Selamat pagi/siang/sore/malam, buat kalian yang mampir ke blog gue. Kali ini gue mau bahas soal Hate Speech. Gue rasa kalian tidak asing dengan topik ini. Karena setiap harinya kadang kita suka melihat, mendengar, bahkan membaca baik itu di sosial media atau di dunia nyata sekalipun. Nggak percaya? Coba perhatikan sosmed kalian. Baik itu facebook, twitter, instagram, pasti ada aja yang berbicara bernada Hate Speech. Atau kalian juga pernah melakukannya? Gue pernah kok. Hihi, memalukan memang. Tapi gue berbicara tentang topik ini karena ini memang hal penting yang mau gue bahas di blog. Semoga yang membacanya bisa ambil yang baik, yang buruknya jangan diambil.
Gue mengambil sampel sebanyak 3 orang untuk gue wawancara tentang topik ini, guys. Salah satu dari mereka mengatakan kalau Hate speech itu merupakan salah satu tindakan untuk menjatuhkan, menyakitkan orang lain lewat komunikasi verbal maupun non verbal. Sifatnya mengandung rasa kebencian jika kita melihat di lingkup mikro, akan tetapi bisa sampai cenderung mengancam jika didukung oleh berbagai faktor seperti uang contohnya, itu jika dilihat di lingkup makro. Bisa terbayang oleh kalian ya kalau ada individu yang sakit hati karena ucapan temannya atau ucapan orang lain, dia sakit hati, terus dia mau balas dendam sampai orang itu jera atau bahkan musnah dari muka bumi. Dia punya uang, dia beli shotgun, dan WHOILA.... (bayangkan sendiri apa yang terjadi).

Individu yang membenci karena suatu hal, dilakukan oleh individu lain atau oknum tertentu, pasti bisa melakukan apa saja, lho. Entah itu karena berawal dari sakit hati, atau karena hal lain. Apalagi sekarang ini kita yang hidup di era sosial media. Akses dimana-mana bisa kita dapatkan, bahkan menurut gue internet, gadget, laptop, didukung dengan adanya WiFi, itu bukan lagi kebutuhan sekunder tapi mendekati primer. Dilansir dari arabic.rt.com pada tahun 2017 terdapat 10 negara yang dimana masyarakatnya tidak bisa lepas dari internet, dan yang mendapatkan peringkat pertama adalah India. Sebanyak 82% masyarakat di India tidak bisa lepas dari yang namanya internet alias sudah ketergantungan a.k.a ADDICT. Namun hal itu juga bisa berdampak buruk pada manusia yang hakikatnya adalah makhluk sosial.
Melihat hal diatas, kita yang di Indonesia juga sangat mudah mendapatkan akses internet, namun dengan mudahnya juga kita "melempar" kebencian lewat internet. Entah itu hanya karena kita berbeda opini, segampang itu kita berantem dengan orang yang kita kenal maupun yang belum kita kenal hanya karena kita beda. Pernah lihat video gadis belia yang sempat viral di internet karena dia melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan bahkan di sebar via akun instagram miliknya? (You-know-who). Banyak yang menghujat, mencaci, menghardik, mencela, bahkan sempat gue lihat di salah satu foto miliknya ada yang berkomentar dengan kata-kata kotor dan sebenarnya nggak pantas juga orang itu mengatakan demikian di sosial media. Tidak hanya satu, namun ribuan orang yang mengomentari satu foto. Itu baru satu foto, belum videonya. Sedangkan ini orang update foto dan videonya sudah berapa ratus, ditambah juga orang yang berkomentar pedas?
Hate speech juga tidak bisa dipisahkan dengan Freedom of speech. 2 instrumen ini mirip kayak otak dan hati manusia, berlawanan. Kita lebih mementingkan diri sendiri, atau memilih untuk berempati. Banyak orang yang berbicara atau beropini akan suatu hal dengan mengatasnamakan Freedom of speech a.k.a Kebebasan Berbicara. Dibalik keyboard laptop atau ponsel pintar yang kita punya ibarat sebuah perisai diri. Orang dengan mudahnya menebar kebencian, suka nggak suka, mau nggak mau, bagaimanapun juga itu jadi warna tersendiri akan kehidupan ini. Tapi apa perlu kita menyakiti orang lain, saling benci, bahkan berantem hanya karena kita beda? Hmmm itu termasuk egois nggak, sih?
Gue percaya, dibalik 2 perbedaan itu banyak warna, banyak keunikan, dan banyak inspirasi yang bisa kita ambil. Karena Allah swt menciptakan manusia, menciptakan tumbuhan nggak cuma satu. Agama juga di negeri ini nggak cuma satu, ras, suku, warna kulit, dan bahasa juga nggak cuma satu. Seperti yang kak Gita Sav bilang "world can be better place if you know how to respect each other and see each other as a human being."
Wassalammu'alaikum wr.wb
Komentar
Posting Komentar