Unggulan
OPINI: MASIH BERTINDAK DISKRIMINATIF, JANGAN TONTON FILM INI!
Bisa dikatakan gue terlambat 4 tahun untuk menyaksikan film yang mengangkat isu rasisme. Sejauh ini gue menganggap bahwa film yang mengangkat isu rasisme biasanya ditujukan untuk mereka yang menjadi korban berdasarkan ras, agama, dan warna kulit. Berbeda dengan film yang mengangat isu-isu tersebut, film kali ini mengangkat suatu kelompok anak Punk dan secara gamblang menunjukkan sistem hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas.
![]() |
| Sumber: Wikipedia |
Film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak punk bernama Brian Deneke asal Texas, Amerika Serikat ini baru gue tonton di hari Minggu (15/03/21) lalu. Dikisahkan Brian Daneke seorang anak Punk asal kota Amarillo, Texas yang berpenampilan sangat mencolok dan terkesan ngeri jika kita duduk bersebelahan dengannya. Brian dibesarkan oleh kedua orang tua yang harmonis, ia sangat dekat dengan kakak, ayah, dan ibunya. Namun keluarga yang tadinya harmonis, harus menelan pil pahit atas kepergian Brian di tahun 1997 akibat kecelakaan yang dilakukan secara sengaja.
Pelakunya sendiri adalah
seorang atlet soft ball All-Americans bernama Cody
Cates. Motif pembunuhannya hanya karena
penampilan Brian dan kawan-kawannya yang berbeda dari
anak-anak normal kebanyakan. Jika kita berpikir
dengan akal sehat, sangat tidak masuk akal
bukan? Ironisnya,
pelaku selain dikenal sebagai atlet dan pelajar berprestasi, ia juga aktif
sebagai ketua OSIS di sekolah. Orang tuanya juga cukup terpandang di Texas.
Tapi tahukah kalian bahwa dibalik kemilau dan kesempurnaan hidup Cody, ia juga mempunyai circle yang cukup toxic? Cody dan teman-temannya menyebut diri mereka sebagai the Preps, bisa dikatakan bahwa anak-anak yang merasa “bebas” melakukan apa yang mereka inginkan. Tujuannya satu, untuk “bersenang-senang.” Mereka menganggap bahwa sekelompok anak Punk tidak punya tempat untuk mereka tinggali. Mereka juga menganggap anak Punk hanya bisa berbuat onar, tidak punya sopan santun. Maka dari itu anak-anak seperti the Preps yang notabene mempunyai previllege berhak melakukan banyak hal termasuk menindas anak Punk baik secara verbal maupun fisik.
Terlepas dari kisah Brian yang mungkin sampai sekarang membekas di hati anak punk dari berbagai penjuru dan beberapa individu dengan pikiran terbuka, ada beberapa poin yang menjadikan film ini layak disaksikan.
1.
ALUR DAN JALAN
CERITA YANG SANGAT RAPI
Sutradara membuat alur maju – mundur dalam film yang gunanya mengajak penonton tetap fokus dan membuat siapapun tidak bisa beranjak dari tempat duduknya. Tidak hanya membuat emosi penonton naik turun, pada ending film pun Jameson berhasil menguras emosi penonton dengan putusan hasil akhir persidangan yang sangat tidak adil.
2.
SISTEM DAN HUKUM YANG BOBROK
Selain hasil putusan di ruang persidangan yang menyayat hati, di tahun 1999 Cody Cates dinyatakan tidak bersalah atas pembunuhan Brian Daneke. Juri mendakwa atas Pembunuhan Tidak Disengaja. Ia dihukum masa percobaan dan membayar denda $10.000, namun kabar mengejutkan lainnya adalah denda tersebut dibatalkan. Padahal sudah cukup jelas yang dipaparkan pengacara dari pihak Brian. Pelaku tidak berusaha memberhentikan atau membanting stir saat mobil mendekati korban. Ia dengan sengaja serta sadar menabrak, dan melindas tubuh korban hingga terseret dibawah mobil. Akibat perbuatannya, Brian mengalami robekan pada tulang selangkangan hingga mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan ia tewas seketika. Pengacara Brian memaparkan bahwa konsekuensi dari perbuatan baik atau buruk harus diterima oleh si pelaku tanpa memandang latar belakangnya. Namun pengacara Cody menyatakan sebaliknya. Apa yang dilakukan si pelaku adalah hal yang benar. Kasus ini bukanlah tentang keberagaman atau toleransi, namun orang yang memilih jalan hidup sebagai Punk tentulah sangat meresahkan dan harus dimusnahkan. Tidak hanya itu, pengacara Cody juga mengkritisi pakaian yang dikenakan Brian tertulis “Destroy Everything” yang mengandung arti intimidasi terhadap orang-orang disekitar mereka.
