Hallo semua!
Selamat datang di blog Helena Vector. Hari ini gue
mau mengucapkan selamat datang bulan Oktober. Semoga di bulan ini kita menjadi
pribadi yang lebih baik lagi, makin dilancarkan rezekinya, dimudahkan urusannya,
dan mau mengucapkan selamat juga untuk teman-teman satu fakultas gue yang
tanggal 6 Oktober 2018 di wisuda. Selamat buat teman-teman dari FEB khususnya,
terus juga buat teman-teman gue dari FIKOM, FASILKOM, FIKES, Psikologi, FT,
FDIK, FKIP, Hukum, dan Fisioterapi yang tidak bisa gue sebutkan satu-satu
karena jumlahnya banyak. CONGRADUATIONS!
Oke, kali ini gue akan membahas tentang hal apa saja
yang terjadi pada diri gue di bulan September tahun 2018 ini. Tidak hanya itu,
tapi kegiatan dan hal-hal buruk apa saja yang harus gue buang jauh-jauh ketika
menginjak usia sekarang.
Berawal pada tanggal 1 September 2018, gue dapat
pesan dari salah satu teman yang kuliah di UPI Bandung, Fakultas Sastra dan
Ilmu Bahasa Indonesia namanya Bayu. Dia kirim meme via whatsapp yang gambarnya bikin gue ketawa-ketawa sendiri. Apa
itu?
Ya. Ternyata ucapan ulang tahun bagi siapa saja yang
lahir di bulan September. Padahal gue sendiri sampai merasa bodo amat kalau
bulan September adalah bulan kelahiran seorang Helena Vector a.k.a Fina
Septiani. Hanya terpikirkan gimana caranya gue memanfaatkan sisa usia yang beberapa
tahun lagi mendekati kepala tiga. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak orang
berbeda-beda cara merayakan ulang tahunnya. Ada yang mengadakan party, syukuran, dan sebagainya. Kalau
gue pribadi sebenarnya enggak terlalu mementingkan perayaan ulang tahun, yang
penting adalah doa dari kawan-kawan semua dan gue hanya bisa berterimakasih
khususnya buat mama yang sudah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan
gue sampai usia saat ini.
Ada satu hal yang baru gue ketahui dari mama bahkan
ini yang bikin gue pengen cuci kaki mama sekali lagi.
Perbedaan usia gue dan kedua kakak itu terpaut cukup
jauh. Usia gue dan kakak pertama jaraknya 11 tahun, dan dengan kakak kedua jaraknya
10 tahun. Kakak kedua lahir saat usia mama 28 tahun dan dokter kala itu
mengatakan kalau mama jangan nambah anak lagi. Mungkin dokter berkata demikian karena
alasan usia mama yang nantinya berpengaruh ke kondisi kehamilan tapi mama hanya
bilang ke dokter “Ya saya segimana Allah aja yang kasih.” Jadi ingat juga akan
cerita Papa yang kala itu pengen banget punya anak perempuan. Alhasil, butuh
waktu lama lagi memang kalau papa kepingin anak perempuan yang lahir dari rahim mama.
Gue ingat akan ayat yang tertulis di surah yasin:
28. Bisa jadi mama yang mengimani ayat tersebut akhirnya mendapat mukjizat dari
Allah. And you know what? Di usia
mama yang kala itu 38 tahun, Alhamdulillah mama bisa hamil lagi. Sembilan bulan
mengandung, dan tepat di tanggal 12 September 1996 mama melahirkan gue ke dunia
dengan selamat. Mama selamat, gue juga terlahir sehat. Akhirnya Allah berkehendak
untuk kasih kedua orang tua gue anak perempuan. Big thanks to Allah swt.
Itu pertama, yang kedua gue juga mau mengucapkan
bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk supporter bola Persija yang baru saja
meninggal dunia 7 hari yang lalu, Harlingga. Buat kalian yang membaca blog ini,
buat yang beragama Islam gue minta kalian untuk membacakan surat Al-Fatihah,
dan untuk yang non-Islam gue minta doa dari kalian juga untuk almarhum semoga
almarhun Harlingga diterima di sisi Allah swt, semoga keluarga, teman-teman,
dan semua yang di tinggalkan oleh almarhum juga diberi kesabaran dan kekuatan, Amin.
Terkait kasus kematian Harlingga, gue lebih ingin
membicarakan pengeroyokannya. Ada hal yang berhubungan dengan apa yang pernah
gue baca sewaktu SMP dulu. Buku yang gue baca waktu itu adalah tentang bahaya
narkoba dan minuman beralkohol. Yang gue ingat sampai sekarang dari buku itu
adalah jika seseorang mengkonsumsi obat-obatan terlarang, maka ada dampak yang
bisa terjadi oleh si pemakai yakni euphoria
yang berlebihan serta halusinasi. Bahkan jika meminum-minuman beralkohol juga ada
dampaknya, yakni si peminum bisa bertindak kriminal. Mengingat akan kejadian yang
menimpa almarhum Harlingga, gue sempat lihat salah satu acara televisi yang
fenomenal tentang kehidupan polisi dalam melaksanakan tugas, ya kalian juga
pasti tahu apa nama acaranya, memperlihatkan tim kepolisian Prabu Bandung menangkap
para pelaku pengeroyokan Harlingga. Salah satu dari pelaku ketahuan membawa
barang yang bisa gue sebut itu adalah Tembakau Gorilla yang beberapa waktu lalu
pernah heboh di Berita Televisi Nasional. Kalian bisa tonton sendiri di YouTube
proses penangkapan pelaku pengeroyokan almarhum Harlingga. Sungguh, butuh waktu
yang sangat lama untuk membuktikan apa yang pernah gue baca itu ada di depan
mata. Hikmah untuk gue pribadi yang bisa diambil adalah sabar. Sabar itu perlu.
Tidak hanya untuk kehidupan, tapi saat belajar di sekolah juga kita harus
sabar. Berkat kesabaran, gue bisa menikmati proses. Dan hasil dari proses
inilah yang menjadikan gue bisa bercerita. Ada nikmat kesan tersendiri kenapa
di usia 22 tahun ini Allah masih memberikan gue kesempatan menghembuskan napas.
Selain itu juga, di usia 22 tahun ini gue mengikuti
banyak kegiatan. Diantaranya adalah memperingati Hari Tani Nasional dan mendokumentasikan Workshop Jurnalistik yang dilaksanakan oleh Mading Bahana Samakta (MABASA) bersama Biem.co. Acara ini berlangsung di SMAN 2 Pandeglang dan ini sekolah gue dulu FYI. Senang sekaligus bangga akan salah satu sahabat seperjuangan gue bisa berdiri di depan adik-adik peserta workshop sebagai pembicara, yakni Resti Meidimyati atau biasa gue sapa Teteh Resti. Kita awal kenal dari Taekwondo Pandeglang, kemudian berjumpa kembali di Istana Belajar Anak Banten sebagai relawan pengajar, dan kembali bersua di Biem.co sebagai jurnalis.
foto: Pribadi
Selain acara workshop jurnalistik, gue bersama kawan-kawan dari Komunitas Suara Aksara, Perpus Jalanan, UKM Teater Universitas Mathlaul Anwar Pandeglang, Pena Hitam Pandeglang, Motor Literasi dan Banten Progress Institut memperingati Hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September 2018.
foto: Eka Prasetya
Kegiatan ini berlangsung di Alun-Alun Pandeglang dan aman. Meskipun agak kaget karena sebelum acara Aksara Suara dimulai, ada mahasiswa yang melakukan demonstrasi di depan gedung pendopo Pandeglang. Sempat ada kepulan asap hitam yang nampaknya mereka membakar sesuatu. Gue mau minta maaf karena sayangnya gue enggak melihat secara langsung dan mendokumentasikan demo tersebut. Tapi alhamdulillah acara ini berlangsung dengan lancar dan tidak ada keributan. Gue bisa mengenal teman-teman dari komunitas lain, berbagi pengalaman karena ada sesi diskusi di akhir acara, dan foto bersama sebagai dokumentasi. Agar suatu saat gue bisa menceritakan kembali momen yang terekam ruang gelap.
foto: Eka Prasetya
Sebagai penutup, gue akan berbicara tentang makna usia 22 tahun.
Buat gue semakin kita beranjak dewasa, semakin kita mengetahui makna kehidupan yang sesungguhnya. Ulang tahun bukan hanya sebagai peringatan bertambahnya usia, namun ulang tahun adalah sebuah evaluasi diri dari proses waktu dimana kita memanfaatkan waktu yang tersisa. Apa saja yang sudah kita lakukan selama satu tahun ke belakang, dan apa yang ingin kita raih kedepannya. Tentu saja banyak jalan bukan untuk meraih impian tersebut. Entah esok, lusa, atau entah nanti kita tiada lagi di muka bumi ini, apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi yang selanjutnya?
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Begitulah kata Bandaneira dalam lirik salah satu lagunya. Buat gue, ulang tahun adalah waktu dimana kita terus menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik. Agar kelak bisa menjadi sosok inspirtasi di generasi selanjutnya.
Kalau ini adalah makna ulang tahun buat gue, bagaimana makna ulang tahun bagi kalian?
_Helena Vector
Komentar
Posting Komentar