Unggulan
TENTANG KITA YANG MENCIPTAKAN BAHAGIA
Jum'at malam (061020) pukul tujuh, ponsel berdering. Lebih tepatnya bergetar dalam mode silent. Tahu lah bagaimana suaranya, heheh. Papa sempat kasih tahu kalau ada yang video call. Gue yang masih berbalut mukena putih bergegas keluar kamar dan menerima telepon dari Ayu. Salah satu dari sekian teman yang sudah gue anggap seperti adik kandung.
"Assalammu'alaikum,
yu?"
"Wa'alaikumsalam.
Teteh lagi dimana?!"
"Di
rumah, baru mau shalat. Kenapa, dek?"
"Nanti
kalau udah selesai kasih tahu, ya!"
"Oke!"
Mencoba melaksanakan ibadah dengan khusyuk tapi sialnya ibadah terganggu karena rasa penasaran, buat kalian yang baca, mohon jangan di tiru ya. Tidak baik!
Setelah selesai, buru-buru kirim pesan whatsapp dan tanya ke Ayu perihal apa dia sebelumnya telepon. Ternyata dia dan dua teman gue yang lain ngajak pergi ke kafe yang lumayan hits di Pandeglang. Nama tempatnya Bitts Coffee. Jujur aja, gue memang lagi hemat, uang yang dikhususkan untuk nongkrong dan main juga mulai sekarat. Alhasil gue kasih tahu aja 'enggak bisa ikut' beserta alasan dan diakhiri dengan emoji tertawa!
TAPI.... Ayu membalas pesan suara:
"Udah tenang aja, ada kita-kita. Mau enggak?"
Gue
enggak bisa nolak juga, sih. Karena lagi bosan di rumah dan kangen juga dengan
'para alien.' Akhirnya gue ikut dan di jemput
mereka 15 menit kemudian. Setelah sampai, mereka turun dari motor dan pamit ke
orang tua gue yang menyambut mereka dengan baik. Jadilah, kita yang hanya
berempat ini menelusuri jalan kota yang tidak begitu ramai. Gue satu motor
dengan Rizki sedangkan
Ayu bersama Rusmana.
Masing-masing dari kita punya panggilan masing-masing, lho.
Gue biasa dipanggil Pinut, Rizki biasa dipanggil Ikuk, Ayu biasa kita
panggil Anyu atau Liana karena memang nama lengkapnya adalah Ayu Liana, dan
terakhir ada Rusmana atau yang
biasa kita panggil dengan sebutan Manuk, 'My Bird', Nuksa, bahkan baru-baru ini juga dapat sebutan baru, Nam.
Padahal dia bukan warga berkebangsaan Thailand, tapi bisa-bisanya dipanggil
Nam.
Sesampainya
di lokasi, gue dan yang lain langsung pesan makanan dan minuman. Jadilah 4 gelas ice green
tea dan 2 porsi kentang goreng. Bitts Coffe awalnya tempat yang
tertutup, namun semenjak pindah lokasi, tempatnya lebih terbuka. Masih tetap
asyik, kok. Karena menurut gue, suasana kota Pandeglang yang mendukung buat kongkow. Hmmm, gue
ingat satu hal sewaktu berkunjung ke Bitts.
Di
dekat kasir, ada rak kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan berbagai
permainan seperti kartu Remi,
Uno, atau bahkan Jenga. Entah kenapa malam itu gue langsung kepikiran buat
ngajak mereka main Uno. Karena yang gue cari di rak tersebut enggak ada,
otomatis gue langsung tanya ke salah satu pegawainya.
"Mas,
kartu Uno enggak ada?"
"Ohh, saya lihat ada di rak depan, kak."
Tanpa basa basi, gue langsung ke teras depan dan cari rak. Ternyata memang ada, dan langsung gue ambil. Manuk yang juga habis pesan makanan langsung cari tempat duduk yang sesuai dan pas buat kita berempat. Disusul Ayu dan Ikuk, gue langsung ajak mereka main Uno. Manuk yang awalnya enggak tahu bagaimana cara bermainnya langsung dijelaskan oleh Ayu secara rinci.
Awalnya kita berempat cuma main biasa, tapi kayaknya
bakal lebih seru kalau ada yang kalah dapat challenge.
Akhirnya kita sepakat! Yang kalah pertama, harus berani salaman ke pengunjung
Bitts Coffee. Laki-laki harus salaman ke pengunjung perempuan, dan yang
perempuan harus salaman ke pengunjung laki-laki.
“Oke, deal!”
![]() |
| Ilustrasi: Pribadi |
Gue bertugas bagi-bagi kartu pertama, masing-masing 7 kartu. Awal bermain, manuk sempat kebingungan karena ini adalah kali pertama ia bermain Uno. Selama permainan berlangsung, kita berempat masih biasa saja. Tapi ketika sudah tahu siapa yang kalah, tantangan dimulai. Manuk adalah orang yang pertama kali kalah, dan dia harus salaman ke salah satu pengunjung perempuan.
Tanpa malu-malu, ia menyodorkan tangannya sambil berkata ‘saya Manuk, saya mengaku kalah bermain Uno’ sambil cekikikan pastinya. Lanjut, tantangan mulai berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini yang kalah harus memeluk pohon. Oke! Selama permainan berlangsung, gue enjoy aja. Hingga satu-persatu selesai bermain. Tersisa gue dan Ayu yang masih melanjutkan permainan. Sialnya, gue yang kalah dan harus peluk pohon!
Selanjutnya, permainan dimulai. Peraturan semakin enggak
jelas, tantangan juga makin jadi, di mana gara-gara Manuk rusuh pas lagi main,
dia enggak sengaja nyenggol gelas
minumannya sendiri sampai tumpah ke kentang goreng dan sausnya. Kebetulan juga
giliran Ayu yang dapat challenge harus
makan kentang dengan saus yang kena tumpahan green tea. Anggap aja itu Washabi! Disusul Ikuk yang harus push-up 10 kali. Yaa, anggap aja olahraga malam.
Malam itu cuma meja kita yang paling rusuh diantara meja pengunjung yang lain. sampai ada peraturan yang kalah dan dihukum harus di update ke insta-story dan enggak boleh dihapus selama 24 jam. Makin malam, permainan semakin seru dengan tantangan konyol bagi mereka yang kalah. Masing-masing dari kita kalah dua kali. Ada 2 challenge yang paling berkesan buat gue malam itu.
Pertama, Manuk yang kalah kedua kalinya harus nurut kemauan gue untuk memberikan sambutan selamat datang untuk pengunjung Bitts. Sambutan yang diberikan juga tidak boleh asal, tangan harus bersikap namaste dan tersenyum manis, dan yang kedua adalah challenge paling pecah. Ayu yang dapat giliran kena hukuman, harus lari di halaman kafe. Tanpa diduga, sebagian pengunjung kafe berteriak dengan maksud entah untuk menyemangati Ayu yang kena hukuman atau ikut andil supaya kafe ramai.
Berkat tindakan pengunjung yang iku “bersorai” atas hukuman yang dijalani Ayu, kita berempat tertawa lepas tanpa ada perasaan marah, kesal, apalagi baper. Enggak hanya itu, tapi semua yang kena hukum juga ikut tertawa. Malam itu adalah malam dimana gue bersyukur karena masih bisa dipertemukan dengan orang yang se-frekuensi. Benar ternyata yang dikatakan quote Twitter bahwa semakin kita dewasa, maka semakin kecil pula lingkup pertemanan. Gue bersyukur banget masih bisa ketawa bareng teman-teman.
Kita yang semakin dituntut oleh keadaan mau tidak mau
akan mengorbankan waktu dan berbagai hal. Terutama pola pikir. Meskipun dalam
prosesnya akan ada gangguan yang bikin galau dan dibumbui oleh beberapa drama,
gue tetap mengambil kesimpulan dari kejadian malam itu: Apapun keadaannya, kebahagiaan
tetap diciptakan oleh kita dan dinikmati untuk diri kita. Gue berdoa semoga
kedepannya terus dipertemukan dengan orang baik, dan pertemanan yang gue jalani
dengan orang-orang ini sejati. Amin.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW BUKU PIKIRAN FAJAR "YAUDAH, TERIMA AJA"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar