Sudah terhitung lama semenjak tulisan terakhir mengenai
PSBB di Jakarta rilis, gue tidak menulis. Selama itu pula banyak hal yang sudah
gue alami. Mulai dari pekerjaan yang njelimet, kurang jam tidur, dan yang lainnya.
Apa kabar alun-alun Pandeglang di malam hari? Masih jadi tempat yang 'sakral' bagi mereka yang menghabiskan waktunya disana. Sekadar untuk menghabiskan seperempat jam bersama kawan-kawan atau mengais peruntungan untuk bertahan hidup, tidak ada salahnya.
Oh iya.. gue mau mengucapkan
selamat karena sudah diberlakukan New
Normal. Tapi gue tidak merasakan sama sekali yang namanya PSBB. Buat gue, New Normal menjadi
satu hal yang biasa saja, hehe. Entah karena gue yang harus tetap bekerja,
berangkat pagi – pulang malam, atau faktor yang lain. Tapi itu tidak menjadi
masalah, kalau bukan karena hal tersebut mungkin gue enggak kembali menulis
seperti sekarang. Gue juga ingin mengucapkan selamat kepada teman-teman sekolah
yang sudah menemukan pelabuhan hati, selamat berlayar bersama bahtera rumah
tangga masing-masing. Foto akad pernikahan kalian muncul di beranda sosial
media, gue turut bahagia dan salut karena kalian bisa survive dan bisa melewati
masa pandemi yang cukup menyebalkan ini.
Selama pandemi, gue mulai
menyadari satu hal yang cukup menjadikan pribadi ini sedikit mengenali apa itu
kata ‘dewasa’. Mengambil satu keputusan dan mau menanggung risikonya memang
bukan suatu hal yang mudah. Akan berjumpa dengan kalimat basa-basi yang BASI dari
orang-orang seputar pekerjaan, jodoh, status pernikahan, dan keimanan. Tepat di
tanggal 10 Juni 2020, gue memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat yang
selama ini sudah memberikan rezeki. Satu demi satu cita-cita kecil gue terwujud
dari hasil keringat sendiri, tinggal satu lagi yang belum terwujud dari SMA.
Setelah pandemic usai, gue harus gapai mimpi itu!
Huft!
Bicara soal resign, pandemi,
dan pernikahan, ada satu topik yang menurut gue sangat menarik untuk di bahas. Bermula
dari pertanyaan kenapa gue memutuskan untuk resign hingga berujung dengan salah satu teman yang
bercerita akan pernikahan sepupunya saat pandemi masih berlangsung. Bicara pernikahan pasti
enggak jauh dari yang namanya mahar. Dia bilang kalau mahar yang diberikan si
pengantin laki-laki bernilai kecil dalam satuan rupiah dan terlontar dalam ucapannya
“Perempuan yang nikah pas pandemi jadi perempuan murahan.” Beliau mengambil statement
perempuan suku Sunda yang ketika ingin melangsungkan pernikahan harus
dirayakan.
Pada satu sisi, memang
pernikahan itu perlu adanya perayaan dengan maksud menikmati momen berharga,
momen indah yang hanya terjadi satu kali seumur hidup bersama orang terdekat,
sanak saudara, keluarga besar, mantan? Bisa jadi salah satunya. Salah satu
teman yang juga ikut makan siang pun setuju dengan ucapan si mbak dengan dalih kalau dirinya adalah anak pertama
yang sangat ingin orang tuanya melihat sang anak bisa menikah dengan bahagia.
Bahagia seperti apa? Ya tentunya pernikahan yang diselenggarakan dengan mewah. Tentunya di zaman sekarang tidak cukup dengan modal Rp 30.000,000,- terlebih untuk
acara akad dan resepsi. Belum lagi jika menikah dengan upacara adat, mengingat dalam adat Sunda dan Jawa ada yang namanya acara Siraman, lho.
Seketika ayam geprek dengan
nasi hangat yang jadi santapan siang kurang sedap untuk dinikmati. Gue memang
belum merasakan yang namanya pernikahan bahkan belum ada pikiran menuju kesana.
Berkaca pada statement diatas, terlintas dalam pikiran apakah selain hal yang sakral dan menyempurnakan agama, apakah pernikahan adalah hal berpatok pada “balas budi terhadap orang tua?” sehingga harus sedemikian rupa harus dilaksanakan secara wah? Semua tergantung pilihan masing-masing buat gue. Hanya saja untuk hal yang satu ini, gue cukup geram. Tidak seharusya diselipkan kalimat itu untuk perempuan yang ingin melaksanakan hak dan kewajibannya di tengah kondisi genting saat ini.
Sebagai penutup, terlepas dari
berbagai faktor yang menyebabkan pihak perempuan menerima pernikahan dengan
kondisi pandemi, tetap hindari statement ‘murahan’ untuk perempuan
apapun kondisinya. Karena kembali lagi, perempuan adalah makhluk yang Tuhan ciptakan dengan harkat yang mulia sebagai penyeimbang kehidupan.
Komentar
Posting Komentar