Assalammu'alaikum teman-teman, bagaimana kabarnya? semoga baik-baik saja yaa. Mohon maaf sebelumnya karena hampir 1 tahun gue nggak nge-blog, ada positif dan negatifnya juga. Positifnya adalah, gue menampung banyak cerita dan opini yang bisa gue share ke kalian selama 1 bulan kedepan dan negatifnya adalah gue berproduktif di blog sendiri. Alhasil blog gue banyak debu, sarang laba-laba, dan serangga-serangga lainnya.
Tahun 2017 adalah tahun yang bisa dikatakan tahun yang berat dan gereget. Dimana pada tahun 2017 gue resmi meraih predikat Mahasiswa tingkat akhir. Tapi bagaimanapun juga gue harus tetap berpikir baik agar kedepannya juga hal yang baik-baik datang, Amin.
Tahun 2018, angka belakangnya bagus. Gue suka banget angka 8, hal ini juga tercermin karena rapor gue sewaktu SMP sampai SMA dominan angka 8 di setiap matapelajaran, terlebih di matapelajaran IPA (Chemistry and Biology). Tapi pada akhirnya gue menyadari bahwa itu tidak menjamin bahwa gue bisa masuk ke prodi yang gue inginkan. Yap, pilihan pertama Teknik Kimia, dan pilihan kedua adalah Pendidikan Biologi. Ujung-ujungnya gue nyasar ke prodi pilihan terakhir yang sama sekali gue nggak tahu apa itu balance sheet (Jadi anak Ekonomi dan Bisnis), dan diawal kuliah gue sempat di ejek sama mereka-mereka yang dominan alumni anak IPS di sekolahnya "Kok anak IPA kuliah Ekonomi? Gaya, sih. Sok masuk IPA" Hey, kalau nggak ada anak IPA anak ekonomi juga nggak bisa makan, nggak akan ada kerjaan ngitung ekspor atau impor komoditi. Kalian emang mau terjun ke sawah, masuk ke kebun, masuk hutan, masuk gunung api, menyelam ke laut, terbang keluar angkasa? *Fin, STOP IT*
Tahun 2018, awal tahun ini pula gue malah mengalami hal mistis. lagi dan lagi. Sekali lagi mungkin ini gift dari Yang Maha Kuasa, yang harus gue syukuri, dan gue manfaatkan sebijak mungkin. Gue kali ini tidak melihatnya langsung, tapi dia "mampir" ke mimpi gue setiap malam gue tidur. Sudah 5 hari terhitung sejak tanggal 4 Januari 2018 dia hadir. Sosok ini beda dari yang lain, dan gue baru lihat dia pertama kali. Pertama kali gue mimpi sosok Noni Belanda. FYI, buat yang belum tahu siapa itu Noni Belanda, Noni adalah panggilan bagi perempuan keturunan Belanda atau Indo dan belum menikah pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Biasanya diberikan sebagai nama panggilan sayang kepada anak perempuan, Kekasih atau istri yang sangat dicintai dan juga dipakai untuk nama asli (Sumber, Wikipedia Indonesia).
Yap, dia hadir ketika gue sedang tidur. Kronologinya kurang lebih seperti ini. Tepat pukul 1 dinihari, selepas mengerjakan tugas perkuliahan, gue pergi ke toilet. Cuci muka, menggosok gigi, sehabis itu langsung berbaring di tempat tidur. Di dalam mimpi ini gue ada di satu tempat yang tidak asing buat kalian yang berdomisili di Jakarta Pusat, nama tempatnya adalah Museum Taman Prasasti. Gue belum pernah datang ke tempatnya langsung. Tapi ketika gue melihat foto-foto kakak gue yang pernah mengambil foto di spot ini, serta salah satu situs internet yang mengulas tempat ini ternyata memang tempat ini terkesan unik, uniknya adalah di tempat ini kita tidak bisa leluasa datang untuk berwisata, dan di tempat ini nggak cuma ada prasasti, tapi disini yang gue tahu ada makam orang Belanda serta ada makam salah satu sosok yang gue sukai, gue nge-fans sama dia yakni Soe Hok Gie.

Singkat cerita, gue lagi duduk di dekat sebuah prasasti yang bentuknya cukup keren dimata gue. Disana gue lagi nulis, sendirian, waktunya sore hari. Disela-sela kesibukan gue itu, dari kejauhan gue melihat sosok Noni Belanda ini. Dia berdiri, rambutnya berwarna kemerahan, ikal, berponi, dia cantik dengan dress yang dia kenakan berwarna putih, tapi warnanya agak kusam juga. Dia juga pakai sarung tangan panjang yang menutupi sikutnya dengan warna yang senada, tapi yang sangat disayangkan adalah dia tidak mengenakan alas kaki alias nyeker. Bayangin sama kalian, ada perempuan Indo, cantik, tapi nyeker, dia kayaknya habis ibadah tapi sepatunya hilang di ambil orang. Astaghfirullah. Maling !
Dia hanya berdiam diri, tanpa sepatah kata. Jarak gue sama dia nggak terlalu jauh, sih. Sekitar 15 meter. Selama gue menulis ya dia tidak melakukan apapun. Tanpa senyuman, tanpa lambaian tangan, tanpa ada pergerakan. Pokoknya cuma diam persis mirip patung malaikat di kuburan sekitar.
Gue terbangun, gue cuma bingung akan mimpi tersebut. Akhirnya gue berkata "Ah cuma mimpi." Tapi keesokan malamnya gue bermimpi hal yang sama. Dan kegiatannya juga gue masih sama, gue nulis, buku catatan gue pangku, tangan kanan pegang ballpoint, gue dan Noni Belanda itu juga masih di posisi kita masing-masing. Mimpi ini terus berulang sampai hari ke-4. Dan pada hari ke-5 mulai ada perubahan. Si Noni Belanda ini menghampiri gue dengan senyuman yang manis. Awalnya gue takut, tapi ternyata dia ramah. Jika dilihat dari wajahnya, usia dia sekitar 18 tahun. Sayangnya gue nggak sempat tanya nama dia siapa.
Guys, perlu kalian tahu bahwa Noni Belanda yang gue temui dalam mimpi itu wajahnya cantik, dia juga lebih ramah daripada Kuntilanak yang pernah bahkan sering gue lihat. Dia lebih banyak senyum ketimbang ketawa, kalau si "Tante" Kunti itu suka cekikikan nggak jelas. Mending kalau suaranya itu setan merdu, lah ini?
Kami sempat berdialog secara singkat, gue bertanya rumah dia dimana tapi dia cuma menjawab "Nanti kamu juga tahu." Pelit. Gue kaget ternyata dia mengerti dan bisa Berbahasa Indonesia. Pertanyaan selanjutnya ini gue merasa bersalah, karena pas gue bertanya "Kamu meninggalnya kenapa?"Eh dia langsung cemberut dan menangis. Hantu kok ya baper? Maklum, sih. Semua makhluk juga bisa baper. Hehehe.
Dia tidak menjawab, dia malah nangis. Tapi nggak tahu kenapa pas gue bangun karena alarm adzan subuh dari hp, mata dan pipi gue basah. Gue malah ikutan nangis sesenggukan di dunia nyata. Sampai sekarang ini jujur gue masih penasaran dan kepikiran kenapa gue mimpi bertemu dengan Noni Belanda, saking penasaran dan kepikiran imbasnya ya ke proposal skripsi gue juga. Jadi lebih banyak revisi *HUF* Kadang kalau lagi asyik ngetik, gue suka halusinasi. Yang bisa gue lakukan cuma ber-istighfar, atau berwudhu.
Hal baik yang bisa gue ambil dari mimpi gue itu selama 5 hari adalah, sekali lagi gue sampaikan bahwa setiap ciptaan-Nya pasti mengandung tanda dan tidak ada yang sia-sia. Mengapa Allah menciptakan jin, dan gue sampai saat ini percaya dengan mereka yang tak terlihat. Karena kembali lagi bahwa gue dikasih "mata berlapis". Anehnya terkadang masih banyak yang bertanya ke gue, kenapa percaya sama dunia ghaib? Simple aja. Kalau kita tidak percaya dengan dunia ghaib, bagaimana kita percaya dengan DIA yang menciptakan kita? Buat kalian yang beragama Islam, coba ingat lagi Rukun Iman point ke-3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah swt. Bukankah sudah tertulis jelas dalam Al-Qur'an dalam surah Al-A'raf ayat 179 dan surah Ar-Rahman ayat 33? Kita sebagai orang muslim diperintahkan untuk beriman bukan? Silahkan buka Al-Qur'an kalian setelah membaca ini. Insya Allah kalian bisa memahami.
Mungkin itu saja yang bisa gue sampaikan, kurang lebihnya mohon dimaafkan. Selamat membaca tulisan Helena Vector selanjutnya.
Wassalammu'alaikum wr.wb
Komentar
Posting Komentar