Unggulan
REVIEW BUKU “TIDAK APA-APA SEBAB KITA SALING CINTA”
Tepat di hari Minggu pada bulan Desember di tahun 2021 yang dimana aku lupa tanggal berapa, buku ini sampai di rumah. Sepulangnya dari kantor, aku langsung membuka bungkus paket. Satu hal yang sangat disayangkan adalah aku tidak mendapat stiker dari pihak kedua penjual buku. Karena sebelum memesan buku, terdapat keterangan “stiker gratis untuk 10 pembeli pertama” yang tertera pada postingan tersebut. Aku sangat ingin stiker tersebut untuk koleksi karena desainnya yang lucu. Respon dari pihak kedua yang menjual buku ini terkesan tidak masuk akal. Mereka lupa menyisipkan stiker untuk paket buku, namun mereka tidak lupa menyisipkan pembatas buku dari mereka sebagai bonus. Aku menghindari konfrontasi, hanya mampu menghela nafas. Admin dari pihak tersebut mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan stiker edisi terbatas dari buku ini apabila kembali membeli buku dari pihak mereka. Huft!
| Gambar: Pribadi |
Masuk hari ketiga setelah buku ini sampai di tangan, aku mulai kehilangan fokus. Membagi fokus terhadap pekerjaan utama dengan hobi tidak semudah yang dibayangkan. Seharusnya aku selesai mengulas buku ini sejak akhir Desember 2021, tapi ternyata lewat sampai satu bulan. Aku salut dengan mereka yang masih bisa menyempatkan waktunya dengan hobi. Lain halnya denganku yang mulai suka menunda. Alhasil, ya seperti inilah jadinya. Sebagian dari mereka mengatakan memang agak sulit membagi waktu antara pekerjaan dengan hobi. Karena terbukti juga oleh diri sendiri, hampir setiap di hari minggu saat libur kantor, aku menghabiskan waktu hanya dengan menonton film, marathon drakor, atau drama Thailand favorit. Kadang kala aku hanya menghabiskan waktu berlama-lama di depan laptop sambil menonton video absurd sambil berkata ‘yang penting hari ini happy!’, aku haus akan hiburan dan liburan.
*Jangan dicontoh!
Bagian Pertama: Tentang Buku dan Penulis
Aku mulai membaca ‘Tidak Apa-apa sebab Kita saling Cinta’ pada pertengahan
Desember, tahun yang sama saat buku ini rilis. Aku ingat. Sepulang kerja di
sebuah kafe yang cukup ternama di kota Pandeglang, sore itu pengunjung kafe
tidak ramai, pengunjung yang ingin bersantai atau berdiskusi dengan lawan
bicaranya masih bisa dihitung jari. Sambil memesan Hot Red Velvet, aku membuka
buku. Baru membaca halaman prolog, aku mulai penasaran. Kalimat yang berbunyi “kata bisa membuat seseorang membenci satu
sama lain selama tahunan, bahkan hingga lupa jika manusia punya kosakata berupa
maaf” membuatku mengerutkan kening sambil menyunggingkan senyum. Tidak
lama, aku menggelengkan kepala.
Pada halaman pertama, pembaca diberi sambutan ‘selamat datang’ oleh penulis.
Para pembaca boleh menebak-nebak tentang isi buku. Kemana arah ceritanya
berjalan, dan dibuat penasaran karena kebetulan terdapat hal-hal yang sangat relate dengan kehidupanku. Beberapa kalimat
bernada gombal juga berhasil membuatku tersipu sambil cengengesan sendiri.
Buku ini dirilis pada tahun 2021, ditulis oleh Mohammad Ali Ma’ruf dengan
23 prosa. Dikutip dari buku, beliau adalah penulis dan videografer. Beliau juga
bertanggung jawab untuk elemen artistik di kanal YouTube Mojok.co, serta aktif
di media sosial Twitter dan Instagram miliknya @alimaruv. Buku ‘Tidak Apa-apa sebab
Kita saling Cinta’ merupakan buku keduanya setelah sukses menerbitkan buku pertama
dengan judul ‘Perihal Cinta Kita Semua Pemula.’
Bagian Kedua: Opini
Terhadap Buku, dan Kutipan Favorit
Dengan gaya bahasa yang ringan, buku ini sangat direkomendasikan untuk teman-teman
yang sedang dilanda patah hati. Sejatinya, buku ‘Tidak Apa-Apa Sebab Kita
Saling Cinta’ adalah rekaman perjalanan cinta yang tumbuh sebagai proses
belajar, sebagai memori tempat manusia tak kehabisan asah. Pada kisah yang akan
kamu baca berikut, semoga kamu menemukan ketenangan yang serupa untuk
menyelamatkan diri sendiri.
Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada penulis karena sudah memberikan “obat
penenang” lewat buku ini. Aku berusaha untuk berpikir positif dan belajar
memaafkan kesalahan di masa lalu saat menjalin hubungan dengan seseorang. Seperti
yang diucapkan di awal halaman: “kata
bisa membuat seseorang membenci satu sama lain selama tahunan, bahkan hingga
lupa jika manusia punya kosakata berupa maaf.”
Kutipan favoritku yang lain dalam buku ini adalah “Jika hubungan kita tidak berhasil, kita tidak perlu saling menyalahkan.”
Berusaha untuk tidak saling menyalahkan memang sulit saat dua insan yang pernah
mencintai berakhir di tengah jalan. Namun apa daya? Manusia memang tempatnya
salah. Tinggal ambil saja keputusan yang menurutmu terbaik. Apakah ingin berjalan
di tempat, atau mau mengikhlaskan sambil mengambil langkah untuk kembali
tumbuh?
Aku yang egois, memupuk diri sebagai korban atas kandasnya hubungan, perlahan-lahan
mencoba untuk memahami apa itu ikhlas bersamaan dengan ulasan buku ini ditulis.
Seakan-akan pundak ini ditepuk dengan pelan oleh sang penulis, dan ia berbisik ‘sudah,
maafkan saja. Kalian pernah saling cinta.'
****
Reviewer : Fina Septiani
Judul Buku : Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta
Penulis : Mohammad Ali Ma’ruf
Penerbit : Buku Mojok
Tahun Terbit : 2021
Kutipan dari Buku : “Hal yang
paling pertama terbesit di kepalaku tentu saja keinginan untuk membuat
perpisahan sebaik mungkin, meskipun sadar bahwa sebaik-baiknya perpisahan tetaplah
buruk. Lagi pula, ternyata panjang dan melelahkan sekali menulis dan membuang
satu per satu ekspektasiku ke kamu. Tapi, tidak apa-apa sebab kita pernah
saling cinta.” – Mohammad Ali Ma’ruf
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW BUKU PIKIRAN FAJAR "YAUDAH, TERIMA AJA"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar