Unggulan
CERITA MENUNGGU BUS DATANG
Siang itu di kota Serang
yang panas dan berdebu. Aku duduk sembari menopang dagu, menunggu kedatangan
bus tujuan Kampung Rambutan di depan halte Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Aku
bosan menunggu hampir dua puluh menit. Ponselku terus berdering karena pesan whatsapp dari grup kampus yang entah apa
isinya. Paling hanya candaan receh,
dan obrolan tidak jelas. Beberapa perempuan disampingku terus memperhatikanku yang
gusar karena bus tak kunjung datang. Tenggorokan yang terasa kering membuatku
beranjak dari tempat duduk menuju mini
market yang berjarak lima puluh meter. Ada anak kecil yang sepantaran
dengan adik tiriku, duduk di dekat pintu masuk dengan pakaian lusuh dan peci di
kepalanya sembari menyodorkan sebuah mangkuk alumunium. Merasa tidak punya uang
receh, aku tidak mempedulikannya. Udara dari pendingin ruangan sedikit
membuatku tenang. Saat mengambil sebotol air mineral, aku melihat bus yang ditunggu
sedari tadi lewat di depan mini market.
“Arrrghhhh!”
Aku berniat untuk menaruh
kembali air minum dari tangan, sayangnya botol yang aku taruh dengan cara
dilempar malah mengenai botol minuman lain. Alhasil enam botol air mineral jatuh
dan mau tidak mau harus dikembalikan ke posisi semula. Mendapat teguran tegas
dari pramuniaga mini market, sedikit membuatku
panik. Setelah selesai, dengan cepat aku berlari menuju pintu. Suasana di dalam
ruangan yang ramai, membuatku kesulitan untuk keluar hingga tidak sengaja
menabrak orang dalam antrian kasir.
“Aduh, mas. Pelan-pelan!”
Ucap seorang ibu padaku
dengan sinis.
“Ma.. maaf, saya buru-buru.”
Sayangnya bus tidak berhenti di depan halte, karena memang tidak ada yang naik.
Aku berlari mengejar bus sambil berteriak.
“Oiiii.. gue mau naik!”
Bus tidak berhenti, malah
semakin tancap gas. Jalan raya juga tidak terlalu ramai seperti biasanya. Orang-orang
disekitar malah memperhatikanku dengan tatapan aneh, termasuk anak kecil yang
berpakaian lusuh. Dengan langkah gontai aku kembali ke halte sambil enggan
membuka ponsel yang masih saja bergetar. Aku kembali duduk dan membenarkan
lengan kemejaku. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang.
Bus dengan tujuan Kampung
Rambutan tak kunjung datang. Sekali lagi, aku enggan membuka ponsel. Perutku mulai
keroncongan, aku menyesal karena mengacuhkan ibu yang menyuruhku mengisi perut
sebelum berangkat. Tidak ingin terjadi untuk yang kedua kalinya, aku enggan
untuk beranjak dari tempat duduk hanya untuk membeli makanan di mini market.
Masuk menit ke tiga
puluh, bus tak kunjung datang. Aku mulai kesal dan memukul tiang halte. Aku
menjadi pusat perhatian tukang asongan, dan sekumpulan mahasiswa yang nampaknya
sebaya denganku.
“Apa lihat-lihat?”
Mendengar ucapanku,
orang-orang mulai bergidik ngeri. Ponselku terus bergetar dan emosiku terpancing. Aku matikan ponsel, dan memasukkannya ke dalam tas. Namun
saat ingin menutupnya, resleting malah macet. Seperti ada yang tersangkut. Aku
coba membuka dan menutupnya dengan perlahan, tetap tidak bisa. Aku
coba berulang kali namun tetap saja resleting tidak berfungsi. Dengan
paksa, aku coba menutupnya sekali lagi. Namun yang terjadi malah resleting tas
rusak. Gumpalan benang yang tersangkut menjadi penyebab resleting tidak
berfungsi.
“Aduh, ini tas belum ada
satu bulan dipakai. Argghhh!”
Aku memeluk tas sambil
memasang raut wajah kesal dan marah. Aku jongkok dan menundukkan kepala. Ada
tiga ekor semut yang sedang berjalan, aku urungkan keinginan untuk membunuh
salah satunya. Toh mereka juga ingin hidup. Sembari menatap ketiga ekor semut
yang jalan beriringan, ketiga ekor semut itu terinjak sepasang kaki dengan
balutan sepatu kets hitam yang berhenti dihadapanku. Aku sontak mengadahkan
kepala. Terlihat seorang perempuan. Ia menyunggingkan senyum sambil melambaikan
tangan kanannya. Aku berdiri dan memandang wajahnya yang berhiaskan kacamata.
“Eng.. hai. Kamu lagi
nunggu bus juga?”
“Enggak usah
sok akrab!”
“Pas di mini market tadi, saya lihat kamu
buru-buru ngejar bus. Jujur, saya juga ketinggalan bus yang sama. Saya mau
pulang ke Slipi, kamu mau ke...”
“Ehh anak kecil, saya
enggak ada urusan sama kamu yang mau pulang ke Slipi, dan bukan urusan kamu
untuk tahu kemana saya pergi. Ngerti?”
Ia mengembungkan sebelah
pipinya sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Wajahnya yang terlihat
kebingungan sama sekali tidak membuatku iba meskipun ia terlihat manis. Ia berjalan
dan berdiri disebelahku sambil terus memegang ujung kemejanya. Sesekali juga
mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Cihh, manja!
Aku membuang pandangan ke
jalan raya sambil berharap bus datang. Seketika, kumandang azan dari masjid
kampus terdengar.
“Ehh.. Sudah azan. Kamu
enggak mau solat zuhur dulu, atau barangkali istirahat sebentar di dalam?”
Aku memandang raut
wajahnya. Bulir keringat dari dahinya sangat jelas mengalir satu-persatu.
Sambil menghela napas, aku menggeleng.
“Loh, kenapa?” ujarnya
sambil mengerutkan kening. Jujur saja, aku makin tidak tahan dengan sikap
perempuan satu ini.
“Saya.. saya menunggu bus
datang.”
“Oohh, mendingan kita solat
zuhur saja dulu. Nanti kalau ternyata bus belum datang, gimana?”
Aku balik bertanya
padanya dengan sedikit gertakan.
“Kalau saya lagi solat,
terus tiba-tiba bus datang, kamu mau berhentiin bus buat saya?”
Ia terdiam, orang-orang
di sekitar sekali lagi memperhatikanku. Namun tatapan itu tajam,
seolah-olah ingin menyerangku. Hingga empat orang mahasiswi saling berbisik
satu sama lain. Aku yang sudah tidak bisa lagi menahan emosi, lagi-lagi memukul
tiang halte. Seorang bapak yang sedang duduk sambil membawa dua anaknya,
tiba-tiba memarahiku.
“Mas, kalau enggak suka
lama-lama menunggu bus, jalan kaki saja sana. Enggak usah marah-marah enggak
jelas. Ini tempat umum!”
Si perempuan asing ini mencoba
mencairkan suasana, lalu segera menggandeng tanganku dan berjalan menuju
kedalam kampus.
“Heh, lepasin!”
Ia tidak menghiraukanku.
Setibanya di pos satpam, ia baru melepaskan genggamannya dan memintaku untuk
tenang.
“Maaf saya ajak kamu
secara paksa. Tapi kalau kamu lama-lama di luar sana, ditambah sekarang juga
cuaca panas, kamu semakin emosi. Lebih baik kita istirahat dulu. Siapa tahu bus
tiba selepas solat zuhur, atau kalau kamu enggan untuk solat setidaknya
berdiamlah di masjid. Kamu akan lebih aman. Kalau kamu lapar, saya ada roti dan
buah. Kita bisa makan sama-sama.”
Ingin rasanya aku memaki
perempuan ini. Ia tidak tahu kalau aku sedang memikirkan Ujian Akhir Semester
yang akan dimulai satu jam lagi.
“Ya sudah, saya ikut
kamu. Tapi kalau bus sudah datang, kamu saya tinggal!”
“Loh, memangnya saya mengajak
kamu untuk berangkat sama-sama? Saya hanya mengajak kamu untuk beristirahat di
masjid sebentar.”
“Ahh, terserah kamu!”
Ia hanya tersenyum tipis
padaku. Dasar perempuan aneh!
“Kenapa kamu
senyum-senyum?”
“Ah, tidak. Ayo?”
Aku mengikutinya dari
belakang. Beberapa orang saling berbisik satu sama lain.
****
Setelah menunggu sekitar
lima belas menit, ia keluar dari dalam masjid. Duduk disebelahku sambil
menyisir rambutnya dengan jari. Aku tidak bisa berhenti menggoyang-goyangkan jari
kaki sambil menengok keluar pagar kampus. Berharap bus segera datang.
“Masih cemas, ya?”
Aku enggan menjawabnya!
“Ini, makan dulu. Kamu
lapar, kan? Kelihatan dari wajah kamu.”
“Sok tahu!”
“Saya lihat kamu dua jam yang
lalu di mini market, hampir bikin
onar pula. Tadi saya beli roti sobek, kamu suka rasa cokelat?”
Aku hanya diam dan sialnya
suara perutku terdengar olehnya. Ia tertawa pelan.
“Hihihi, suara perut kamu
mewakili. Mendingan sekarang kita makan dulu. Tapi maaf, seadanya. Ada
buah pepaya dan semangka juga, kok. Biar lebih puas makannya, hehehe.”
Ia menyodorkan sekotak
buah pepaya beserta dengan garpu kecil. Aku mengunyah buah pepaya dengan
perlahan, ia juga tidak lupa memberiku sebotol air mineral. Benar juga
ucapannya. Mulut dan tenggorokanku yang basah membuat perasaan lebih tenang. Aku
gengsi mengucapkan maaf dan terima kasih.
“Oh iya, kamu mau
kemana?”
Ia membuka percakapan
lebih dulu, aku menghela nafas.
“Hari ini sebetulnya hari
terakhir saya UAS. Sekarang sudah jam setengah satu, sedangkan ujian dimulai
tiga puluh menit lagi. Mana mungkin waktu tempuh dari Serang ke Kebon Jeruk
bisa dilewati dalam waktu singkat?”
Ia terdiam dan
menghentikan kunyahannya.
“Oh, mau ke Kebon Jeruk. Maaf
yaa sebelumnya, saya enggak ada maksud bikin kamu emosi kayak tadi.”
“Iya, saya juga buat
salah. Kalah dengan emosi, dan seharusnya juga saya enggak usah pulang ke rumah
hanya untuk menghadiri ulang tahun teman kemarin malam. Padahal masih ada
jadwal UAS.”
“Mau ikut ujian susulan?”
Ujarnya sambil membuka tutup botol air minum.
“Ya, mau tidak mau.”
Ia mengangguk dan
tersenyum padaku. Akhirnya aku berhasil mengalahkan rasa gengsi untuk
mengucapkan terima kasih dan meminta maaf.
“Saya minta maaf, ya.
Maaf banget.”
“Iya, enggak usah
dipikirin. Dimakan lagi buahnya.”
Aku mengangguk sambil
menusuk buah semangka dan menyuapkannya ke mulut.
****
Setelah kenyang menyantap
makan siang seadanya, aku menyegerakan diri untuk melaksanakan solat zuhur. Air
wudhu menyejukkan wajah, kepala, dan anggota badan lain yang terbasuh air.
Jarum jam dinding masjid menunjuk ke angka satu. Aku bersedia mengikuti
konsekuensinya dengan mengikuti Ujian Akhir Semester susulan. Aku menyesali
perbuatanku yang sudah terjadi tiga jam lalu. Aku menyesal.
Perempuan itu masih duduk
di depan masjid, sambil menunggu bus yang tak kunjung datang. Aku
menghampirinya sambil mengenakan kaus kaki dan sepatu. Terlihat benda yang
tidak asing tersemat di bagian resleting tas.
“Ehh, tas saya kenapa?”
“Maaf, ya. Enggak izin
dulu, tapi bahaya banget kalau kamu membiarkan tasnya terbuka gitu. Jadi,
saya pasang peniti. Resletingnya rusak, ya?”
Aku mengangguk sambil
tersenyum.
“Padahal belum ada satu
bulan saya pakai tas ini. Tapi, sekali lagi terima kasih. Saya merepotkan
kamu.”
Ia menggeleng sambil tersenyum.
Kami berjalan keluar kampus dan kembali duduk di halte bus yang sepi. Baru lima
menit duduk, bus yang sejak tiga jam lalu ditunggu akhirnya tiba. Kami segera
naik dan memilih bangku yang kosong. Kebetulan di baris ketiga, ada dua bangku
yang kosong. Aku mempersilahkannya duduk dekat jendela. Sepanjang perjalanan,
aku yang banyak bercerita. Ia menjadi pendengar yang baik. Sungguh pendengar
yang baik. Pikirku, siapa perempuan sok akrab ini? Rambut sebahu, balutan
kemeja warna pink pastel, celana chino putih
panjang, dan sepatu kets kekinian. Ahhh, aku rasa dia anak gaul yang hobi
jalan-jalan untuk memenuhi feed media
sosial Instagram.
“Sebentar lagi, tujuan
kamu sampai. Hati-hati, ya. Semangat ujian susulannya!”
Aku mengangguk dan
membalas senyumnya. Kondektur bus memberitahukan penumpang yang akan turun di
Kebon Jeruk untuk segera bersiap turun. Aku bangun dari tempat duduk dan untuk
sekali lagi mengucapkan terima kasih padanya.
“Ehh, nama kamu siapa?”
Aku sontak menghentikan
langkah sebelum sampai di pintu keluar karena pertanyaan darinya. Sial, sudah
lama menghabiskan waktu bersama malah lupa bertanya nama.
“Ohh iya. Saya Sandi.
Kamu?”
“Saya Naura. Salam kenal,
Sandi!”
Naura, akan kuingat
namanya.
****
Pukul empat sore, aku tiba di kampus. Tanpa berlama-lama, aku langsung menemui biro fakultas untuk menanyakan jadwal ujian susulan. Namun pihak yang menangani malah memberikan jawaban yang mengejutkan. Hari ini tidak ada Ujian Akhir Semester untuk prodi Manajemen semester 5. Aku kebingungan. Langsung saja aku mengambil ponsel dari dalam tas, ingin bertanya ke teman-teman perihal informasi tersebut. Meskipun harus membuka dua buah peniti lebih dulu.
Ternyata sejak pukul
sepuluh pagi tadi, teman-teman mengajak untuk liburan keluar kota selama libur
semester. Mereka juga menanyakan keberadaanku yang tidak muncul di grup. Tanpa
pikir panjang, aku langsung menelfon temanku Dito.
“Hallo, to?”
“Yaa, san? Gue punya hutang, ya?” ucap Dito dengan logat
Sundanya yang khas.
“Dito, gue minta lo jawab
jujur dan serius! Hari ini emang enggak ada jadwal UAS?”
“Lah, error ini anak! Jadwal UAS terakhir itu kemarin.
Hari ini kita libur, lha!”
“Aduh jangan bercanda!”
“Siapa yang bercanda, cek jadwal di website sana!”
“Serius, to. Selesai UAS
kemarin, gue langsung pulang ke Serang. Teman ulang tahun, mana panik banget gara-gara bus gak datang. Sekarang gue di kampus.”
“Bro.. tenang, bro. Lo minum dulu, tarik nafas
dalam-dalam, tenang dulu. Gue ingetin lagi, nih. Hari ini enggak ada jadwal
ujian. Hari ini kita libur. Oke? Sekarang lo buka hape, cek website, lihat
sendiri. Lagian tumben banget enggak muncul di grup, biasanya paling semangat
kalau urusan rencana liburan. Lo kenapa?”
Aku menghela nafas sambil
menutup kedua mata dengan tangan kanan. Aku tertawa dengan keras sampai
mengejutkan orang-orang di sekitar.
“San, oi.. Sandi! Kenapa lo?”
“Ehh, sorry.. Ya udah, gue coba buka website untuk lihat jadwal!”
Aku menutup telfon.
Sambil mencoba menenangkan diri, aku membuka website untuk melihat jadwal ujian hari ini. Benar saja, kemarin
adalah hari terakhir ujian akhir semester 5. Aku merasa sangat malu pada diriku
sendiri karena telah banyak berbuat salah termasuk kepada Naura, perempuan yang
baru aku kenal hari ini. Semburat matahari sore kota Jakarta menembus kaca jendela. Aku
melihat jam tangan, dan teringat akan ucapan Naura.
“Solat, solat asar. Oke!”
Aku berjalan keluar
menuju masjid Baitul Ghaffur, masjid kebanggaan seantero kampus tercinta untuk
melaksanakan solat asar.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW BUKU PIKIRAN FAJAR "YAUDAH, TERIMA AJA"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar