Akhir-akhir ini, setelah melakukan aktivitas seharian, sebelum tidur gue suka nonton film serial Netflix. Entah karena memang hiburan sebelum tidur, atau memang karena gue yang lagi ketagihan dengan serial film yang ditawarkan. Contohnya kayak dua hari yang lalu, gue habis iseng nonton satu film serial Netflix yang genrenya ABG banget. Drama-komedi-romantis, yang sebenarnya juga gue enggak begitu bawel sih sama genre film apapun itu selama enggak bikin gue merasa cringe. Buat kalian yang mau ajak gue nonton, silahkan genrenya apa aja kecuali Thriller! Gue pribadi lebih memilih nonton film horror ketimbang thriller. Karena film thriller itu bisa bikin gue muntah, dan enggak nafsu makan.
Di hari Kamis (14/3), gue nonton "For the All the Boys I've Loved Before," dimana film ini mengajarkan perempuan banget untuk selalu rapi sekalipun hidup lo berantakan. Karena Lara Jean, sang pemeran utama bilang di filmnya "Hidupku memang berantakan, tapi aku bisa merapikan kamarku!"
Jum'at, 15 Maret 2019. Gue mau bilang termakasih untuk semua tokoh dalam film ini, Sierra Burgess is A Loser.
Oh iya, gue baru aja pulang dari tempat ngopi milik teman. Orang biasa menyebutnya dengan warkop. Tempatnya di Kadupandak, Pandeglang. Meskipun tidak seperti tempat minum kopi kebanyakan, tapi percaya deh, tempat ini asyik buat nongkrong bareng teman. Harga juga enggak sampai nguras dompet, yang bikin gue betah berlama-lama adalah suasananya. Makan semangkuk mie instan plus minum es jeruk, teman gue yang lain minum kopi. Yang enggak bisa di beli adalah kita ngobrol banyak, bercanda, dan malam ini juga gue dapat pelajaran. Meskipun cuma sedikit, tapi sangat berkesan. Itu yang enggak bakal bisa di beli!
Ada korelasi antara kedua film yang sudah gue tonton, hangout bareng teman malam ini, dan bunga matahari.
PERTAMA: Alasan gue jatuh cinta banget sama bunga yang satu ini adalah karena ia hidup, dan tumbuh menghadap ke arah matahari terbit. Bunga ini tangguh, juga disebut sebagai lambang perdamaian. Bunga ini juga kadang dianggap aneh, namun fakta menyebutkan bahwa di tahun 1986, M Heijims di Oirschot, Belanda, menanam bunga matahari sampai tingginya mencapai 25 kaki 5 ½ inci, dan berkat tingginya bunga matahari yang tumbuh, beliau memperoleh Guinness World Record. Selain itu, banyak juga manfaat yang bisa digunakan untuk manusia. Kuwaci misalnya, bisa jadi teman ngemil disaat kita enggak ada uang buat jajan enak. Jadi, gue ingin seperti bunga matahari yang tumbuh dan besar dengan konsistensi. Meskipun pada malam hari ia akan berteman dengan dingin dan kegelapan, namun tetap percaya bahwa di hari esok akan berjumpa kembali dengan hangatnya cahaya mentari.
 |
| Gambar: Tumblr |
KEDUA: Dari film Sierra Burgess is a Loser, gue belajar tentang arti persahabatan, dan paham apa itu definisi cantik. Di film ini juga gue makin jatuh cinta dengan bunga matahari. Alasannya? Kalian bisa tonton sendiri, hehehe. Gue suka dengan Sierra yang pintar, menguasai beberapa bahasa asing, terlebih dia expert di bidang sastra. Gue suka dengan Veronica yang mau berusaha untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Gue suka dengan Dan yang sangat mau membantu sahabatnya yakni Sierra kapanpun dan dimanapun. Terakhir, Jamy. Pria yang disukai oleh Sierra secara tidak sengaja, dia tidak hanya melihat Sierra dari satu sisi sebagai wanita yang memiliki masalah pada berat badan. Jamy sangat terkesan dengan kelebihan Sierra punya. Manusia tidak ada yang sempurna, kalau kamu merasa berbeda dari yang lain, percayalah bahwa sesuatu yang beda pada diri kamu itu akan menjadi satu hal yang menjadi keunikan tersendiri. Unik itu langka, dan langka itu banyak yang cari. Be confident!
 |
| Gambar: Tumblr Netflix |
KETIGA: Kembali ke poin pertama, gue belajar dari bunga Matahari konsisten untuk tumbuh menghadap sang surya. Bunga ini membuat pikiran gue terbuka, bahwa sebuah konsistensi sangat diperlukan atas jalan yang sudah kita pilih. Gue sangat sadar selama ini gue masih belum punya pendirian. Masih suka mellow sendiri kalau gue ngerasa diri ini beda dari yang lain. Masih merasa minder, enggak percaya dengan diri sendiri, itu yang bikin gue tumbang secara perlahan. Namun seiring berjalannya waktu, gue jadi paham dan mulai berani untuk ambil keputusan. Mana yang harus jadi prioritas, dan mana yang harus gue ambil sikap "Bodo Amat." Eitssss, bodo amat disini bukan berarti apatis, tapi lebih berpikir dan bertindak kepada apa yang harus menjadi prioritas. Teman-teman juga bilang kalau keputusan yang gue ambil sekarang ini sudah baik, dan gue mulai memegang teguh hal itu. Meskipun ada satu atau dua orang yang mencoba untuk menggoyahkan hal yang sudah gue pegang, namun gue enggak gentar. AKU SAYANG DIRIKU!
Terimakasih kepada teman-teman yang sudah memberikan warna selama 22 tahun ini, yang sudah mendukung, dan memberikan kebahagian. kepada mereka yang pernah mampir dan kemudian pergi, terimakasih. Setidaknya gue akan mengingat kebaikan dan hal manis yang pernah kalian beri. Adapun kesalahan yang kalian lakukan, gue sudah maafkan. Teruslah berusaha menjadi manusia yang lebih baik, yang bisa memberikan manfaat untuk manusia lain. Oke?!
_Helena Vector
Komentar
Posting Komentar