Semburat lembayung yang
dipancarkan dengan indah oleh-Nya hadir bersamaan dengan langkah kaki kami di trotoar.
Sepulang dari penat kesibukkan di kantor tadi, aku sengaja mampir ke warung
kopi, biasa aku dan dia mengobrol. Menghabiskan 2 jam disini hanya untuk
menemaninya berceloteh.
Wajahnya nampak terpaksa
menunjukkan keriangan. Entah apa yang terjadi.
“Kamu kenapa lagi?”
“Entahlah, aku capek.”
“Tapi kamu harus pulang.”
Ia menggeleng dan
menyandarkan kepalanya ke pundakku. Sungguh, ini membuatku risih. Aku hanya
takut jika ada yang melihat nantinya akan menimbulkan fitnah yang tak
terelakkan. Ahh, Dee.
“Pulang yuk. Sudah malam.”
Ia menggeleng sambil
mengunyah mie.
“Aku belum mau pulang.”
“Apa perlu aku telpon adik
kamu?”
“Eh jangan.”
“Ya kalau nggak mau, kamu
harus cepat pulang. Nurut dikit bisa?”
Ia menghela napas dan
mengangguk. Akhirnya ia menurut juga.
Di perjalanan, ia
membisu. Menganggapku sebuah arca yang tak bisa diajak bicara. Aku tahu, kalau
kondisinya seperti ini tandanya ia sedang marah.
“Kamu marah, Dee?’’
Ia hanya menggeleng.
“Oh, ya udah.”
Ia tersentak, dan
menoleh padaku.
“Kok gitu doang?”
“Lah tadi kata kamu
nggak kenapa-kenapa.”
“Ah kamu nyebelin ! hibur aku gitu, candain aku,
nyanyi gitu hibur aku.”
Aku tersenyum padanya.
“Dee, kamu tuh mirip
ABG umur 16 tahun. usia kamu sudah 24 tahun.”
“Yaa dan kamu 30 tahun.
Wajarlah kalau sifat aku masih kayak gini.”
“Hmmm iyah deh. Yang penting
sekarang aku antar kamu pulang. Jangan pulang malam-malam, ndak baik.”
Ia mengangguk patuh.
Jalan Flamboyan no.27
Aku sampai di depan
rumahnya. Namun tidak ada kata-kata penutup dari kami. Malah yang aku lihat
adalah air yang mengalir dari pipinya dan sedikit isakan.
“Dee, nggak usah nangis
lah. Udah gede.”
Ia memalingkan wajahnya
dariku seolah-olah membenci.
“Dee, kamu harus
pulang. Nggak bisa kamu terus-terusan lari. Dewasalah..”
“Dewasa kamu bilang? Aku
udah dewasa, tapi kenapa masih di atur-atur? Dan kenapa kamu nggak coba ungkapkan
lagi waktu itu, key? Kenapa nggak coba lagi?”
Kepalaku seperti di
timpah batu besar. Kuakui bahwa semesta memang tak pernah lepas mengintervensi kehidupan jiwa-jiwa
yang mudah rapuh. Bibir ini tak lagi mampu mengucapkan kalimat yang tersusun rapi
dan menenangkan hati yang gelisah. Ku hela napas panjang dan menghembuskannya
perlahan.
“Dee.. tolong, aku
bingung. Sebaiknya sekarang kamu turun, kamu pulang. Ibu kamu pasti sudah
menunggu di dalam.”
“Keyla ! Kamu dengar
ya.. aku nggak pernah mau menikah dengan orang yang tidak sama sekali aku
cintai. Orang yang aku mau itu kamu, Key !”
“Iyah aku tahu, tapi
ini rumit dee. Aku nggak punya pilihan lain ketika kamu menolak lamaranku. Memang
terbesit dalam benakku untuk mencobanya lagi, namun aku takut. Dan setelah kau
menolak yang bisa ku lakukan hanya
pasrah dan mencoba untuk ikhlas. Aku mengikhlaskanmu. Aku sudah
mengikhlaskanmu.”
“Tapi aku berharap kau
mencobanya sekali lagi, key.. kenapa Tuhan nggak pernah adil? Dan kalaupun
Tuhan Maha Mendengar mengapa tidak menghiraukan isi hatiku, Key? Aku maunya
kamu.”
Dee hanya menangis,
namun aku coba untuk menenangkannya. Jemarinya yang seputih batu pualam ku
genggam dengan erat.
“Dee.. 5 hari lagi kamu akan
menikah. Ini hari terakhir aku antar jemput kamu kerja. Pesan dariku jangan
lari-larian lagi, jangan main-main lagi. Aku mohon sama kamu. Jadilah ibu rumah
tangga yang baik, hilangkan kebiasaanmu menunda, nggak baik. Dan satu lagi..
kalau mau kentut bilang-bilang ya. Hilangin
tuh kebiasaan kamu yang satu itu. Kamu cantik, loh. Nggak bagus kayak
begitu. Dee sudah dewasa.”
Ia malah tersenyum
begitu mendengar ucapanku. Aku pun membalas senyum sambil mengacak-ngacak
rambut hitamnya.
“Key, aku lupa satu hal.”
Ucapnya sambil merogoh
tas coklatnya, ternyata ia memberikan kartu undangan pernikahannya dengan Bill.
“Okay, aku pulang dulu.
Aku harap kamu datang yaa. Thanks, key..”
Ia keluar tanpa menoleh
sedikitpun ke arahku. Malah raut wajahnya terlihat amat kecewa dan benci. Sangat
benci padaku.
****
Teruntuk Dee..
Terimakasih karena kau
telah memberikan rasa sakit terindah yang pernah ku alami. Aku tak bisa
membencimu, karena kau pernah hadir memberikanku tawa dan kebahagiaan. Namun sejujurnya
jika boleh sekali lagi aku berbicara padamu, rasanya tak pantas jika kita saling
membenci setelah kita pernah saling bersama dan saling berbagi kasih, dan jangan pernah kau malah menyangka Tuhan tidak adil.
Tuhan Maha Tahu mana yang terbaik, Dee. Mungkin Bill memang lebih baik dariku. Kita
masih bisa menjadi teman baik.
Dan jika memang kita
tak berjodoh di dunia, mungkin kita bisa bersatu di akhirat nanti. Aku yakin
itu…
****
Komentar
Posting Komentar