3. KALIMAT
‘DESTROY EVERYTHING’ YANG MULTITAFSIR
Jika kita tarik sebuah hipotesis, Punk sendiri memiliki 5 ideologi yang salah satunya adalah Anarkis. Mengutip Hai, John Martono dan Arsita Pinandita menuliskan bahwa punk lekat dengan anarkis yaitu paham kehidupan tanpa negara, tanpa pemerintah. Namun lewat tulisan ini, gue ingin mengajak kalian untuk menggunakan akal sehat. Kehidupan manusia tidak lepas dari Yin dan Yang. Tentu kalian sudah tidak asing dengan filosofi Tionghoa ini. Brian mengenakan pakaian dengan kalimat tersebut bisa saja memiliki arti memusnahkan apa saja yang dilakukan pemerintah terhadap kaum marjinal. Namun di sisi lain, kehadiran anak punk di masyarakat tentu tidak akan lepas dari peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Memang sangat tidak mudah untuk membuktikan sikap sebagai manusia yang merasa bebas dan melakukan segala sesuatunya secara mandiri dan tidak merugikan orang lain. Namun jika sistem yang ada hanya bisa mengekang dan memaksa untuk tunduk kepada yang lebih berkuasa, perlakuan diskriminasi dan rasisme akan terus berlanjut hingga ke generasi selanjutnya. Dunia akan lebih tentram dan damai jika manusia satu sama lain melihat dan memandang manusia lain sebagai MANUSIA.
4.
MUSEUM
UNIK DI TEXAS
Akhir tahun 1990-an, Brian dan kawan-kawannya membuat sebuah Proyek Seni Urban terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Gue menginterpretasikan bahwa proyek seni tersebut dinamai Museum Dinamit karena mengingat pernyataan dari saudara kandung Brian. Bahwa seluruh warga kota Amarillo mendukung satu-satunya pabrik perakitan senjata nuklir di Amerika. Ia juga mengatakan “jika kau ingin menyerang Amerika bukankah kau akan singkirkan senjata mereka yang paling rentan lebih dulu? Kita punya hulu nuklir plutonium tepat dibawah kaki kita saat ini. Tempat ini adalah target terbesar yang terus berdetak. Kota Bom (Bomb City).” Hal tersebut menunjukkan bahwa negara Super Power ini bisa saja sewaktu-waktu menyatakan perang lebih dulu kepada siapapun yang berbuat semena-mena. Sampai saat ini, lebih dari 3.000 papan tanda unik dipajang di lingkungan sekitar kota tersebut.
5.
TIDAK
DIREKOMENDASIKAN UNTUK
KALIAN YANG SUKA MENDISKRIMINASI DAN MASIH BERTINDAK RASIS!
Ya,
tentu saja! Dengan menonton
film ini artinya
mata, telinga, dan hati kita siap
untuk didobrak. Menyaksikan langsung isu yang masih disepelekan oleh makhluk
ber-Tuhan. Tentunya
tidak cocok bagi kalian yang masih
suka memiliki “pandangan” keliru. Membedakan mana yang benar dan mana yang
salah saja masih keliru. Lebih baik menyaksikan film yang lebih klop untuk isi
kepala kalian. Film ini merupakan sebuah refleksi diri
apakah kita sebagai manusia masih menilai seseorang hanya dari penampilannya
saja dan langsung mengadili tanpa melakukan pengkajian terlebih dahulu? 24 tahun kasus ini telah selesai namun isu rasisme masih
terjadi sampai hari ini. Intinya, gue berani mengatakan apa yang dilakukan oleh
pelaku adalah SALAH.
Di akhir film, kita diperdengarkan dengan pernyataan dari Marilyn Manson dalam Speech of Blame. Ia menyayangkan hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas, menyatakan bahwa tidak adanya keberpihakan atas kematian Brian, serta menyayangkan atas bebasnya Cody Cates. Pelaku tidak pernah merasakan masuk penjara, ia duduk di bangku perkuliahan dan mendapat riuh tepuk tangan setelah lulus. Pelaku adalah kebanggaan dan salah satu harapan untuk masa depan Amerika. Sedangkan Brian yang tidak mengenakan celana kain, tidak berseragam ataupun berdasi, harus dipaksa “pergi” lebih dulu hanya karena ia berbeda.
![]() |
| Sumber: Highplainspublicradio |
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW BUKU PIKIRAN FAJAR "YAUDAH, TERIMA AJA"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar