Assalammu’alaikum wr.wb
Hai semua, apa kabar? Semoga sehat
selalu, selalu berdo’a agar tetap dalam lindungan Allah swt. Amin. Oh iya, kali
ini gue mau bahas tentang kabar yang kemarin pagi gue baca beritanya. Sekitar
jam Sembilan, awalnya gue lihat di insta-story
di akun instagram teman. Agak kaget
juga sebenarnya. Lagi-lagi gue baca sebuah kabar tentang bunuh diri. Kalau beberapa
waktu lalu kita di hebohkan dengan kabar bunuh diri salah satu personel boy
band Korea yang enggak asing di telinga para K-popers, kemudian di facebook
juga gue lihat video seseorang yang gantung diri di lampu jalanan Ibu Kota pada
malam hari, kali ini gue baca berita tentang seorang Mahasiswa di salah satu
perguruan tinggi swasta ternama di Bandung tewas gantung diri di kamar kost
nya. Gue mencari tahu kabar ini via internet mengapa dia sampai melakukan hal
tersebut. Dilansir oleh salah satu kabar berita online, motif bunuh diri Mahasiswa
yang berinisial AR, asal Batam, Riau, melakukan bunuh diri karena sadar akan
kesalahannya. Kesalahan yang almarhum lakukan ini adalah karena ia jarang kuliah
selama dua tahun. Ketika gue baca beritanya juga disana disebutkan bahwa
almarhum AR angkatan 2014 baru mengikuti matakuliah sebanyak 50%, sedangkan
syarat untuk kelulusan perkuliahannya itu sebanyak 140 SKS. Gini teman-teman.
Dia satu angkatan ternyata dengan gue. Seharusnya dia sudah lulus atau
melakukan sidang akhir karena memasuki semester delapan. Di tulisan kali ini gue
enggak mau membahas jauh tentang kenapa almarhum melakukan bunuh diri, gue lebih
ingin membicarakan “bunuh diri” itu sendiri.
sumber: Megapolitan Kompas
Bunuh diri. Menurut gue, orang yang
melakukan tindakan seperti ini sudah mati rasa. Karena dia sudah tidak berpikir
apakah nanti ketika menembakkan pistol ke kepala atau menggantung leher dengan
tali, merasa sakit atau tidak. Selain itu, mereka yang melakukan bunuh diri
sudah tidak percaya dengan kehidupan yang selanjutnya ada. Yang jelas di dalam
pikiran dia adalah “gue sudah capek” atau “gue mau mengakhiri hidup”. Ada
faktor-faktor yang bisa menentukan mengapa orang melakukan bunuh diri. Pertama,
niat dan tujuan hidup. Semua orang pasti punya impian dan untuk mengejar
impiannya pasti punya niat serta tekad untuk meraih mimpi. Tinggal bagaimana
cara orang tersebut memilih jalannya. Apakah dengan cara halal, atau cara
haram. Semua yang dipilih seharusnya sudah bisa ia tanggung risikonya. Baik
besar, maupun kecil tetap harus diterima. Namun dari risiko yang akan dihadapi
oleh kita masih bisa di minimalisir dengan melakukan strategi. Mereka yang
bunuh diri, bisa di bilang sudah tidak punya tujuan hidup atau bahkan
menyimpang dari niatnya sehingga ketika sudah menyesali perbuatan bukannya
mencoba untuk memperbaiki malah lari dari apa yang telah diperbuat. Kedua
adalah iman. Kembali kepada tingkat keimanan seseorang. Keimanan memang bisa
naik dan bisa juga turun, tergantung bagaimana motivasi seseorang. Jika ia
beragama Islam, apakah ia menerapkan rukun iman dari satu sampai enam, atau
tidak? Karena hal ini patut dipertanyakan. Berkaca pada Qada dan Qadar, ada
takdir yang sudah digariskan oleh Allah swt tentang kehidupan setiap manusia
yang tidak bisa diganggu gugat, dan ada pula takdir yang masih bisa diubah oleh
manusia. Terkait seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri bisa dipastikan
ia tidak mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan dan menentang kehendak
Allah. Alangkah baiknya kita tetap terus berhusnudzon kepada-Nya, karena kalian
harus percaya bahwa letak keadilan Allah sungguh ada. Ketiga adalah sikap Optimis.
Ini adalah point yang sangat berhubungan dengan kedua point tadi. Tetap
berusaha dan berhusnudzon kepada Allah, karena semua yang terjadi pada diri
kita ada hikmahnya.
Sedikit sharing saja untuk kalian
terutama para calon Mahasiswa diluar sana. Kemarin malam saat sedang menyelesaikan
pekerjaan, gue iseng sambil live streaming di instagram dan ternyata ada yang
bertanya “kakak kuliah dimana?” gue jawab, setelah dijawab dia bertanya kembali
“Sebelum masuk ke PTS (perguruan tinggi swasta) pernah nyoba masuk PTN juga
enggak?” gue jelasin juga awal perjuangan “berlomba” dengan calon mahasiswa
yang lain buat masuk PTN dengan jurusan yang gue idamkan dan kuliah gratis. Mulai
dari mengikuti SNMPTN, SBMPTN, UMPTN, sampai SIMAK (buat yang ngebet masuk UI
pasti tahu ini). Tapi apa yang gue mau belum bisa Allah kasih. Nangis enggak
diterima PTN? Iyah. Nangis tapi enggak lama-lama. Keep go on ! Setelah kelulusan
sekolah gue cari informasi sana sini. Akhirnya gue diterima di salah satu perguruan
tinggi swasta dengan jurusan pilihan kedua, bukan pilihan pertama yang sesuai
dengan apa yang gue mau. Agak nyesek tapi tidak terlalu seperti enggak lolos ke
PTN karena insya Allah tujuan gue kuliah saat itu jelas “untuk apa dan kenapa
harus kuliah.”
Awal semester kuliah di PTS tidak buruk
seperti yang ada di dalam pikiran orang pada umumnya. Banyak yang bilang kalau
di PTS itu mahasiswanya pada sombong karena mereka orang berada, makanya bisa
kuliah di PTS. Tapi setelah gue masuk ke lingkup yang katanya orang bilang,
ternyata enggak. Malah gue kaget dan banyak bersyukur karena gue dipertemukan dengan
teman-teman yang selama ini gue mau, mereka yang berasal dari latar belakang
yang beragam, punya semangat belajar yang luar biasa, punya visi besar, banyak
cerita yang memotivasi diri ini supaya menjadi lebih baik lagi, dan yang
terpenting adalah mereka tidak pernah lupa untuk mengajak gue ke masjid untuk
shalat, mengajak untuk ikut kajian, ikut seminar diluar kampus, belajar bareng,
dan kegiatan positif lain. Jujur, selama gue hidup baru kali ini dipertemukan
oleh orang-orang seperti mereka. Mungkin kalau gue dulu diterima di PTN, bisa
saja gue enggak bisa merasakan seperti saat kuliah di PTS. Gue bisa ikut
kegiatan diluar dan didalam kampus, bisa kenal dekat dengan dosen yang luar
biasa, bisa kembangkan potensi yang gue punya, bisa punya banyak teman dari
semua fakultas dan prodi, tahu akan berorganisasi, bahkan bisa lulus cepat 3,5
tahun. Ya meskipun pada prosesnya pernah “jatuh ke jurang” sehingga ada satu
mata kuliah yang mengulang di semester empat dan harus mengulang di semester
enam, tapi itu risiko yang sudah harus gue tanggung.
Allah Maha Adil. Dunia belum berakhir
hanya karena kita ketinggalan mata kuliah atau IPK kita anjlok. Kalau kita mau
bekerja keras untuk mengejar yang tertinggal, ya kenapa enggak? Kita hidup di
dunia ini tidak sendiri. Hakikatnya manusia adalah untuk berbaur dengan
sekitar. Kita gunakan semua anggota tubuh untuk bergerak, pikiran dan akal untuk
berpikir, bukan untuk menyesali apa yang terjadi. Terakhir sebagai penutup, untuk
keluarga dan kerabat yang ditinggalkan oleh almarhum AR semoga diberikan
ketabahan dan kekuatan, untuk almarhum gue do’akan semoga Allah mengampuni dosa-dosanya,
tetap diterima di sisi Allah swt, Amin.
Wassalammu’alaikum wr.wb
#BedahTulisanBM
Cc: @Novia Syahidah Rais
Komentar
Posting Komentar