserah. Mau komunitas ini bubar juga terserah.
Tapi jujur, gue kaget setengah mati itu anak bisa-bisanya semalam telpon gue, kita mengobrol banyak selama 2 jam dan itu gue mau nangis sebetulnya. Selama ini dia orangnya pendiam, yang tadi barusan gue bilang sama lo. Dia masa bodo, apatis, dingin, entah kenapa waktu semalam dia punya semangat luar biasa untuk membuat komunitas ini dikenal banyak orang. Dia mau komunitas ini nggak hanya untuk naik gunung, trip, atau kegiatan pecinta alam juga, dia mau kita juga ada kegiatan sosial. Kurang ajar itu anak otaknya !! hahahha !!”
Aku hanya bisa diam dan mengangguk faham. Anak seperti Rama? Aku ingin kembali bertanya, apa insiden yang membuat Rama begitu berubah. Namun belum sempat kak Fadhil menjawab, Rama datang dengan 2 anggota baru lain.
“Ehh, berdua aja. Lagi pada ngomongin gue? Nih, gue bawain personel baru kita. Mereka berdua dari Ciputat. Kuliah di UNPAM”
Aku tersenyum pada Rama dan kedua anggota baru itu. Rama nampaknya kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya. Kak fadhil mengejeknya dengan menyuruh Rama untuk keramas. Kak Fadhil juga yang mengatakan padaku salah satu rahasia Rama kalau ia jarang keramas, dan sebutan raram itu sebetulnya akronim dari Rama jarang keRamas, disingkat RaRam, menjadi panggilan untuk Rama agar lebih terkenal dengan rambutnya yang berponi depan belah dua serta rambutnya yang jarang ia keramas. Aku terkikik geli mendengar penjelasan dari kak Fadhil saat perkumpulan komunitas Lidi Rimba saat itu.
“Ehh kalian semua pada nggak lapar? Makan, yuk?“
Ucap kak Fadhil sambil menarik tanganku. Aku dan kak Fadhil berjalan menuju tempat barbeque yang di kerumuni oleh para anggota lain, disusul Rama dan yang lainnya. Malam itu kami para anggota komunitas menikmati malam yang amat sangat menyenangkan. Baru kali ini aku merasakan atmosfer kebersamaan. Seolah-olah beban di pundak ini hilang begitu saja. Rama, ia juga menghibur para anggota dengan stand up comedy-nya. Kami tertawa riang dengan rama yang open mic malam itu.
Waktu juga telah menunjukkan pukul 10.00 malam, acara telah selesai. Tak lupa pula kami beres-beres dan membersihkan sekitar area Taman Suropati. Satu persatu dari kami pun pulang ke rumah masing-masing. Nampak tinggal 3 orang yang ada di Taman. Aku, Kak Fadhil, dan Rama.
****
Bila cinta tak mampu menyatukan
Bila memang tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu…
-Izinkan Aku Menyayangimu, Iwan Fals-
Makin malam, hujan makin deras. Aku meraih Teddy Bear pemberiannya, terekam suaranya yang sendu. Lagu yang ia lantunkan khusus untukku, dan ucapan selamat tidur. Aku menangis sejadi-jadinya, terucap kalimat “Aku membencimu” tapi tak bisa aku lakukan. Bodoh !! aku menjadi orang yang sangat bodoh !! malam ini aku benar-benar menjadi orang paling bodoh. Aku terus menangisi orang yang benar-benar pergi meninggalkanku.
****
-Puncak, Bogor-
@10.00 AM
“Nanti mau kemana lagi, nih habis ini?”
Ucapku sambil terus memotret panorama di area kebun teh. Tapi Rama terus saja menggulung-gulung dan mie cup yang masih dalam keadaan panas.
“Ehh, ditanya malah tiup-tiup mie mulu !!”
Aku melemparnya dengan ranting kecil pohon teh, ia sontak melototi ku dan lanjut makan.
“Ihh orang nanya, bener-bener deh nih orang !!”
Dia tidak menghiraukanku. Ia terus saja makan, aku mendatanginya dan menarik kumis tipisnya. Ia merintih kesakitan, ahhaah. Aku suka melihat ekspresinya saat kumis tipisnya ditarik.
“Ehh jangan narik kumis juga, ran. Asset berharga, nih.”
“Hah? Asset?”
“Iyah asset, kalau cowok biasanya pakai susuk atau enggak di pelet biar cewek yang dia suka bisa cinta mati, aku sih enggak. Cukup pakai kumis aja, ini kan pemanis hehehe.”
Aku tertawa di temani Rama di hari sabtu yang cerah itu. Kami berencana untuk hunting yang kemudian hasil jepretanku akan Rama posting ke blog website Lidi Rimba. Lewat website inilah banyak yang membuat komunitas kami banyak dikenal oleh para netizen. Aku baru menyadari bahwa Rama telah mengajariku banyak hal. Banyak orang salah menilai tentang Rama bahwa ia orang yang aneh. Mereka semua salah besar, mereka belum mengenal siapa sebenarnya Rama. Sekali lagi, aku pun baru kali ini merasakan bahagianya memiliki teman. Aku memang kuper selama ini. Maaf Rama, aku telah salah menilaimu.
“Rama..”
“Hmm, apa?”
“Aku mau nanya, deh.”
“Mau nanya? Aku mau jawab, ran. Hehee”
“Ihh serius.”
“Serius? Aku duarius, tigarius deh. Ehh jangan, limarius aja. Ehh jangan.. se..”
“Eitssss…. Udah. Rama !!”
Ia tertawa lepas. Aku senang melihatnya, meskipun terkadang ia sedikit menyebalkan.
“Rani mau nanya.”
“Iyah nanya apaan, ihh dari tadi ngomongnya mau nanya mulu tapi nggak nanya-nanya. Lama !!”
Aku cemberut, memalingkan wajah dan beranjak dari tempat duduk.
“Ngambek, marah, sebel, ngamuk? Mau pulang? Pulang sana !! Nggak aku antar pulang.”
Aku diam saja, dan akhirnya ia yang luluh sendiri. Hahahaha.. dasar Rama.
“Iyah, iyah nanya apaan Ranii?”
“Aku mau nanya, kamu kan di sekolah reputasinya dipandang jelek sama orang. Kamu risih nggak sih?”
“Risih ya risih sebenarnya. Lagian mereka tuh sok tahu. Nggak tahu seorang Ramadhan Akbar itu seperti apa. Kecuali Maharani Kemala yang kata IQ nya 129 tuh. Dia tahu siapa Ramadhan Akbar. Asik kan orangnya? Yaa rada nyebelin sih dikit. Tapi ya namanya pemikiran orang mau di kata apalagi? Karena setiap orang berbeda pandangan pikirannya. Ya nggak usah terlalu di pikirkan. Biarin aja mereka mau bilang apa, yang penting aku nggak ganggu kehidupan mereka.”
Aku terkekeh mendengar celotehnya.
“Hahaha, bisa aja. Ehh tapi serius, loh. Ini pertanyaan yang wajib kamu jawab. Kamu pernah nggak jatuh cinta?”
Ia berhenti mengunyah mie cup, memandang lurus kedepan kebun teh nan hijau, dan menggeleng kepalanya.
“Bohong kamu, ram?”
“Jatuh cinta enggak, tapi terlatih patah hati pernah. Sempat ingin memiliki tanpa sempat termiliki. Yaa hadapi aja getirnya, mau apalagi?”
“Maksudnya? Tunggu dulu, kamu bilang ‘Sempat ingin memiliki tanpa sempat termiliki’. Berarti sebelumnya juga ada perasaan cinta sama dengan seseorang?”
“Yaa begitulah. Tapi, yang pasti aku harus move on dari dia.”
“Harus, dong. Life must goes on, Rama.”
“Iyah, tapi aku juga mau nanya sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Waktu grand opening komunitas di Taman Suropati kamu sama kak Fadhil kan ngobrol, ngobrol apaan kalau boleh tahu?”
“Ohh, itu. Yaa kita sharing aja. Tanya-tanya hobi, yaa gitu deh. Dia juga tanya-tanya tentang aku kesibukannya apa aja diluar Lidi Rimba, begitupun sebaliknya.”
“Terus? Nanya apa lagi?
“Aku juga nanya juga sih sesuatu hal sama dia.”
“Nanya apaan?”
Aku meliriknya sambil mencubit pelan pipinya.
“Kepo ! Ehh tapi aku juga mau tanya 1 hal lagi.”
Rama tiba-tiba menoleh, memandangku sinis.
“Hidup kamu tuh kebanyakan pertanyaan tahu nggak?”
Aku mencubit pipinya kuat-kuat hingga ia meringis kesakitan.
“Aaaammpun, ammpun… galak amat ?!”
“Lagian orang nanya serius !!”
“Iyah nanya apaan?”
“Kenapa nama komunitas pecinta alamnya Lidi Rimba?”
“Jawab sekarang, nih? Ya udah, di jawab nih. Kita hidup di alam, ada yang menciptakan. Kalau kita rawat dengan baik yaa alam nggak akan nyakitin kita, begitupun dengan pencipta-Nya. Sebaliknya, kalau kita nggak rawat, nggak ramah, ya otomatis alam juga akan menunjukkan sikap tidak hormatnya. Maha Pencipta juga akan murka. Ibaratnya tuh kamu harus berterimakasih dan banyak bersyukur. Karena dengan itu semua kita bisa hidup.
Lidi Rimba. Pasti tahu dong lidi itu seperti apa bentuknya, teksturnya? Maunya tuh komunitas kita seperti lidi. Kuat jika bersama, kita yang memiliki satu hobi cinta dengan alam harus bersatu menjaga alam kita. Kalau Cuma 1 orang yang merawat alam, pasti akan rapuh. Kalau bersama-sama, pasti kuat nggak akan patah. Coba aja kamu ambil satu batang lidi, trus bengkokin. Pasti patah, trus ambil sapu lidi yang jumlah lidinya tuh lebih dari satu. Jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan ribuan, terus patahin. Bisa?”
Aku menggeleng dan terus menghayati setiap ucapannya.
“Nggak akan bisa. Karena bersatu. Kita kuat kalau bersatu. Jadikan komunitas ini nggak hanya ajang kumpul-kumpul orang hobi naik gunung. Anggaplah komunitas ini keluarga kita juga. Dimana kita sering silaturahmi antar anggota, sharing tentang pengalaman mereka mengunjungi berbagai tempat wisata alam di seluruh Indonesia. Itulah alasan kenapa aku beri nama komunitas ini Lidi Rimba. Kumpulan orang yang kuat bersatu padu menjaga dan melestarikan alam sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas ciptaan-Nya. Jadi ada sentuhan rohani juga di komunitas ini. Selalu bersyukur, kompak, itu kuncinya.”
Aku hanya membisu mendengar ucapannya. Entah kenapa terlintas di pikiranku kalau Rama adalah orang yang memiliki tekad luar biasa. Siswa di sekolah dan para guru memandang sebelah mata akan sosok Rama. Ingin rasanya aku maju ke podium saat upacara bendera, berteriak bahwa yang mereka lakukan terhadap Rama saat ini adalah salah. Rama tidak gila, ia orang jenius. Seharusnya mereka mengenali terlebih dahulu siapa Rama. Setidaknya mengobrol sedikit tentang keseharian Rama diluar sekolah.
“Oh iyah, kamu nggak nanya soal pasangan ke kak Fadhil?”
Kami saling berpandangan dan saling melempar senyum. Langit cerah kini mulai berubah menjadi awan mendung. Gemuruh petir mulai terdengar, untung kami berdua memakai pakaian tebal hari itu karena memang sebelum berangkat kami membaca info cuaca Bogor hari ini.
“Ciee yang hujan-hujanan berduaan, pas di bawah naungan gazebo. Untung aku ngasih tahu kamu buat pakai baju tebal.”
Ucap Rama sambil mencubit pelan pipiku. Aku hanya tersenyum padanya, ia juga tersenyum padaku.
“Ran..”
“Hmmm?”
Cup… Ia mengecup keningku !
“Rama…?”
****
-13 November 2015, Mt. Cikuray, 2821 MDPL-
@13.00 PM
Aku dan kawan-kawan dari komunitas Lidi Rimba mendaki puncak Cikuray. 2821 MDPL aku tempuh dengan kawan-kawan komunitas Lidi Rimba. Diperjalanan aku ditemani Kak Fadhil. Sepanjang perjalanan menuju summit kami bercanda. Anggota komunitas lain yang mengikuti dari belakang mengejek kami berdua.
“Cieee kapten lagi pe-de-ka-te..”
Aku dan kak Fadhil hanya tersenyum.
“Kita kayak yang pacaran yah, Ran?’
“Hahaha, enggak lah kak. Biasa saja. Cuma ledekan doang.”
Ia hanya tersenyum dan terus berjalan. Lama kami menempuh perjalanan. Aku tak melihat Rama, kemana si poni belah dua itu? Ahhh. Aku tak memperdulikannya. Tapi aku masih terus kepikiran atas perlakuannya padaku saat di puncak. Ia mengecup keningku, aku mengelus-elus perlahan keningku.
“Kepala kamu kenapa, Ran? Kamu pusing?”
“Ahh, eng… enggak kok, enggak.”
“Serius? Kita break dulu. Guys, break !!”
Ucap kak Fadhil pada anggota lain. Ia bertanya kepada anggota apakah masih ada yang memiliki persediaan air, dan salah satu anggota memberikan sebotol air mineral pada kak fadhil, menyuruhku untuk minum.
“Kamu dehidrasi, wajah kamu pucat.”
Aku terkejut dengan ucapan kak Fadhil. Pucat? Padahal aku merasa sehat-sehat saja. Tidak pusing, tidak juga merasa kelelahan. Ia memerintahkan untuk istirahat sejenak, setelah itu melanjutkan perjalanan. 2 jam kita menempuh perjalanan dan akhirnya sampai di puncak. Seluruh anggota sangat senang karena akhirnya sampai juga di puncak Cikuray. Kak Fadhil selaku ketua komunitas sedikit memberi sambutan kepada anggota atas keselamatan dan kelancaran telah sampai di puncak gunung Cikuray. Aku dan kawan-kawan melakukan sesi foto bersama, kami semua sangat senang bisa bersama mendaki, termasuk para pendaki pemula. Sorenya sekitar pukul 16.30 aku dan kawan-kawan turun dari puncak Cikuray dan beristirahat di pondok dekat pos pertama pendakian.
Kak Fadhil datang dan duduk disebelahku. Kami lagi-lagi mengobrol, kak Fadhil ibarat ensiklopedia berjalan buatku, ia seperti tak ada habisnya memiliki topic pembahasan. Pasti ada saja yang ia bahas bersamaku, entah itu hobi, tempat wisata, film, teknik-teknik mengambil gambar untuk fotografi yang benar, ilmuwan, huffft.. mahasiswa jurusan Teknik Elektro di salah satu Universitas di Jakarta ini ternyata orang yang haus akan pengetahuan.
“Saya memang bukan mahasiswa yang berprestasi di bidang akademik. Mungkin karena saya sering dan suka naik gunung, ayah dan ibu saya saja kadang geleng-geleng kepala melihat IP saya yang tiap semester berbentuk gunung jika ditampilkan dalam bentuk kurva.”
Aku tertawa mendengar ucapan kak Fadhil yang menceritakan pengalaman tentang kuliahnya di tiap semester. Pengalaman dimana ia ditawarkan untuk menjabat sebagai ketua unit kegiatan mahasiswa (UKM) bidang pecinta alam namun ia tolak karena kecintaannya pada Lidi Rimba, dan nilai tiap mata kuliahnya yang setiap pergantian semester selalu naik turun, terkadang juga berbentuk datar saja.
“Tapi saya akan kasih tahu kamu beberapa hal supaya kamu juga bisa berpikir. Bahwa setiap orang bisa mengukir prestasi di bidangnya masing-masing. Deddy Corbuzier saja pernah mengatakan bahwa ‘Always A+ is useless’. Jadilah nilai A+ di bidang yang bisa kamu lakukan dan kamu fokus dibidang itu. Kamu juga harus mengambil risikonya, karena ini bukan dunia fantasi, dongeng, fable, atau cerita teenlit yang pernah saya baca.
Kamu harus berani mengambil keputusan dan terus jalan kedepan. Kamu masih berusia 17 tahun, sedangkan saya 24 tahun. Usia kita memang berbeda, namun pada setiap tindakan yang kita ambil disitu akan terlihat bukti nyata bahwa kamu memang benar-benar serius atau main-main di suatu bidang yang sedang kamu jalankan.”
Aku mengangguk faham akan ucapan kak Fadhil. Aku juga berterimakasih atas petuah dan nasihat yang ia berikan padaku dan juga anggota lain. Walaupun ia pernah bilang masih banyak amanat di komunitas ini yang belum terlaksana selama ia menjabat, ia masih terus berusaha untuk menjalankan amanat tersebut. Satu pertanyaanku, dimana Rama?
****
Seperti bintang ia bersinar
Temani hariku yang kelam
Seperti bintang ia menjelma
Mengusir senjaku yang sepi
Aku yang dulu padam, telah kau temukan
-Utopia, Seperti Bintang-
“Hallo, Rani.. kamu kemana habis pulang sekolah?”
“Hmmmm, nggak kemana-kemana sih. Palingan juga langsung pulang. Banyak PR nih, besok juga ulangan.”
“Ya udah, besok malam aku ke rumah kamu yah?”
“Hahh? Ngapain?”
“Pokoknya aku jemput kamu jam 7 malam, yahh. Penting !!”
Tuut… tuuutt.. tuuutt..
Kak Fadhil yang barusan menelpon, aku lanjut melahap soto ayam yang nampak di depanku.
“Siapa, ran?”
“Itu kak Fadhil. Dia bilang mau ke rumah besok malam.”
“Hmmmm..”
“Ehh, dia nelpon aku ngapain yah? Terus besok juga mau ke rumah katanya. Hehhee.”
“Girang banget? hahaha, iyah deh. Salamin ya buat dia.”
“Tapi serius, dia mau ngapain ke rumah aku? Rama, jawab dong. Kamu kan deket sama dia?”
Rama tidak merespon ucapanku, ia malah terus makan. Aku yang jadi penasaran akan kak Fadhil besok malam untuk datang ke rumahku. Bell masuk kelas berbunyi, selama jam pelajaran aku masih fokus akan materi tentang Koloid yang dijelaskan Ibu Fatma, sang guru kimia. PR, PR, dan PR. Tiada kata “merdeka dari PR” bagi Ibu Fatma. Sepulang sekolah, seperti biasa Rama mengantarku pulang. Kali ini anehnya ia melawan arah pulang ke rumahku. Ia malah mengarahkan motornya untuk pergi ke bioskop.
“Kita mau ngapain?”
“Nonton, ada film bagus banget. Aku tadi siang baru lihat trailernya, dan jangan kepo soal synopsis ceritanya.”
“Siapa yang kepo? Rama, 2 hari yang lalu baru aja nonton, masa nonton lagi? Boros banget? Aku nggak mau masuk, kita pulang saja. Lagian aku ada PR”
Ia tak menghiraukanku, malah terus berjalan. Aku ditinggalnya di lapangan parkir.
“Kok nggak jalan? Ayo.. 15 menit lagi film dimulai. Kita belum beli tiket, keburu habis nanti.”
Aku tidak menghiraukannya, aku hanya diam mematung, namun ia datang dan menarikku secara paksa. Aku sempat menepis tangannya saat ingin menggandengku, tapi ia berhasil menarik kembali tanganku dengan paksa dan kasar. Sontak aku menampar pipi kanannya, aku lakukan itu karena aku tidak suka dipaksa. Ia membanting helm nya yang digantung di kaca spion motor hingga retak, menstarter motornya dan pergi meninggalkanku.
Aku terkejut bukan kepalang. Orang-orang disekitarku menatap kejadian di siang itu, para security juga yang bertugas berdatangan menghampiriku. Aku shock hebat, emosi dari seorang Rama tak terelakkan. Dadaku sesak, kaki ini rasanya berat untuk melangkah, keringat dingin mulai bercucuran keluar dari pori-pori kulitku, wajahku pucat pasi, tanpa sadar pula aku meneteskan air mata. Seorang ibu-ibu bersama kedua anak perempuan menghampiri dan mencoba menenangkanku saat itu. Ibu-ibu itu memberiku segelas air, aku masih terisak karena tangis. Aku menampar Rama...
****
“Kamu dimana? Sudah siap?”
“Sudah. Aku di depan rumah, nih…”
Aku mengintip dari balik tirai jendela kamar, menatapnya dan terus menatapnya. Aku meraih tas dan menyelempangnya. Dresscode malam ini aku kenakan jeans, mix and match yang aku padukan t-shirt dengan kemeja, serta Nike air max yang senada dengan warna jeans. Terkesan tomboy.
“Whoaaa cantik banget kamu malam ini, non. Mau kemana kita?”
“Lah, kok tanya aku? kan kakak yang mau ajak aku jalan?”
“Hahaha, yuk naik. Ada salam special buat kamu.”
Aku mengangkat alisku dan menyunggingkan senyum. Kami berjalan menembus angin malam yang menghembus sepanjang jalan. Malam itu aku diajak ke satu taman kota. Sesampainya disana, banyak sekumpulan anak-anak muda sepantaranku.
“Yuk, turun.”
Aku turun dari motor, sedangkan ia memarkir motornya sebentar. Aku melihat sekeliling, terlalu banyak orang disini. Gerangan apa yang membuat kak Fadhil mengajakku kemari?
“Kita ngapain kesini, kak?”
“Sudah, ayo ikut.”
Ucapnya sambil menggandeng tanganku. Aku tiba-tiba tersipu malu saat ia menggandeng tanganku. Kita makan malam sebentar di salah satu tempat makan kaki lima.
“Kamu suka seafood, nggak?”
“Banget, kak,”
“Suka kepiting?”
“Hmmmm seafood yang aku hindari itu kepiting. Soalnya kalau aku makan itu jadi pusing. Hehehe.”
Ia tertawa renyah mendengar penjelasanku yang menghindari menu kepiting. Akhirnya aku memesan udang saus padang dan seporsi nasi dengan minuman jeruk hangat. Begitupun dengan kak Fadhil yang menyamai menunya denganku. Setelah dinner, ia mengajakku ke mercusuar tua yang terdapat di taman kota tersebut, sambil mengeluarkan kamera SLR nya. Ternyata pemandangan malam minggu saat itu lebih indah bila dilihat dari atas mercusuar. Warna-warni lampu taman yang mendominasi air mancur di kolam ikan, cuaca malam yang bersahabat dihiasi taburan bintang-bintang diangkasa, serta cahaya bulan yang syahdu.
“Gimana, keren pemandangannya?”
Aku menangguk takjub, baru kali ini aku diajaknya. Sempat terlintas dalam pikiranku apakah ia juga pernah mengajak anggota lainnya kemari?
“Kakak pernah ajak anggota Lidi Rimba kemari?”
“Belum, ehh foto dulu yuk.”
Ia pun mengambil beberapa gambar dari pemandangan sekitar mercusuar, ia juga mengajakku foto bersamanya. Hasil fotonya sangat bagus, aku menyukai hasil jepretannya. Selepas sesi foto-foto, ia mengobrol denganku sembari minum cappuccino.
“Kalau ngobrolnya enak, minum cappuccino nya juga harus pelan-pelan. Biar kalau waktu obrolan habis, cappuccino nya juga habis. Terus, tiup dulu soalnya panas.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, terdengar cupu namun berniat untuk menghibur. Mungkin.
“Kamu lihat bintang diatas deh, ran.”
“Kenapa sudah terlihat kok. Ada apa memangnya kak?”
“Percaya nggak sama harapan bintang jatuh?”
Aku memutar bola mata sambil terkekeh kecil. Percaya dengan harapan yang akan jadi kenyataan kalau menaruh harapan pada bintang saat jatuh. Aku tidak percaya.
“Kamu pasti punya harapan, dong?”
“Punya, banyak malah.”
“Hmmm, coba deh kamu bayangkan. Bayangkan salah satu bintang yang menggantung disana itu jatuh, dan kita cepat-cepat untuk membuat harapan.”
“Oke. Caranya bagaimana, kak?”
“Pertama, genggam tangan kakak.”
Awalnya aku tidak mau mengikuti instruksinya, ini pasti modus atau trik agar dia mengerjaiku.
“Kenapa diam? ayolah, kakak nggak akan apa-apain kamu. Percaya sama kakak.”
Akhirnya aku mengangguk dan menggenggam tangannya. Instruksi selanjutnya ia menyuruh untuk memejamkan mataku dan segera membuat harapan. Aku membuat harapan agar aku bisa bahagia dengan seseorang untuk selamanya, bisa membawaku ke tempat terindah. Namun disisi lain, sepertinya ada seseorang yang mendekatiku, makin mendekat kearah telingaku. Sepertinya ia mencoba untuk berbisik, namun kalimatnya kurang jelas.
“I love you”.
****
Kamis pagi, Jakarta di guyur hujan deras dengan anginnya yang berhembus kencang. Aku yang sedari tadi sudah siap, kini berpikir dua kali untuk berangkat ke sekolah karena cuaca yang amat tidak memungkinkan untukku bisa berangkat. Ponselku yang ternyata dari subuh terus menjerit-jerit karena ada panggilan masuk, kulihat layar ponsel ternyata kak Fadhil menelponku. Belum sempat aku ingin mengirim pesan padanya, ia kembali menelponku.
“Hallo, kak?”
“Hallo, ran. Kamu sekolah? hujan deras loh. Aku antar, yah.”
“Nggak tahu nih, hujannya deras.”
“Ya sudah, tunggu yah.”
Ia menutup telponnya. Kurang dari 10 detik, ia mengirim pesan BBM padaku.
“Aku antar kamu ke sekolah. Prepare dulu kamunya, tenang aja yah J.”
Ia berniat untuk mengantarku, sambil menunggu aku memasang handsfree ke telinga, mendengarkan satu lagu dari Endah N’ Rhesa, Wish You Were Here.
I know its hard for you to stay
And so I let you go, but you promise to never let me down
And say “I love you so..”
Sempat terlintas dipikiran ku akan Rama. Apakah ia masih kecewa denganku? Aku ingin mencoba untuk menghubunginya namun aku masih tidak berani, entah kenapa. Mungkin sikap ego yang masih mengganjal perasaanku saat ini. Semua ini salahku atau salahnya? Ia yang memaksaku untuk menonton tapi aku tidak mau, sontak saja aku waktu itu tanganku reflex menamparnya. Nampaknya ini salah keduanya, atau bisa jadi.. ahhh sudahlah. Aku tak mau terlalu memikirkannya. Tak ada lagi candaan tengah malam suntuk saat masih berhubungan dengannya, tak ada lagi orang yang bisa aku cubit sampai pipinya kesakitan.
Tiiiinnnn….. Tiiiinn…
Suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah dan seseorang juga yang keluar dari pintu mobil sambil tergesa-gesa membuka payung. Itu kak Fadhil?
“Ayo masuk cepat, nanti kamu telat.”
“Iyah, tunggu sebentar aku kunci pintu rumah dulu.”
Sesegera mungkin aku menghampirinya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kaca mobil juga mulai berembun karena suhu didalam yang dingin ditambah diluar sana hujan deras.
“Kamu kedinginan? Pakai jaket aku aja, ambil tuh di jok belakang. Kebetulan aku bawa jaket dua.”
Aku meraih jaket yang ada di jok belakang. Hmmm, jaket ini membuat suhu badanku terasa normal kembali.
“Rani, thanks yahh.”
Aku menatapnya dan tersenyum. Ia mengelus kepalaku. Gerbang sekolah sudah ditutup. Sial, aku sedari tadi tidak melihat jarum jam menunjuk angka berapa.
“Gerbangnya ditutup tuh, gimana? Masih tetap mau masuk?”
Aku cemberut, ia hanya mencubit pipiku sambil tersenyum.
“Biasa aja kali, neng. Ya udah sekarang mau kemana?”
“Nggak tahu. Bete kalau gini.”
“Bete kenapa?”
Aku menggeleng kepala dan menunduk. Sesekali aku melihat gerbang sekolah, kulihat juga ada seseorang yang baru datang. Badannya basah kuyup, namun ia tidak memperdulikannya. Ia panjat gerbang sekolah, sekilas aku lihat wajahnya, Rama. Segera aku turun dari mobil dan menyusulnya. Aku berteriak memanggil-manggil namanya, namun yang keluar malah satpam sekolah. Aku dilarang masuk, malah diusirnya. Namun si Rama itu, ahh sial ! Kak Fadhil juga ikut turun dari mobil, menarik lenganku dan masuk ke dalam mobil.
“Kamu tadi ngapain? Tuh, kamu kebasahan. Sekarang aku antar kamu pulang. Kamu bisa sakit kalau kayak gini.”
Aku tidak berani berbicara. Tadi aku melihatnya, sangat jelas. Rama, aku ingin berbicara denganmu.
“Hey, kita pulang saja. Nggak bisa aku lihat kamu basah-basahan kayak gini.”
Aku mengangguk patuh, memang dingin. Aku menggigil, tidak sampai 20 menit kami sudah tepat berada di depan rumah. Dibawanya aku kedalam. Mama menyambutku dan kak Fadhil. Aku belum bisa diajak berbicara, akhirnya kak Fadhil pulang. Tak lupa pula mama mengucapkan terimakasih padanya karena sudah mengantarku. Aku masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian, kemudian mama datang ke kamar membawa semangkuk sup dan teh manis hangat untukku. Rama, masihkah kau marah padaku?
Suara detak jarum jam masih terdengar. Mata ini sungguh berat rasanya untuk aku buka, ku raba leherku sangat panas, kepalaku juga pening. Mungkin karena tadi pagi aku kehujanan. Jam menunjukkan pukul 2 siang, nampaknya hujan di luar sana masih deras. Teringat Rama lagi, segera aku raih ponselku di meja.
“Kenapa harus lowbat, sih? Ada-ada aja !”
Sungutku kesal, aku bangun dari tempat tidur namun mama tiba-tiba saja masuk memberitahuku bahwa Rama datang menjengukku.
“Hah? Serius, ma?”
Rama langsung melambaikan tangan dari balik badan mama. Entah ini sugesti atau apa aku tidak mengerti. Rasa sakit di kepalaku langsung hilang, darimana dia tahu aku sakit?
“Tuh, dia demam. Tadi pagi nggak jadi ke sekolah, hujan-hujanan dia.”
Rama tertawa kecil mendengar penjelasan mama. Aku hanya diam, masih bingung dengan keadaan ini. Mama bilang akan pergi ke toko sebentar untuk check keadaan disana sekaligus membayar telepon rumah. Kini hanya ada aku dan Rama di rumah ini. Aku langsung kembali ke tempat tidur, menyandarkan tubuhku dan menarik selimut. Ia masih terlihat cuek denganku.
“Tahu darimana aku sakit?”
“Penting yah kamu nanya itu? Lagipula yang harusnya nanya tuh aku, kenapa kamu bisa kayak gini? Sakit nggak ada kabar, otomatis di absen alpha tadi sama guru.”
“Ya gimana mau izin? Tadi pagi hujan, aku terlambat datang ke sekolah, udah gitu..”
“Udah gitu apa? Punya handphone tuh digunakan yang benar !”
Rusuhnya terhadapku, sikapnya yang ke bapak-an keluar lagi. rambutnya yang basah kuyup meneteskan air yang membasahi bedcover kesayanganku.
“Duh, itu rambut keringin dulu kenapa? Airnya netes kemana-mana tuh.”
Rama hanya tersenyum dan malah mengacak-acak rambutnya yang basah. Cipratan airnya mengenai wajahku.
“Ihhh Raram jangan gitu, dong. Muka aku basah, nih.”
Dia tertawa keras, aku berinisiatif bangun dari tempat tidur melangkah ke lemari pakaianku untuk mengambil handuk kering.
“Ehhh buat apaan, tuh?”
Aku tidak memperdulikan pertanyaannya. Aku langsung duduk dan menggosok-gosok kepalanya dengan handuk.
“Ishhh, apaan nih? Udah sih biarin aja. Handuknya warna pink, emang gue cowok apaan?”
“Bisa diam, gak? Kamu bisa sakit gara-gara ini. buktinya aku, nih. Kurang dari 12 jam setelah hujan-hujanan tadi pagi, sekarang aku kena demam. Sudah kamu diam !”
Dia menuruti kata-kataku untuk tidak berisik. Semakin lama aku menggosok kepalanya yang basah, ia malah menatap wajahku. Ia menghentikan pergerakkan tanganku, tanganku di cengkeramnya. Kami mulai saling berpandangan satu sama lain, cukup lama.
“Rani..”
Aku menunduk dan segera bangun dari tempat tidurku. Berbasa-basi untuk menawarinya sup dan teh manis hangat untuk dia santap di waktu hujan ini. Sial, perasaan apa ini?
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, cukup bagiku hari ini bisa bertemu dengan Rama. Aku masih tidak percaya dan tidak sadar bahwa aku bisa bertemu, mengobrol, bercanda dengannya hari ini. Padahal setelah kejadian di parkiran mall waktu itu, aku berpikir dia tidak mau lagi berbicara denganku.
“Raram, sebelum kamu pulang aku mau tanya sesuatu. Boleh?”
“Tergantung, mau tanya apa dulu?”
Aku berlari kecil menghampirinya dan tersenyum.
“Nggak usah lari-lari, dan nggak usah senyum. Lagi sakit juga masih aja bisa begitu. Mau nanya apa, non?
“Mau tanya 3 hal.”
“Tunggu, 3 hal? Gue berasa jadi jin-nya Aladdin.”
“Ihhhh itu kan 3 permintaan, sedangkan gue kan 3 pertanyaan. Itu beda, tau !”
“Ya udah cepetan tanya, keburu hujan turun lagi.”
Aku tertawa karena ucapannya.
“Ehh tapi untuk sekarang 1 pertanyaan dulu aja, deh. 2 lagi nanti.”
“Bawel !” gerutunya.
“Pertanyaan pertama, kamu tahu darimana aku sakit?”
“Dari Fadhil.”
Aku mengerutkan kening. Fadhil? Waktu itu bukankah dia bilang kalau dia sedang tidak berbicara dengan Rama?
“Kok dari Fadhil? Bukannya…”
“Stop ! Jangan tanya lagi. 1 pertanyaan doang, kan? Udah yahh, gue mau pulang. Bye !”
“Ehh, nggak jadi. Sekarang aku tanya semuanya !”
Ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Kembali menghampiriku sambil tersenyum.
“Gitu, dong. Silahkan nona manis. Gerangan apa yang ingin kau tanyakan pada Romeo?”
“Hahahaha, apaan sih kamu? Aku serius, nih. Pertanyaan kedua, kenapa kamu bisa tahu kalau aku sakit dari kak Fadhil?”
“Tadi pagi aku sms dia, nanya kemana kamu nggak sekolah hari ini, terus dia jawab, dia jelasin, blaa.. blaa.. blaa, yaa gitu deh.”
Ucapnya dengan gaya yang membuatku sangat muak.
“Ok, last question.”
“Ssstt.. pertanyaan terakhir, boleh nggak aku yang tanya?”
Ia menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. Atmosfer ini, terulang setelah kejadian tadi aku mengeringkan rambutnya. Perasaan apa ini? Ia langsung meraih kedua tanganku.
“Rani.. kamu sadar, nggak? Kalau selama ini,”
Ia mulai terbata-bata dengan pertanyaannya. Aku makin tidak mengerti dengannya kali ini. Tuhan, apa yang akan terjadi?
“Rani..”
Aku membalasnya dengan tegas. Dia semakin tidak terkendali, baru kali ini aku melihatnya gugup di depanku. Biasanya tidak.
“Rani, aku.. aku, aa.. aku. Aku mencintaimu. Jadilah teman hidupku.”
Aku masih tidak percaya dengan apa yang dia katakan padaku. Apa yang harus aku jawab? Mengapa baru kali ini ia mengucapkannya? Tuhan, apa yang harus aku jawab? Langsung saja aku jawab dengan apa adanya. Maafkan aku, Rama.
“Ke… kenapa kamu baru ungkapin itu sekarang?”
“Maksudnya?”
Aku melepaskan genggaman tangannya. Sekarang aku yang mulai terbata-bata menjelaskannya.
“Aku.. aku, aku nggak bisa terima kamu. Aku udah milik orang lain, ram. Aku sama kak Fadhil sekarang, dan aku nggak bisa terima kamu.”
“Hahha, kamu pasti bercanda? Nggak, nggak mungkin !”
Ucapnya sambil memelas, raut wajahnya kecewa berat. Aku bingung harus menjelaskan apa lagi padanya.
“Rama… dengar aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya.”
Ia tidak memperdulikanku, rama langsung berjalan meninggalkanku dan semakin pula ia mempercepat langkahnya. Tubuhku yang lemas karena demam tidak bisa mengejarnya. Aku menghentikan langkahku, emosiku memuncak.
“Kamu kemana aja selama ini? Kenapa baru bilang sekarang, kamu bodoh !”
Ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku. Nampak air mata mengalir di pipinya yang tirus. Aku menyusulnya, kakiku sempat sakit saat berlari menghampirinya. Di hadapannya aku menangis sejadi-jadinya. Ia menunduk, mengalihkan pandangannya kearah lain. Dada ini sangat sesak dibuatnya. Bodoh, pria bodoh ! gerutuku dalam hati. Apa selama ini ia tidak sadar aku menyayanginya?
“Rama, aku sakit nahan ini semua. Kamu hadir disaat yang tepat. Waktu itu, kamu bawa aku ke dermaga. Kamu freak, kamu bertingkah layaknya orang bodoh ! Tapi setelah kamu terbangkan lampion-lampion itu, kamu berhasil buat aku jadi manusia paling bahagia ! lampion-lampion beterbangan degan indahnya. Warna-warni lampion kala senja di dermaga dan ilalang yang tumbuh. Entah perasaan itu langung hadir. Maafkan aku, rama. Aku juga nggak berani ungkapin ini. Aku pikir kamu akan peka, tapi nyatanya malah jadi seperti ini.”
Ia memegang pipiku, ia ingin menahan tangisnya namun gagal. Air matanya tumpah tak tertahankan. Seakan-akan ia perih menahannya.
“Kamu nggak tahu gimana sakitnya aku saat kamu sering berdua dengan Fadhil? Itu buat aku sakit. Untuk menghilangkan sakit, aku menjauh dari kamu. Tapi salah, aku makin sakit saat aku jauh dari kamu. Dan sekarang, kamu sudah jadi miliknya. Kamu nggak tahu gimana sayangnya aku sama kamu, Rani? Fadhil juga, hahahah. Dia, dia penghianat !! Arrgghhh !”
Aku menepis tangannya dari kedua pipiku.
“Itu dia masalahnya, Rama. Aku benar-benar nggak tahu. Dan kamu nggak pernah mau coba untuk nyatain ke aku. Aku bingung dengan sifat kamu. Pantas saja orang-orang bilang kamu itu freak ! Satu lagi, atas dasar apa kamu bilang dia itu penghianat?”
Wajah Rama memerah, emosinya mulai meluap. Ia berlalu meninggalkanku yang terkulai lemas. Hujan mulai turun lagi, tetesannya makin deras. Kami berseteru di bawah hujan senja itu. Rama tidak tahu lagi harus berkata apa.
“Kamu mau tahu kenapa aku bilang itu? Haha ! Rani… Rani, dia itu sahabat aku. Tapi sahabat macam apa yang menusuk sahabatnya sendiri dari belakang, hah? Jawab !”
Ucapnya menggertak ke telingaku. Emosinya makin meluap, aku bingung ingin berbicara apa lagi, yang bisa aku lakukan hanya menangis. jadi selama ini mereka bersahabat, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? aku sudah menjadi milik Fadhil.
“Maafkan aku Rama, aku benar-benar nggak tahu.”
“Maaf hahaha, dengar. Aku ibarat piring yang sudah kamu banting lalu pecah. Setelah itu kamu bilang minta maaf, apa piring itu bakalan balik lagi seperti semula?”
Aku diam sambil terisak tangis
“JAWAB RANI !”
“AKU MINTA MAAF RAMA !”
Ucapku yang tak mau kalah menggertak, ia berlari meninggalkanku. Nyala kilat juga di susul dengan suara petir yang menyambar. Aku bersimpuh di aspal yang basah, menyaksikan ia yang pergi meninggalkanku. Makin jauh ia berjalan, tubuhnya makin hilang dari penglihatan. Rama…
****
Akhir Desember, tepat di malam pergantian tahun aku berdiri di dermaga ini bersamanya. Dan teruntuk kamu yang pernah mencintaiku, aku merindukanmu. Aku berhenti menangisimu, tapi aku memohon juga padamu, jangan biarkan rindu ini menjadi perih di rongga dadaku. Akankah engkau nantinya akan kembali, atau di lain waktu mungkin? Entahlah. Dimanapun kamu berada sekarang, tolong ingatlah selalu diriku. Maafkan kesalahanku padamu.
The End…
Komentar
Posting Komentar