Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW FILM ‘CUTIES’ DARI PERANCIS
Dua hari lalu gue baru nonton
film yang baru-baru ini di cap sebagai film yang kontroversial di tahun 2020.
Pasalnya film ini di gadang-gadang sebagai film yang mengeksploitasi anak
perempuan dibawah umur. Cuties, film asal negara Perancis yang menceritakan
seorang remaja putri bernama Amy yang berlatarbelakang kondisi keluarga tidak
harmonis.
Di tengah beban tersebut yang
juga bertepatan dengan Amy ketika memasuki awal usia remaja, ia mencari
pelampiasan di dunia luar dan akhirnya tertarik akan kultur liberal yang ada di lingkungannya saat ia melihat
sekelompok remaja putri yang juga satu sekolah dengannya, sedang berlatih untuk
kompetisi tari.
Merasa kurang pantas baik
secara fisik, penampilan, gaya hidup, bahkan tidak ada bakat menari, membuat
Amy terpacu untuk bisa menari dan berharap dapat diterima dalam kelompok. Beriringan
dengan proses penerimaan tersebut ada berbagai hal yang dirasa mengasyikkan, janggal
bahkan berujung berontaknya Amy terhadap tradisi keluarga.
| Foto: istimewa |
Film ini mendapat rating 18+, dibintangi oleh Fathia Youssouf, Médina El Aidi-Azouni, Esther Gohourou, Ilanah Cami-Goursolas, Maïmouna Gueye, dan disutradarai oleh Maïmouna Doucouré. Resmi tayang di Netflix pada 9 September 2020. Terlepas dari kontroversi berbagai pihak bahkan sampai ada penandatanganan sebuah petisi untuk memboikot Netflix, kali ini gue pribadi punya opini dari dua sudut pandang yang berbeda dari film Cuties.
- Jujur ketika
menonton trailer film ini gue hanya mengira kalau Amy adalah anak yang terjebak
pada pergaulan yang salah. Gue mengira kalau alur cerita akan sama seperti apa
yang jadi ekspektasi yakni kenakalan remaja yang masih dianggap “wajar” seperti
bolos sekolah, merokok, ternyata TIDAK! Gue terkejut karena banyak adegan yang
terpaksa gue skip karena tidak pantas
untuk dipertontonkan.
- Sedikit bergidik
dan mengerutkan kening karena terdapat adegan exorcist yang dilakukan bibi dan ibu Amy terhadapnya. Menurut gue
pribadi, hal tersebut mampu menimbulkan salah satu stereotype tersendiri. Jika
suatu hari satu individu berontak atau orang-orang sekelilingnya merasa ada
perubahan, pasti otomatis mendapatkan cap sedang mengalami gangguan dari
makhluk halus. Kembali lagi ke alur cerita yang mengisahkan bahwa keluarga Amy
masih memegang erat “tradisi turun-temurun” dan karena memang keluarga ini
sangat taat akan agama yang dianutnya.
- Faktanya, film ini terbentuk dari bentuk keresahan yang
pernah dialami oleh sang sutradara saat menginjakkan kaki ke Perancis dimana ia
menyaksikan sebuah kompetisi dance dan
terdapat peserta yang dimana seorang gadis belia usia 11 tahun melakukan
gerakan-gerakan erotis sebagai koreografi. Tidak hanya itu, ia melakukan riset
akan kecanduan pengguanaan sosial media dan kekeliruan akan istilah ‘kebebasan
berekspresi’ sebagai tameng. Hal tersebut membuat para remaja tumbuh dalam
lingkup yang tidak menjadikan diri mereka sebagai seorang remaja yang
semestinya. Mereka cenderung meniru apa yang idola mereka lakukan. If you know what i mean.. sesederhana
dengan mereka yang mengunggah foto di akun instagram. Semakin banyak jumlah likes, semakin bahagia. Jika kurang, segala
cara akan dilakukan.
- Secara keseluruhan perlu digaris bawahi buat kalian yang membaca tulisan opini kali ini, bahwa isi cerita dari film ‘Cuties’ sangat menginspirasi terutama buat gue pribadi sebagai seorang perempuan. Kembali ke point 3 bahwa film ini adalah bentuk keresahan sang sutradara akan eksploitasi para belia yang berumur 11 tahun. Coba kita kembali berpikir bahwa kemungkinan besar tidak akan ada tindakan speak up oleh masyarakat yang menyadari adanya eksploitasi apabila film ini tidak ditayangkan dan kita akan terus melakukan kesalahan yang sama, dan sebagai pembelajaran kedepannya kelak kita akan menjadi seorang ibu dan ayah yang setidaknya ada pengetahuan untuk mengedukasi dan membimbing anak saat memilih ingin menjadi sosok remaja seperti apa.
![]() |
| Foto: istimewa |
Film
ini membuat sedikit flashback. Ada sedikit pengalaman di saat gue menginjak
usia 11-15 tahun. Era sosial media saat itu sangat gila terutama Facebook. Terbesit untuk ingin merasakan seperti apa rasanya
menjadi anak populer di sekolah. Bisa dengan prestasi baik itu akademik maupun
non-akademik. Tapi gue mau lebih karena melihat teman-teman yang kala itu hanya
dengan postingan yang terlihat keren, musik yang mereka dengar, dan curhatan halu akan idola dengan mudahnya
memperluas pergaulan. Namun itu semua tidak terlepas dari sebab akibat: Semakin
banyak jumlah likes, semakin bahagia.
Jika kurang, segala cara akan dilakukan. Apa gue mau jadi orang yang seperti
itu?
Hidup dengan teknologi sangat kompleks permasalahannya. Posisinya saat ini tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder, bisa dikatakan mendekati primer. Ingat akan satu quote dari salah satu pesantren di daerah Cimanuk, Pandeglang, yang membuat gue terus diingatkan bahwa keseimbangan dalam hidup memang penting. Terpampang dengan jelas dikatakan “Kami mendidik generasi penerus ummat berbekal Al Quran di hati dan Sains dalam pikiran.” Buat gue, tidak hanya dalam Islam yang mengingatkan hal ini, namun semua agama juga memberikan pelajaran yang sama, tergantung apakah kita ingin mempraktikan atau tidak.
Terimakasih kepada sutradara atas kisahnya, semoga kedepannya bisa
memberikan karya yang lebih menginspirasi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW BUKU PIKIRAN FAJAR "YAUDAH, TERIMA AJA"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar