Langsung ke konten utama

Unggulan

REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"

Gue memutuskan untuk membeli buku ini saat kegiatan Banten Bookfair 2023 berlangsung di gedung Perpustakaan Daerah Banten pada 18 Mei 2023 silam. Kegiatan yang mempertemukan gue kembali dengan sobat karib bernama Gebrina Sephira, atau biasa dipanggil Gegeb, merupakan suatu keberuntungan. Merasa beruntung karena sudah cukup lama tidak bersua sambil membahas buku-buku yang sedang trending, maupun membahas buku-buku lama namun masih layak untuk dibaca. Terlebih di acara tersebut, gue bisa langsung bertatap muka dengan salah satu penulis kondang yang bukunya menjadi best-seller di tahun 2019. Henry Manampiring, penulis buku bertema filsafat berjudul Filosofi Teras. Tapi kali ini gue belum mau bahas Filosofi Teras. Gue bakal bahas buku yang mana sosok didalamnya cukup menyita perhatian setelah beliau meng-cover lagu milik Lisa Loeb berjudul Stay pada tahun 2021 di kanal YouTube Foo Fighters. gambar: pribadi A.      TENTANG BUKU Buku ini ditulis oleh Gilbert Chocky, ri...

KALA PENYENDIRI MENGINGINKAN TEMAN


Suara yang bersahut-sahutan dari pengeras suara yang menggantung di setiap sudut dinding stasiun masih meneriakkan pengumuman bahwa kereta yang akan aku tumpangi akan tiba dalam lima menit. Nampaknya langit akan turun hujan, semoga saja tidak. Aku menggigit wafer coklat sambil ditemani hangatnya matcha latte, jam tangan hitamku menunjukkan pukul dua siang. Aku menengok ke sebelah kanan, nampak sepasang muda-mudi sedang bergandengan tangan sambil berjalan menyeret koper. Tidak jauh dari sana ada seorang ibu penjual pecel yang sedang melayani pembeli. Aku hanya tersenyum kecil. Ponsel bergetar dari dalam saku tas cangklong merah. Aku rogoh dan mengambil ponsel. Tiga pesan whatsapp masuk darinya. Bertanya apakah sudah naik kereta atau belum, sudah makan atau belum, dan diperjalanan apakah aku mengobrol dengan supir taksi? Sekadar basa-basi atau membahas topik terhangat. Lagi-lagi hanya tersenyum dan menatap orang-orang yang duduk di kursi tunggu. Kembali ku taruh ponsel kedalam tas dan mengunyah wafer.
          

Tiga menit berlalu, sebentar lagi kereta yang aku tumpangi tiba. Segera aku masukkan camilan kedalam tas cangklong dan aku pegang satu cup berukuran sedang berisi matcha latte dengan tangan kanan, ku gendong ransel kesayangan yang tak pernah lelah menemani kemanapun aku pergi. Kali ini rasanya tidak terlalu berat karena memang aku tidak membawa banyak pakaian. Aku menebak penumpang kereta hari ini tidak ramai. Ahh benar ternyata. Aku langkahkan kaki dan berjalan didalam gerbong. Memilih tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan.


Lagi-lagi ponselku bergetar, kali ini bukan pesan whatsapp melainkan telepon dari bunda.

“Nduk, nanti kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar. Jangan lupa juga pesanan adikmu.”

Aku mengerutkan kening. ‘Pesanan adik?’

“Pesanan apa memang, kok Dika enggak bilang?”

“Lehh piye?”

“Ya sudah nanti Ranti hubungi Dika lagi, bun”

“Ya. Hati-hati nduk.”


Aku tersenyum sambil menutup telepon. Punya adik bujang sekaligus bungsu itu memang sulit. Terkadang banyak maunya terlebih sekarang-sekarang ini, ingat saat aku baru empat bulan bekerja di salah satu perusahaan media televisi swasta. Baru gajian pertama turun, eh dia sudah malak. Meminta satu action figure Gundam yang aku tidak paham darimana bagusnya. Alangkah lebih baik jika aku belikan ia replika sepeda Onthel atau sebuah Angklung, atau kaos. Walaupun begitu, aku sangat menyayanginya.


Suara decitan rel kereta dan tembang dari Nadya Fathira lewat earphone yang aku pasang di kedua telinga menemani perjalananku menuju Kota Pendidikan. Aku bernyanyi dengan suara kecil, bahkan aku hanya bersenandung. Ponselku bergetar kembali dan kali ini pesan darinya lagi-lagi meramaikan. Aku menghela napas dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Ada apa dengannya akhir-akhir ini?


****

“Ran, kita jadi makan enggak nih?”

Ucapnya sambil menghampiriku yang sibuk mengetik tugas. Ia hanya memperhatikanku sambil memutar-mutar ponsel dengan jemarinya.

“Kamu enggak lihat aku lagi ngapain?”

“Iyah aku tahu kamu masih ngetik tugas dari Bu Chyntia, tapi kamu enggak lapar? Sudah 4 jam kamu duduk disini !”

Aku hanya menggeleng sambil berdeham. Terus mengetik beberapa paragraf lagi. Menyalin hasil penelitian dari lima jurnal yang aku pinjam.

“Ayam penyet enak, nih. Apalagi kalau ditemani sama es teh manis. Kamu enggak ngiler?”

Aku menggeleng lagi.

“Ran.. ayolah.”

Seketika jemari berhenti mengetik dan aku memandangnya. Wajahnya dibuat sok imut sambil menyimpulkan jarinya, menandakan ia memohon dengan sangat.

“Oke. Kita ke kantin. Tapi tunggu lima menit lagi.”

“Ahh kelamaan !”

“Emangnya kamu enggak bawa bekal? Biasanya kamu rajin bawa.”

Ia menggeleng sambil cemberut. Aku cekikikan melihat ekspresinya.

“Ya sudah, yuk !”

Aku membereskan tumpukan jurnal, buku, ballpoint, dan spidol warna yang hampir terjatuh. Laptop aku buat sleep mode dan menitipkannya pada teman sebelahku. Kami keluar perpustakaan sambil mengaitkan kelingking satu sama lain.

“Mau makan di lantai atas atau lantai bawah?”

“Hmm, enak diatas kayaknya. Adem, banyak angin.”

Ia mengangguk sambil tersenyum. Manis.

“Ehh tapi gigi kamu masih ngilu enggak kalau makan, bukannya kamu baru pasang kawat gigi?”

Aku menggeleng sambil memamerkan gigiku yang berhiaskan kawat gigi.

“Untung kamu lucu, loh. Coba kalau kamu jelek.”

“Emang kalau aku jelek kenapa?”

“Yaa nggak apa-apa. Palingan….”

“Palingan apa, palingan kamu enggak anggap aku sahabat lagi?”

“Su’udzon.”

“Habis apa kalau aku jelek?”

“Ya kalau kamu jelek, aku jelek juga. Biar sama-sama jelek, seimbang bukan?”

“ihh, nyebelin.”

Aku meninju pelan lengannya, ia tertawa sambil berlari meninggalkanku. Orang-orang hanya tersenyum pada kami.

Tidak perlu lama menunggu, dua piring ayam penyet dan dua gelas es teh manis siap santap dihadapanku. Namun entah kemasukan setan apa aku juga ingin makan cilok dan cakwe. Alhasil meja makan kami berdua nampak ramai.

“Kamu kesurupan?”

Aku nyengir sambil menuangkan saus sambal di piring cakwe dan cilok yang telah dilumuri saus kacang. Tidak lupa pula aku peras jeruk limau agar rasanya lebih mantap. Ia menggeleng sambil melotot.

“Awas nanti kalau kamu nimbang badan terus kaget lihat angkanya diatas berat badan sekarang, kamu marah-marah, aku juga kena semprot, terus kamu bete seharian.”

Aku mengerutkan kening dan menyentil jidatnya yang lebar.

“Sejak kapan kamu lihat aku ngeluh naik berat badan?”

“Ya semua cewek kan begitu.”

“Logika matematika, semua cewek, semua. Namun ada beberapa yang tidak.”

Ucapku sambil menjulurkan lidah. Ia tersenyum dan mencubit pipiku.

“Gimana matkul Metodelogi Penelitian, enak dosennya?”

“Iihh asyik banget dosennya. Bersyukur masuk sesi 01. Kamu siapa dosennya?”

“Dosen aku bosenin cara mengajarnya. Baru masuk 10 menit, kita udah kayak ayam tetelo yang angguk-angguk. Ngantuk !”

Aku tersenyum sambil menyedot es teh manis.

“Kalau aku beruntung, karena teman-temanku seru semua. Dosennya apalagi. Tapi dengar-dengar sih dari senior, beliau ini orangnya pelit nilai. Sedangkan matkul ini 3 SKS.”

“Wahhh, kamu harus buru-buru tobat dan harus berperilaku baik. Apalagi sama anak kost kayak aku.”

“Maksudnya?”

“Ya kamu bilang dosennya asyik tapi pelit nilai, supaya dipermudah dan diberi nilai bagus, kamu harus ubah sikap kamu yang mengacuhkan sahabat. Udah gitu kamu juga harus sering-sering sedekah sama anak kost. Yaa minimal traktir makan menu kayak gini tiap hari.”

“Idih ngarep banget. Itu sih bukan sedekah namanya. Tapi kamu morotin aku !”

Kami tertawa sambil menikmati sore hari di kampus. Tidak terasa sudah 6 semester aku bersamanya. Entah setelah ini apakah kita fokus dengan tujuan masing-masing, atau masih terus bersama?




                   


                   ****


Dini hari
@Stasiun Tugu, DI. Yogyakarta
Sabtu, 00.15 AM

Aku percaya kalau besok langit Jogja akan memuntahkan panasnya ke bumi walaupun udara dingin Jogja mulai menyelimuti betisku sekarang. Maklum saja, aku tidak mengenakan jeans panjang. Hanya mengenakan jumpsuit yang panjangnya hanya sampai 3cm dibawah lutut. Rambutku terlihat berantakan. Aku menyusuri lorong stasiun untuk mencari toilet. Ponselku kembali bergetar, aku acuhkan. Meraih beberapa lembar tissue dari dalam tas dan menyalakan keran air sembari membasuh wajahku. Namun ponselku masih terus bergetar, tetap aku acuhkan.


Setelah selesai membasuh wajah, aku meraih ponsel. Mencoba mengirim pesan pada orang yang meneleponku sejak tadi. Belum selesai aku mengetik, orang ini kembali menelepon. Aku menghembuskan napas perlahan. Mencoba untuk tenangkan diri.


“Hallo..”


“Ran, kamu sudah sampai? Akhirnya kamu angkat juga teleponnya. Kamu ketiduran yah makanya baru bisa angkat?”


Aku langsung mengakhiri telepon dan bergegas meninggalkan toilet. Keluar stasiun untuk memesan taksi online. Rasanya ingin segera membaringkan tubuh ini di ranjang dan esok hari aku memulai petualangan seru.


Hotel NEO Malioboro menjadi pilihanku untuk bermalam disini selama 3 hari kedepan. Entah rasanya aku ingin melampiaskan rasa kesal dan amarah yang memuncak di kota ini. Menghabiskan malam-malamku di angkringan, menikmati wedang ronde dan sate jeroan yang dilumuri saus kacang sambil ditemani pengamen jalan.


Sesampainya di hotel, aku menaruh backpack di dekat tempat tidur. Melepas jaket denim, dan melepas ikat rambut panjangku yang di kepang, rasanya ingin keramas dengan air hangat karena tubuhku mulai terasa lengket karena keringat. Aku membaringkan tubuh lelahku di kasur yang empuk, sembari dimanjakan oleh bantal dan selimut yang hangat. Kembali aku ambil ponsel dari saku celana dan membuka akun instagram. Melihat beberapa insta-story dan... sangat membosankan, tidak ada yang menarik. Aku menghela napas lagi.


Kalian mau tahu siapa yang tadi meneleponku? Baiklah. Aku ceritakan sedikit. Namanya Putra, lengkapnya Putra Pembangun Harapan. Nama yang unik buatku. Sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang bonafit. Dua bulan lagi ia akan berangkat ke Belanda. Dia yang memberitahuku. Urusan pekerjaan mungkin, aku tidak banyak bertanya. Sosok yang amat bisa menemani hari-hariku dengan tawa dengan guyonan disetiap percakapan.


                ****

“Ran.. congratulations !”

Ucapnya sambil memberikan se-bucket mawar merah plus amplop berwarna merah jambu. Entah berisi tulisan apa.

“Thanks Put.. niat banget ngasih ginian. Haha.”

Putra hanya tersenyum padaku dan mengelus pipiku perlahan. Kami memandang wajah satu sama lain. Ini adalah hari bahagiaku dan hari bahagianya, kami berdua baru saja menjadi sarjana muda. Aku dengan gelar Sarjana Komunikasi, dan Putra dengan gelar Sarjana Teknik.

“Rin...”

“Yah?”

“Aku..”

“Kenapa?”

“Aku..”

“Kenapa put..?”

Kami saling diam dan bingung.

“Aku mau ke toilet, kebelet. Titip hp aku dulu, ya.”

Aku mengerutkan kening dan memasang muka sebal.

“Iiihh apaan sih, putra ?! Yaudah sana, habis ini kita cepat-cepat pulang. Siap-siap buat Prom night !”

Putra berlari meninggalkanku dan barang titipannya. Aku malah tertawa sendiri dibuatnya.


Selesai acara, kami pulang ke rumah masing-masing. Bersiap-siap untuk kembali ke lokasi tempat pelaksanaan Prom night. Aku kebingungan ingin memakai baju apa. Bunda menyarankan agar aku memakai gown satin berwarna maroon, namun model gown itu terlalu terbuka terutama pada bagian pundak. Aku tidak mau memakainya. Alhasil aku memakai pakaian pilihanku sendiri yang terlihat masih sopan dan tertutup. Bunda tidak mempermasalahkan, hanya saja ujarnya ‘sayang, beli mahal-mahal tapi dipakai cuma satu kali’ padahal aku memakai itu juga karena salah beli. Hehehe. Mungkin akan aku jual saja. Selama bisa jadi uang kenapa tidak?


Tepat pukul delapan malam Putra menjemputku, make up natural dan rambut yang sudah di tata rapi oleh bunda nampak mempertegas siapa diriku malam ini. Dia juga sudah menunggu sambil sibuk dengan ponselnya. Nampak sedikit berbeda dengan Putra yang aku kenal. Kalian tahu Andra sang gitaris grup band Dewa 19? Yap. Putra sangat mirip dengan Andra. Rambutnya yang gondrong, tampil ke kampus mengenakan jaket denim berwarna hitam yang aku tahu kalau jaket itu tiga bulan sekali di cucinya, celana jeans yang sobek di bagian dengkul, kini nampak necis dengan pakaian formal. Hmmm aku tidak salah lihat, kan? Putra memotong rambutnya, tapi tidak cepak. Hanya yang tadinya rambut panjang sepinggang, kini pendeknya sebahu dan ia mengikat sebagian rambutnya. Nampak seperti Duta ‘Sheila On 7’ di video klip Betapa. Aku belum siap keluar rumah untuk menemuinya. Sial, mengapa aku gugup sendiri?


“Ehhh, intip-intip. Itu Putra sudah nunggu.”

Ucap bunda sambil merapikan poniku dengan jari tangannya.

“Bun… Ranti deg-degan.”

Bunda mengerutkan kening, tak lama kemudian bunda malah tersenyum-senyum sambil mencubit pelan hidungku.

“Hmm kamu kenapa?”

“Nggak tahu bun, aku deg-degan aja mau ketemu Putra.”

Aku mulai curiga dengan gelagat dan senyuman Bunda.

“Ehhh bunda jangan mikir yang bukan-bukan. Aku sama dia nggak ada apa-apa kok. Kita nggak pacaran dan nggak saling suka. Lagian bunda juga tahu kan aku sama Putra sahabatan dari SMA? Kebetulan juga kalau kita masuk kuliah di satu kampus.”

Bunda malah manyun dan mengejekku.

“Idih, emang bunda bilang kamu pacaran dan saling suka?”

“Eng.. nggak sih.”

“Jadi siapa yang ge-er?”

“Hehehe..”

Bunda mencubit pelan pipiku dan menyerahkan tas kecil hitam padaku.

“Yaudah, aku jalan yah bun. Dadah bunda.”

“Iyah hati-hati sayang, pulangnya jangan malam-malam. Salam untuk Putra, ya?”

“Siap bunda !”

Aku melangkahkan kaki menghampiri Putra yang sedang memainkan video game dari ponselnya.

“Putra..”

“Ehhh. Kok pakai bajunya itu?”

Aku memandangi kaki dan kedua lenganku.
“Kenapa, kelihatan gendut ya?”

“Hmmmm, nggak sih cuma ada yang…”

Ujarnya sambil mengelilingiku, meraih tangan kananku dan berputar-putar seperti dua orang yang sedang berdansa. Hingga akhirnya aku disandarkan pada dinding teras rumah dan ia mendekati wajahnya padaku. Waktu terasa berhenti sesaat.

“Put..”

“Rin, kamu…”

“Iyah?”

“Kamu…”

“Iyah ke.. kenapa..?”

“Yuk berangkat, takut kemalaman !”

Aku tertawa dan mendorongnya pelan.


                  ****

Langit-langit kamar hotel ini terus kupandangi. Mata rasanya belum bisa aku paksakan untuk terpejam. Rasanya ingin segera esok hari. Mencoba untuk bisa cepat tidur, aku berinisiatif untuk mandi. Segera kuambil handuk dan peralatan mandi. Beruntunglah kamar mandi hotel ini tersedia air panas. Masa bodo aku mandi di malam hari meskipun awalnya terlintas perasaan was was kalau besok aku terkena flu. Selesai mandi, ku tengok jam dari ponsel. Tepat pukul dua pagi. Aku berniat untuk beristirahat agar besok bisa memulai petualanganku. Tidak ada suara ponsel kecuali alarm. Mode pesawat aku aktifkan, lampu kamar tak lupa di padamkan.


Oke, selamat tidur.


                  ****


Aku dan Putra melangkah masuk kedalam lift. Tepat di lantai 15, aku, Putra, dan teman-teman lain mengikuti Prom di dalam sebuah ballroom. Acara berlangsung dengan santai. Kulihat yang lain ada yang mengajak pasangan masing-masing. Aku beruntung punya sahabat seperti Putra, kami nampak sangat serasi sampai-sampai Professor Diana, salah satu dosen di fakultasku menyangka kalau Putra adalah pacarku. Nyatanya tidak, dan aku tidak mengharapkan itu terjadi. Jika kalian bertanya ‘mengapa?’ maka aku akan menjawab ‘entahlah. Aku nyaman dengan hubungan seperti ini. Cukup menjadi sahabat terbaik.’


“Put kita duduk dimana? Ramai banget.”

“Hmmm, kita duduk jangan paling depan dan jangan juga paling belakang.”

“Ya tapi kursi dibagian tengah sudah penuh semua.”


Putra menggandeng tanganku dan mencari tempat duduk ditengah keramaian. Disela-sela kami berdua mencari tempat duduk, ada doorman yang menanyakan kami akan duduk dimana, alhasil doorman tersebutlah yang turut membantu kami mencari tempat duduk ternyaman untuk malam ini.

“Disini saja, kak. Karena yang lain juga sudah mulai penuh.”

Kami duduk di kursi yang dekat dengan alumni mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Aku canggung, begitu juga dengan Putra. Memang karena kami berdua tidak kenal satupun dari mereka.

“Ran, anak FISIP mukanya serius-serius semua ya? Bikin sawan !”

Aku cekikikan mendengar celotehnya.

“Huss, apaan sih kamu? Nanti kalau kedengaran terus mereka tersinggung gimana?”

“Yaelah mana ada anak FISIP yang baperan?”

“Yaa takutnya aja ada.”

Tak berselang lama, akhirnya acara dimulai. Pertama adalah sambutan dari beberapa petinggi kampus, disusul sambutan dari rektor, presiden mahasiswa, dan salah satu mahasiswa berprestasi yang tidak aku kenal. Wajar saja, aku memang dikenal oleh Putra sebagai mahasiswa “kupu-kupu” alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Begitu juga dengan Putra yang dikenal oleh teman-teman satu fakultasnya sebagai “kunang-kunang” alias kuliah-nangkring kuliah-nangkring. Tapi ajaib, dia bisa lulus 3,5 tahun bersamaku dengan IPK berpredikat sangat memuaskan. 3,42.

“Put, kamu tahu siapa yang naik ke podium itu?”

Putra berdeham pelan, seolah-olah mengingat sosok yang ada dihadapan kami semua. Padahal aku tahu kalau Putra sedang seperti ini, tandanya ia sedang berpikir. Atau lebih tepatnya adalah sok berpikir.

“Lama jawabnya !”

“Ya aku lagi mikir itu siapa.”

“Ya padahal kalau nggak tahu ya nggak usah sok mikir. Jawab aja nggak tahu.”

Putra menatapku sinis, aku memandangnya, tersenyum sambil mencubit pelan hidungnya. Beberapa dari alumni FISIP menatap kelakuanku, aku menunduk malu. Tiba saatnya acara puncak. Seperti malam-malam prom sebelumnya dan sudah menjadi sebuah tradisi di kampus ini mengadakan Gala Dinner.

“Makan yuk, kamu lapar kan?”

Aku mengangguk pelan.

“Ambilnya jangan banyak-banyak nanti yang lain nggak kebagian.”

“Bukannya kamu yang makannya banyak?”

Putra menjulurkan lidahnya, aku menggelengkan kepala. Kami mengambil makanan dan minuman secukupnya. Malam ini bisa jadi makan malam terakhir kami berdua. Karena sehabis ini perjalanan kehidupan yang sesungguhnya akan dimulai. Selesai makan malam, ada hiburan dari Endah N’ Rhesa. Aku tidak menyangka akan ada penampilan dari duo musisi indie tersohor itu. Namun ditengah-tengah penampilan mereka, Putra mengajakku keluar ballroom menuju rooftop. Kami memandangi kota Jakarta yang penuh dengan gemerlap lampu gedung tinggi dan lampu dari kendaraan. Rambutku sedikit berantakan karena hembusan angin yang lumayan kencang.

“Kamu kenapa ngajak aku kesini?”

Ucapku sambil memandang satu titik fokus pandang.

“Tadi terlalu ramai. Bukannya kamu pernah bilang sama aku kalau kamu enggak suka keramaian? Jadi aku mau ajak kamu kesini.”

“Hihihi, kamu tuh.”

“Yaa benar, apa aku salah?”

Aku menggeleng dan mendekatinya. Ia melepas jas dan memakaikannya padaku. Terasa hangat. Kami saling melempar senyum. Kusandarkan kepalaku ke pundak kanannya.

“Put, thanks yah. Kamu udah jadi sahabat terbaik aku.”

“Hu’um”

“Udah gitu aja?”

“Ya emang mau apa lagi?”

“Hahaha, enggak. Pokoknya terimakasih.”

Kami masih menikmati waktu ini. Rasanya waktu berhenti, aku masih bisa mendengar sayup hembusan napasnya, aroma parfum coklat yang masih sama sejak kami duduk dibangku SMA, dan masih bisa bersandar di pundaknya yang sekarang agak bidang. Terasa olehku ia mengusap pelan kepalaku. Aku tersenyum.


“Sebenarnya aku mau bilang satu hal sama kamu, put”


“Bilang apa?”


“Tapi kamu jangan tanya ‘kenapa’.”


“Loh, emang kenapa?”


“Tuh kan, hahahha. Nggak jadi ah. Putra kepo.”


“Dih, enggak jelas.”


“Biarin.”


“Jelek !”


“Putra nyebelin ah dari tadi balas aku terus.”


“Dari dulu emang nyebelin.”


“Tuh kan.”


“Udah cepat mau bilang apa, keburu malam nih. Nanti bunda kamu omelin aku kalau antar pulang kemalaman.”


Aku terdiam sejenak. Berpikir kembali akan kata-kata yang ingin aku ucapkan padanya.


“Hmmm kita kan sudah lulus nih. Sudah resmi jadi alumni kampus. Semua orang pasti sudah merencanakan hal-hal besar dalam hidupnya. Aku juga sudah susun rencana dan semua sudah siap. Habis ini kamu mau ngapain, sudah susun rencana?”


Ia terdiam, menarik napas dan mengembuskannya dengan cepat.


“Habis ini yaa. Normal sih. Palingan nerusin projek aku sama teman-teman yang sempat tertunda waktu semester empat dulu. Ingat nggak?”


Aku berpikir sejenak dan akhirnya ingat.


“Ohhh yang katanya kamu mau ngasih demo lagu band kamu itu?”


Ia hanya mengangguk sambil tertawa pelan.


“Aku mau tanya deh. Kamu paling takut sama apa sih, put?”


“Binatang atau apa nih?”


“Selain binatang. Ketakutan kamu yang saat ini kamu takutkan.”


“Mau jawab jujur atau bohong?”


“Ihh kamu tuh kebiasaan deh.”


“Ya kamu mau jawaban yang mana?”


“Dua-duanya.”


“Oke. Aku jawab. Bohongnya dulu ya. Jawaban bohong aku nih, ketakutan yang paling aku takutkan adalah aku bisa jauh dari kamu. Terserah kamu mau pergi kemanapun setelah ini. Bodo amat, aku enggak peduli. Kamu mau ke Sumatera, Toraja, keliling Indonesia seperti yang kamu bilang ke aku. Silahkan. Monggo.”


Aku tersenyum dan menjambak pelan rambutnya.


“Kalau jujurnya?”


“Yang ini agak berat sih. Nanti kamu ge-er terus jadi sombong.”


“Ih apaan sih?”


“Hahhaah. Oke deh, jujurnya adalah kebalikan dari jawaban yang tadi. Udah gitu aja.”


Aku tercengang. ‘maksudnya?”


“Maksudnya kamu enggak bisa jauh dari aku gitu?”


“Iya enggak bisa. Aku enggak bisa jauh dari kamu. Apalagi sampai pisah dari kamu.”


“Emang kamu takut kangen aku ya?”


“Aku serius, ran.”


Nadanya agak berat. Aku membangunkan kepalaku dari sandaran dipundaknya. Kami berdua saling menatap satu sama lain.


“Habis ini aku mau pergi, put.”


“Kemana?”


“Hmm, entahlah. Pokoknya aku bakal cari tempat dimana aku bisa tenangkan diri dan pikiran aku.”


“Maksud kamu?”


“Aku butuh ketenangan, Put. Aku butuh berdamai dengan diri aku.”


“Tunggu, aku masih belum paham. Maksudnya kamu pergi, kamu bakal pindah dengan keluarga kamu juga? Bunda.. bunda kamu juga?”


Aku tidak merespon. Hanya memalingkan pandanganku darinya.


“Ehm.. kalau boleh tahu berapa lama kamu disana?”


“Ya untuk waktu yang lama mungkin.”


Ia memegang kedua pundakku dan menatapku dengan nanar.


“Kenapa kamu pergi?”


“Kan aku tadi udah jawab, lagi pula aku pergi enggak lama.”


“Iya kenapa?”


****


@Balkon Kamar Hotel NEO Malioboro
Sabtu, 10:00 AM
Pagi menjelang siang, siap menyapa mentari kota Gudeg.

Aku terbangun dengan kepala agak pusing. Mencoba untuk menggerakkan badan namun rasanya semua badanku terasa ngilu, menggerakkan tangan saja rasanya sakit sekali. Hidungku meler, sial. Aku flu !


Aku meraih ponsel yang masih terhubung dengan kabel charge. Kulihat jam ternyata pukul sepuluh. Aku bisa tidak kebagian sarapan pagi. Alhasil aku memesan saja makanan sendiri lewat aplikasi di ponsel. Tidak lupa memesan obat flu sambil berharap cepat sembuh.


Tidak butuh waktu lama, pesananku sudah sampai. Satu mangkuk bubur ayam hangat lengkap dengan sate usus, kerupuk dan sambal, jus jeruk, dua botol air mineral, serta obat flu yang siap aku telan sehabis makan. Ada tambahan rupanya, multivitamin agar aku siap menghadapi petualangan disini. Suaraku terdengar bindeng. Aku tidak berani menelepon bunda, hanya mengirimnya pesan whatsapp dan bilang kalau aku disini baik-baik saja. Aku tidak mau bunda khawatir. Ponselku kembali bergetar karena ada panggilan masuk. Tidak aku angkat, biarkan saja. Aku tidak suka diganggu saat sedang makan. Meskipun orang yang menelpon tidak tahu aku sedang apa disini, tapi tetap saja aku punya hak untuk melakukan itu.

    


Badan terasa sedikit membaik setelah mendapat asupan pertama di Jogja, rasanya belum siap untuk memulai hari ini. Atau aku pilih nekat? Bunda pernah bilang ‘Lakukan apa yang ingin kau lakukan hari ini, karena belum tentu kau bisa melakukannya esok hari.’ Baiklah, jam tiga sore nanti aku akan memulai penjelajahan kecil di kota ini. Batasku hanya sampai jam sepuluh malam. Karena bukan berarti aku jauh dari bunda dan aku tidak sedang dirumah aku bebas berkeliaran disini sendirian. Kata bunda, bahaya anak gadis pulang malam-malam.


Selagi menunggu waktu untuk jalan-jalan, aku keluar kamar untuk melihat sekeliling hotel ini. Sementara aku gunakan saja kamera ponselku untuk memotret sekitar. Pertama-tama spot yang ingin aku ambil adalah bagian dari luar balkon kamar. Jogja cerah sekali hari ini. Aku menyusuri lorong hotel yang nampak klasik. Disebelah kananku terdapat tiga kolam renang. Banyak yang berenang, terutama para turis asing yang nampaknya sedang berlibur disini dan.. hey, ada bunga mawar. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku berjalan mendekati bunga mawar tersebut dan meraih ponselku dari dalam saku piyama. Apalagi kalau bukan untuk memotret bunga?


‘Bagus juga’


Ucapku memuji dalam hati.


****


Masih dengan kondisi yang sama. Dengan atmosfer yang sama. Banyak pertanyaan yang muncul dalam otak Putra ‘mengapa Ranti pergi?’


“Aku harus lakuin ini, Put. Ya hitung-hitung aku sudah lama juga enggak ada waktu untuk aku sendiri. Kamu sadar enggak sih sejak kita sekolah sampai kita kuliah pasti kalau kemana-mana suka bareng terus? Entah itu aku mau belajar diluar rumah, mengerjakan tugas, main, nongkrong sekalipun sama teman-teman aku pasti ada kamu. Begitu juga sebaliknya.”


“Aku ikut, ran !”


Ucapnya sambil menatapku.


“Enggak bisa Putra. Aku butuh waktu untuk diri aku sendiri. Aku enggak mau ajak siapapun selain badan aku.”


“Gini, kalau kamu kenapa-kenpa disana gimana? Aku ini sahabat kamu, kamu pasti butuh aku. Asal kamu tahu, aku mau temani kamu kemanapun kamu pergi. Kemanapun kaki kamu melangkah aku ikut. Masa bodo kamu mau marahi aku, caci maki aku terserah kamu yang penting aku sama kamu.”


Aku tercengang.


“Maksudnya kamu bilang begitu apa?”


Putra hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dariku.


“Put, jawab maksudnya apa?”


“Gini ran.. aku, aku enggak bisa jauh dari kamu. Aku enggak bisa.”


Ucapnya sambil bertekuk lutut dihadapanku. Ia malah menitikkan air mata sambil menggenggam kedua tanganku. Aku semakin bingung dengan sikapnya malam itu.


“Ranti.. jangan tinggalin aku. Tolong.”


“Aku enggak kemana-mana. Kita masih bisa berhubungan kok, aku cuma butuh waktu untuk aku sendiri aja. Kita enggak harus terus kemanapun sama-sama, kan? Lagipula..”


“Iyah aku tahu, ranti. Kamu tuh egois, kamu sibuk, kamu pintar, kamu selalu sibuk dengan dunia kamu sendiri sampai-sampai kamu nggak tahu sama perasaan aku. Kamu selalu sibuk dengan buku, buku, dan buku. Kamu enggak pernah mau tahu perasaan aku kayak gimana ke kamu !”


Mataku terbelalak. Aku terkejut akan ucapan yang terlontar dari mulutnya. Tujuh tahun aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Baru pertama aku lihat ia semarah ini.


“Kamu.. kamu kenapa sih?”


“Kamu mau tahu aku kenapa, pikir dengan otak kamu Ranti !”


Ucapnya sambil melangkah pergi namun aku berhasil mengalanginya. Aku menamparnya.


“Aku masih punya dunia sendiri. Dunia yang bisa jadi enggak semua orang paham. Aku enggak minta kamu untuk mengerti siapa diri aku, bagaimana kesibukan aku, dan apa tujuan aku melakukan semua ini. Aku enggak pernah meminta itu dari kamu bahkan bunda aku sendiri, put. Kalau kamu merasa kamu mengenal aku selama ini, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan jika aku butuh waktu untuk diri aku sendiri.”


Putra masih memalingkan wajahnya dariku.


“Putra, semua manusia di dunia ini harus punya waktu untuk dirinya sendiri. Terkadang kita harus menyendiri. Aku memang tidak suka akan keramaian. Berisik. Namun bukan berarti aku ini selamanya menjadi sosok penyendiri. Aku ini manusia, aku ini makhluk sosial ciptaan Tuhan yang dibentuk dengan bentuk sebaik-baiknya. Aku mau tanya, apa kamu tahu mengapa aku pergi?”
Ia malah melihatku seolah-olah aku orang paling jahat. Hanya diam, kami saling melempar tatapan penuh benci.


“Kalau kamu tidak bisa jawab, silahkan hubungi aku lagi jika kamu sudah menemukan jawabannya. Kalau perlu temui aku langsung, dimanapun dan kapanpun. Terimakasih sudah menjadikan aku sebagai sahabat terbaikmu. Tapi aku berharap, kita masih bisa terus bersama. Aku masih bisa jadi teman baik kamu.”


Ucapku sambil melepas jas dan memakaikannya kembali ke tubuh pria itu. Aku berjalan sambil melepas sepatu hak tinggiku. Ubin rooftop terasa sangat dingin, namun aku sugestikan saja kakiku tetap hangat. Aku tengok ia sesaat, ia masih mematung sambil menunduk. Hanya angin malam, temaram lampu ibu kota, dan suara klakson kendaraan yang menemaninya malam itu.


                         ****

@Malioboro
15:25 PM


               

Menyusuri lorong pasar yang sumpek dengan orang yang berlalu lalang tak menyurutkan semangatku untuk menikmati waktuku sendiri selama beberapa hari kedepan. Bahkan akan lama nampaknya. Disebelah kanan dan kiri terdapat kios pakaian batik, assesoris, dan lainnya. Aku mulai beraksi dengan kamera mirrorless kesayangan. Beberapa penjaga toko yang berdiri di depan toko sambil bersuara menawarkan dagangan tak lepas dari telinga ini.


Aku tertarik dengan dream catcher yang menggantung disalah satu etalase sebuah toko. Aku mendekat dan melihat-lihat. Sangat unik. Tertarik untuk aku potret dan tidak lupa aku beli. Toh aku juga belum punya barang seperti ini. Orang bilang, dengan kita menggantung benda ini di salah satu spot kamar tidur, kita akan terhindar dari mimpi buruk. Benar begitu? Kembali ke diri kalian masing-masing mau percaya atau tidak.


Terhitung baru satu jam disini perutku sudah keroncongan. Aku putuskan menyusuri jalan malioboro dan kakiku berhenti disalah satu rumah makan. Nampak tidak terlalu ramai, makanannya terlihat enak dan kulihat juga daftar harganya. Amat sangat terjangkau. Awalnya ingin memesan nasi rames dan es teh manis, namun aku urungkan kembali. Aku pesan saja ayam penyet namun tidak mengganti minumanku. Aku kira disini banyak pengamen, ternyata tidak. Malah yang terdengar adalah alunan musik gamelan dari tape recorder tua rumah makan ini yang masih tegap dengan antenna diatasnya. Aku tersenyum melihatnya. Dua anak kecil membawakan makanan yang aku pesan. Sangat lucu. Sepertinya mereka adalah adik kakak. Aku ajak saja mereka untuk berfoto. Awalnya mereka malu-malu, namun aku berikan mereka masing-masing dua permen cokelat. Akhirnya mereka mau berfoto denganku.


Selesai menyantap makanan, aku segera membayar dan melanjutkan petualangan ini. Tepat jam lima sore. Aku masih menyusuri jalan Malioboro, terus memotret objek yang menurutku baik untuk dijadikan sebuah momen berharga. Ditengah-tengah perjalanan, ponselku bergetar. Ternyata dia lagi, aku acuhkan saja. Tidak lama kemudian, dia lagi. Hanya pesan whatsapp darinya namun sepertinya ia mengirim gambar. Aku mencari tempat duduk sebentar, nampaknya ia ingin menunjukkan sesuatu.
Benar saja. Ia mengirim potretku dari samping, belakang, dan depan. Cukup mengejutkanku, aku sampai ketar-ketir dibuatnya. Foto ini diambil sedari tadi aku makan dan barusan berjalan menyusuri jalan ini.


“Kamu lagi dimana sekarang?”


Ucapku dalam balasan pesan untuknya. Tak lama kemudian, ia membalas pesanku.


“Diatas kamu nih, lagi terbang sama naga.”


“Kamu jangan bercanda. Sekarang kamu dimana?”


“Kalau aku kasih tahu sekarang, nanti nggak seru. Ahh.. gimana kalau ketemu di Jakarta saja? Di stasiun Senen. Kan asyik tuh, jadi kayak di film-film gitu adegannya.”


Aku masih tidak percaya. Alhasil aku coba telepon. Sial, tidak diangkat sama sekali. Berulang kali aku meneleponnya namun terhitung sudah tujuh kali aku meneleponnya tetap tidak ada respon. Akhirnya aku biarkan saja. Lanjut dengan “kesendirian” yang aku jalani saat ini. Namun semakin aku biarkan, semakin menjadi. Alhasil karena aku kesal, aku me-nonaktif-kan ponsel.


Langit semakin gelap. Aku baru sadar kalau sekarang sudah jam setengah enam sore, dan perputaran waktu disini memang sangat cepat. Baru jam segini saja langit sudah mulai gelap, dan sebentar lagi adzan akan berkumandang dari segala penjuru. Segera aku cari masjid terdekat untuk melaksanakan shalat maghrib, dan petualangan akan aku lanjutkan kembali selepas Isya.


                    ****



             

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?

_Banda Neira, Sampai Jadi Debu_


                    ****


Aku menyusuri jalan ibu kota pada malam itu. Pulang tanpa alas kaki, tanpa diantar angkutan umum atau kendaraan pribadi bahkan kendaraannya yang biasa aku tumpangi. Malam yang seharusnya menjadi malam perpisahan untukku dengannya. Aku bukan pergi untuk meninggalkannya. Hanya saja butuh waktu untuk diri sendiri. Semua orang butuh ruangnya sendiri bukan? Semoga kalian yang membaca ini paham, agar tidak menyangka kalau aku ini jahat.



                     ****


Kembali ke pasar Malioboro, makin malam makin ramai. Aku suka sekali. Kaki kecilku menapaki jalan kota Pendidikan pada malam hari. Dua jam rasanya cukup untuk menghabiskan waktu bersama bayanganku. Lalu lalang orang yang berjalan-jalan untuk melihat-lihat, berfoto, atau menghabiskan waktu bersama. Hingga akhirnya aku mampir di salah satu angkringan yang tidak jauh dari sebuah gedung berornamen klasik. Era penjajahan Belanda.


Akhirnya lidahku bisa mengecap gurihnya segelas susu jahe dan sepuluh tusuk sate usus yang dilumuri saus kacang pedas manis. Sambil bersandar pada dinding pagar sebuah bangunan tua. Aku memejamkan kedua mata sambil menghirup aroma apapun yang tercium oleh hidungku. Terngiang di telingaku salah satu alunan gitar dari Gerald Situmorang berjudul Old Stories, sangat mengingatkanku padanya. Putra, aku minta maaf.


Tepat pukul Sembilan malam, aku naik becak untuk pergi ke alun-alun kota Yogyakarta. Kulihat ada dua pohon besar, yang dimana mitosnya jika kita bisa jalan lurus melewati kedua pohon itu, keinginanku bisa terwujud. Sebelumnya aku potret terlebih dahulu dengan mirrorless ku. Mencoba menguak mitos, akhirnya aku mencoba untuk melewati kedua pohon besar tersebut. Kedua mataku ditutup dengan sehelai kain yang panjangnya sekitar dua puluh lima centimeter, kemudian aku mulai melangkahkan kaki dengan perasaan penuh harap agar aku bisa melewatinya.


Banyak yang berteriak demikian, aku hanya tersenyum sambil sesekali tertawa namun tidak asing dengan suara yang berteriak..


“Ayo, kamu bisa !”


Aku berhenti sebentar. Suaranya sangat tidak asing. Tidak peduli, aku harus tetap bisa berjalan ditengah-tengah melewati dua pohon besar itu. Suara terus saja terngiang di telinga. Entah berapa lama aku sudah berjalan, tidak fokus menghitung namun fokus dengan feeling agar aku bisa berjalan lurus kedepan. Hingga suara bapak-bapak tadi menyuruhku untuk berhenti, dengan cepat aku membuka kain penutup dan membuka kedua mata perlahan. Aku tidak melihat ada dia. Mungkin hanya halusinasi saja tapi tanpa sadar aku berhasil melewati kedua pohon besar yang ada di sebelah kanan dan kiri. Aku berhasil berjalan lurus kedepan. Konyol, aku lupa dengan harapanku sendiri.


Tepat pukul sepuluh malam, aku bergegas meninggalkan alun-alun dan kembali ke hotel. Kaki terasa pegal memang, aku memutuskan untuk naik becak. Bapak tukang becak malam ini sangat ramah. Mengajakku berbincang sambil ditemani angin malam Jogjakarta. Akankah aku tidak merindukan kota ini dengan keramah tamahannya? Entahlah. Lihat saja nanti.


Sesampainya di hotel, aku langsung masuk kedalam lift dan menuju lantai enam. Segera aku berjalan menuju kamar begitu pintu lift mulai terbuka. Masih terngiang di telinga akan suaranya. Tapi tidak mau memikirkan itu. Aku kemari hanya untuk diriku sendiri. Jangankan untuk berdamai dengan orang lain, dengan diri sendiri saja belum becus. Ego ku masih ada, sampai saat ini masih ada.


Aku menghempaskan badan ke tempat tidur dengan pakaian yang belum aku ganti. Ingat akan sesuatu, aku beranjak dari tempat tidur dan merogoh isi tas cangklong merah. Buku harian. Membuka lembar demi lembar halaman. Banyak foto yang aku pajang di setiap halaman buku ini. Dimulai dari perjalananku saat pertama meninggalkan ibu kota menuju pulau Sumatera. Tidak tahu nanti akan tidur dimana atau mengunjungi kerabat, yang terpenting adalah perjalanan bukan tujuan. Kaki ini pertama menginjak tanah Minangkabau, disusul ke tanah Karo. Selama dua belas hari aku berada di tanah Minang, dan dua belas hari berikutnya aku berada di tanah Karo. Ramai, penuh ragam, aku mencoba untuk mencari tahu mengapa ada stereotype tentang orang-orang berdarah Minang dan Batak.


Mengunjungi tanah Minang, aku menumpang tidur dirumah salah satu RT disana. Namanya pak Jamal dan istrinya, ibu Efeni. Mereka memiliki lima orang anak. Tiga diantaranya sudah menikah dan merantau keluar kota, sisanya masih sekolah kelas dua SMP. Mereka memiliki usaha toko pakaian, dan untuk tambahan sampingan sang istri membuka jasa setrika pakaian. Kedua anaknya juga turut membantu orang tua. Aku juga sesekali diajak ke pasar untuk berdagang. Pelajaran yang aku ambil dari mereka, semangat. Semangat untuk mensejahterakan keluarga, dan tidak lupa pula tanamkan ilmu agama dari kedua orang tua.


Menuju tanah Karo. Ada banyak ternyata suku di Medan. Diantaranya yang aku tahu ada Batak Mandailing, Batak Karo. Salah satunya aku mengunjungi tanah Karo. Alhasil aku mendapat teman baru dari satu keluarga yang sangat ramah. Namanya pak Tober dan ibu Ria. Mereka memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Sang bujang bernama Adi, dan adiknya bernama Nila. Rata-rata keluarga di sekitar mereka memiliki kebun dan ladang. Sangat subur dan banyak. Kebun yang bapak Tober punya adalah kebun tomat, dan daun seledri. Aku pernah mencoba bercocok tanam bersama Nila. Sangat seru walaupun kami berdua tahu cuaca sangat panas kala itu. Alhasil aku mengalami dehidrasi. Tiga hari terkena demam tinggi yang membuat pak Tober kelimpungan, namun sekali lagi, mereka sangat baik. Sedangkan aku, memalukan !


Kembali ke Jakarta, aku mengirim tulisanku ke email salah satu media cetak dan berhasil dimuat. Hasil dari pendapatanku aku tabung, sebagian aku tambahkan dari gajiku selama bekerja agar kedepannya aku bisa melanjutkan perjalanan. Sempat mendapat teguran dari Bunda karena aku tidak mau menemui Putra. Sangat bersalah karena aku menyuruh Bunda berbohong saat Putra datang ke rumah untuk menanyakan keberadaanku. Padahal saat itu aku baru selesai mandi dan berganti pakaian, namun aku meminta agar Bunda bilang kalau aku belum pulang. Sekali lagi, maafkan aku Bunda.


Tepat pukul sebelas malam. Aku menutup buku harianku dan menaruhnya diatas meja. Mengganti pakaianku dengan baju mandi, badanku tidak terasa pegal sama sekali tapi entah saat tidur nanti. Biasanya seperti itu memang. Anak yang aneh !


Selesai mandi, aku mengeringkan rambutku dengan handuk. Terdengar pintu kamarku diketuk tiga kali. Aku membuka perlahan pintu kamar dan ternyata petugas pelayanan kamar memberiku sebucket bunga mawar putih. Bingung? Pasti.


“Dari siapa ya?”

“Tadi ada laki-laki yang memberikan ini untuk mbak.”

Aku mengerutkan kening. Laki-laki?

“Ciri-cirinya bagaimana yah?”

“Tadi orangnya hanya berpesan untuk memberitahu siapa dirinya, mbak.”

“Ohh begitu. Hmm, ya udah. Terimakasih yah, mas.”

“Ya sama-sama mbak.”


Aku melihat-lihat siapa yang memberikan bunga ini. Tanpa nama, tanpa surat, misterius. Romantis? Pengecut buatku. Aku lempar bunga itu ke pojok pintu kamar. Saatnya untuk beristirahat. Perasaanku tidak enak.


Ponselku berdering, kulihat layar ponsel ternyata Bunda.


“Hallo, bunda.”


“Nak, gimana kabarnya, sehat?”


“Aku baik-baik aja kok, bun. Ada apa?”


“Adikmu sakit.”


“Hah?! Sudah berapa lama?”


“Baru saja, ini bunda di rumah sakit. Kata dokter, adikmu kena gejala tifus. Tapi beruntung karena segera dibawa kemari. Kamu bisa pulang kapan? Adikmu panggil-panggil kamu terus, nduk.”
Jujur saja, sangat sedih tetapi aku masih mau berlama-lama disini. Namun kondisi adikku lebih penting.


“Hmm, gini. Aku masih mau disini bunda, dan aku juga masih butuh beberapa referensi untuk keperluan tulisanku. Tapi aku usahakan lusa bisa pulang.”


“Ya sudah. Istirahatlah dulu. Kabari bunda jika kamu mau pulang.”


Aku berdeham dan mengucapkan selamat malam pada bunda. Wanita tegar itu menutup telepon, aku sendiri terisak. Mungkin ada hal yang lebih penting saat aku sedang bercengkerama dengan waktuku. Alhasil karena aku tidak nyaman, aku mengubah semua rencana. Besok pagi aku memesan tiket pesawat untuk pulang, dan besok pula adalah waktu terakhirku disini.
Sampai ketemu besok Malioboro !


                       ****

@ Bandara Soekarno Hatta
14:22 WIB

Sambil menunggu pesananku selesai dibuat, aku menghubungi Bunda untuk bertanya dimana rumah sakit Dika dirawat inap tidak lupa dengan nomor ruangannya. Kurang dari satu menit akhirnya bunda membalas. Rumah sakit Fatmawati, ruang Anggrek Bulan No. 07. Rasanya ingin cepat sampai kesana. Pesanan makanan sudah jadi, segera aku membayar dengan memberikan selembar uang Lima Puluh Ribu Rupiah. Petugas kasir memberikan kembalian uang sebesar Sepuluh Ribu Rupiah. Aku bergegas pergi dari bandara dan buru-buru memesan taksi.


Diperjalanan aku terus mengetuk-ngetuk ponselku sambil melempar pandangan keluar jendela. Aku tahu betul akan adikku Dika, dia memang sedikit manja dan kadang kalau ia sakit sikapku biasa saja. Tapi tidak biasanya aku merasa iba seperti ini. Berinisiatif untuk menelepon bunda, namun tidak diangkat. Terhitung sudah lima belas kali hingga akhirnya bunda mengirim pesan lewat whatsapp. Katanya tadi sedang shalat, mode ponsel dibuat hening. Pantas saja.


Bersyukur hari ini Jakarta tidak macet, hanya dengan waktu dua puluh menit aku tiba di rumah sakit. Bertanya kepada petugas resepsionis dimana letak ruangan pasien bernama Aditya Mahardika. Lantas aku berlari namun sial, aku terjatuh karena tali sepatu terlepas. Lututku memar, sangat sakit rasanya. Sempat meringis hingga banyak orang yang menghampiriku untuk membantu. Hingga ada seorang ibu menolongku dan mengajak berjalan ke sebuah kursi. Sempat menolak saat lututku akan diobati namun aku masih merasakan sakit hingga akhirnya aku mengalah.


Sepuluh menit aku menunggu rasa sakit sedikit mereda, akhirnya aku beranjak menuju ruang dimana adiku dirawat.


“Mau saya antar?”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Terimakasih bu, tapi enggak perlu diantar. Saya bisa sendiri.”

“Benar?”

“Iyah, bu.”

“Ya sudah hati-hati.”

Aku bergegas pergi meskipun berjalan sedikit pincang. Setibanya di depan pintu kamar inap, bunda sudah membuka pintu terlebih dulu.

“Kakimu kenapa nduk?”

“Hmmm enggak kenapa-kenapa bun. Cuma jatuh aja tadi waktu aku lari mau kesini.”

“Ya pelan-pelan dong jangan lari. Kamar inapnya juga enggak lari kemana-mana, masa’ kamu lari?”

Aku nyengir sambil memejamkan kedua mataku. Dari jauh suara Dika memanggil namaku. Suaranya parau.

“Dek, kamu kenapa?”

Ujarku sambil mencoba berjalan mendekati ranjang. Selang infus menancap di punggung tangan kirinya. Wajahnya pucat. Badannya terlihat kurus. Diagnosa dokter benar kalau Dika terkena gejala tifus.

“Kamu makan sembarangan ya? Makanya kalau bunda masak tuh dimakan. Bunda capek-capek masak buat kamu, malah enggak makan. Jadi mubazir. Dosa.”

Dika hanya tertawa perlahan kepadaku.

“Ya sudah. Untung kata dokternya cepat dibawa kemari. Gimana di Jogja, puas?”

Aku memutar kedua bola mataku dan duduk di ranjang Dika.

“Ehh kakak turun. Ini ranjang buat aku tidur. Enggak lihat adiknya sakit?”

“Berisik. Kaki aku juga sakit. Tuh !”

“Manja.”

Bunda menggeleng sambil tertawa pelan.

“Bunda kangen suasana rumah. Kalian yang kadang akur, kadang berantem kecil. Kamu juga udah gede sekarang. Cah Ayu.”

Ucap Bunda sambil mengecup keningku.

“Kenapa Dika enggak di cium juga?”

“Iihhh pengen nih ye, cemburu kakak di cium bunda kamu enggak.”

Kami bertiga tertawa di ruang inap.

“nduk, gimana kabar Putra, kok bunda kangen ya sama anak itu?”

Aku menghela napas dan memalingkan wajahku pada Dika seraya mengusap kepalanya.

“Jangan begitu, Putra hanya mau ketemu kamu. Bunda hitung hampir dua tahun kalian enggak bareng-bareng lagi. Ada masalah apa sebenarnya?”

“Enggak ada bunda. Cuma aku butuh aja waktu untuk sendiri. Lagian kan kita udah sering banget bareng-bareng. Bunda juga tahu sendiri kalau kita berdua kalau kemana-mana pasti bareng. Mau itu aku nongkrong sekalipun bareng teman-teman, tetap aja itu anak pasti ada. Begitu pula sebaliknya.”

“Ya tapi kakak tetap pasti ada rasa kangen kan?”

Dika menyambar ucapanku.

“Sok tahu kamu, diam aja deh.”

“Tuh kan. Baru dibilangin begitu aja langsung marah, kakak suka yaa sama kak Putra?”

“Apa sih Dika ahhh lagi sakit juga.”

Aku menggelitik perutnya, Dika tertawa sambil meminta ampun padaku.


                    ****

Dibawah langit Jakarta yang mendung, aku bergumam.
Banyak orang ingin pergi ke laut untuk mencari ketenangan,
Banyak orang ingin mendaki gunung karena rindu,
Banyak orang ingin terbang untuk merefleksikan diri,
Menyadari bahwa tiada yang perlu disombongkan dalam dirinya.
_Dibawah Langit Jakarta yang Mendung


Aku membaca salah satu puisi yang dibuat oleh Putra sewaktu SMA dulu. Puisi yang ia tulis dibawah pohon besar. Putra yang masih kurus, rambut berponi, sang gitaris yang juga merangkap sebagai vokalis, menjadi idola teman-temanku saat pensi. Pembawaannya pada lagu Rain of July milik The Monophones, membuatku selalu teringat akannya. Ada alasan mengapa ia menyukai lagu itu. Baginya, bulan Juli adalah bulan yang aneh dan berhasil membuatnya selalu merindukan bulan itu. Padahal saat memasuki bulan Juli, daun-daun berguguran, sangat kering, ibu kota juga sangat panas. Belum lagi polusi dari knalpot kendaraan. Namun pada malam hari kita bisa kedinginan. Sangat dingin. Ahh, aku terlalu mengingatnya. Tidak. Aku tidak boleh rindu padanya. Tapi aku tidak bisa munafik. Ya, aku merindunya. Tidak sadar aku masih menyimpan puisinya.


Lusa nanti Dika diperbolehkan pulang. Aku ditugaskan oleh bunda untuk pulang duluan ke rumah, dan membersihkan kamar Dika. Aku menurut. Setelah pamit, aku berjalan melewati koridor rumah sakit sambil memesan taksi online.


“Yes, dapat !”


Ucapku sambil tersenyum simpul. Tidak butuh waktu lama, tidak sampai satu menit taksi online pesananku sudah tiba.


“Selamat siang, mbak.”


“Siang juga pak.”


Balasku, bapak supir taksi online ini sangat ramah. Namanya pak Budiarto. Usianya memasuki kepala enam. Ayah tiga anak ini sudah memiliki dua cucu, sepasang lelaki dan perempuan. Tinggal di daerah kuningan. Menjadi supir taksi online adalah pilihannya semenjak terkena PHK oleh perusahaan enam bulan lalu. Namun itu tidak membuat pak Budiarto gentar.


“Setidaknya saya masih bisa menafkahi istri dan anak bungsu saya yang saat ini baru masuk kuliah, mbak. Jurusan Teknik Kimia di Gajah Mada. Mohon do’anya yah, mbak.”


Aku mengangguk dan tersenyum, sambil berdo’a dalam hati semoga bapak diberikan kesehatan, panjang umur, dan bisa melihat anaknya menjadi sarjana. Amin.


Sesampainya di rumah, aku menghela napas sejenak. Melihat pintu rumah dan ingat akan sosok yang amat di rindukan. Rasanya berat aku melangkahkan kaki namun kupaksakan. Ku putar kunci dan meraih daun pintu. Bunda bilang sudah lima hari rumah ditinggal. Memang benar saat aku masuk, seisi rumah nampak berdebu. Aku melangkah menuju sebuah meja yang diatasnya banyak potretku dan Dika sewaktu kecil. Aku dengan prestasi pertama, memegang piala dan mengalungkan medali diatas panggung. Aku dengan Dika yang sedang naik kuda saat pengalaman pertama kami ke gunung Bromo, aku yang saat itu berusia sepuluh tahun dengan kamera pertamaku, dan aku terpaku melihat potret keluarga kami yang cukup besar tergantung di dinding. Kami berempat yang mengenakan pakaian serba putih. Bunda nampak cantik dengan hijabnya, aku yang saat itu berusia 17 tahun nampak seperti remaja lainnya dengan rambut panjang dan bando dengan pita berwarna peach, Dika yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua, nampak lucu dengan pipinya yang gemuk. Satu lagi yang nampak gagah nan beribawa namun tetap terlihat menunjukkan sisi kelembutannya, Ayah. Terhitung genap dua tahun sudah sosok yang satu ini tidak ada lagi di tengah keluarga. Aku rindu mendengar semua nasihat dan gurauannya kala malam hari selepas ayah bekerja. Andai saja bisa aku putar kembali waktu, ingin rasanya aku memeluk dan mencium keningnya lagi. Selain itu, akan aku halang ayah agar tidak pergi dinas pada hari dimana ia mengalami kecelakaan di tengah perjalanan.


“Hai tampan, apa kabar?”


Ucapku sambil tersenyum dan menatap wajah ayah dalam potret. Namun segera aku akhiri karena aku ingat pesan bunda agar merapikan kamar si bungsu, dan bersih-bersih rumah. Rumah ini memang tidak besar, namun sangat membuat kami merasa nyaman. No better place like home, right?


Setelah semuanya selesai, aku duduk di kursi teras rumah sambil menikmati es teh manis buatanku. Sambil ditemani alunan lagu yang aku putar dari ipod dan telinga yang aku pasang headset. Tepat jam lima sore. Banyak anak kecil yang berlalu lalang dengan sepedanya melintas di depan rumahku. Tidak hanya itu, pedagang mainan, pedagang es cendol juga menambah keramaian suasana sore hari. Ada segerombolan ibu-ibu yang nampaknya baru pulang dari majelis ta’lim setelah mengikuti pengajian. Aku tersenyum melihatnya.


Melihat-lihat postingan para netizen yang lewat di beranda sosmed, aku teringat saat di Yogyakarta. Alhasil aku melihat foto yang di kirim oleh Putra. Apa lagi kalau bukan fotoku yang diambil dari sisi samping dan belakang?


“Aneh, ini orang beneran buntutin gue atau enggak sih?”


Tanyaku sambil mengerutkan kening.


“Kalau iya emang kenapa?”


Ujar seseorang yang tanpa aku sadari sudah ada dihadapanku sambil melepas salah satu headset yang aku pasang. Aku kaget bukan kepalang. Untung saja aku tidak teriak. Ia berdiri di hadapanku, sangat jelas. Namun ada yang berbeda. Kemana rambut gondrongnya? Ia kini nampak seperti orang asing buatku.


“Hai.. apa kabar?”


Aku hanya mematung sambil kepalaku mendongak keatas karena ia berdiri dan aku duduk.


“Ka.. kamu.”


Aku segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan masuk kedalam rumah, namun ia berhasil menghadangku.


“Jangan lari, aku kemari mau ketemu kamu.”


Sesaat orang-orang yang sedari tadi berjalan melintas di depan rumah, kini malah memperhatikan kami berdua. Disangkanya kami bertengkar. Dasar kepo !


“Ehmm.. kita ngobrolnya di dalam saja. Enggak enak, banyak orang.”


“Yaudah, yuk?”


Aku mengangguk dan segera menariknya. Kami berdua saling membisu satu sama lain. Ia masih memperhatikanku. Aku malah menatap jendela. Melepaskan pandanganku keluar rumah. Orang-orang tadi tidak lagi punya rasa ingin tahu akan kejadian barusan.


“Kamu mau diemin aku terus, ran?”

“Eh.. ah?”

“Hehehe, kamu mau diemin aku?”

“Ehm… kamu, emang kenapa?”

“Hah? Kamu kenapa ran?”

“Duh.. sorry, aku bingung.”

“Ya enggak usah bingung begitu. Maksud kedatanganku kemari hanya ingin tahu kabar kamu. Karena ya.. sudah terhitung berapa tahun kamu pergi? kurang lebih ada tiga tahun setelah kita lulus kuliah.”

Aku mengangguk dan menundukkan kepala.

“Oh iya, bunda sama Dika kemana?”

“Dika masuk rumah sakit. Gejala tifus, lusa juga pulang.”

“Oh ya? Tapi lusa beneran pulang?”

“Ya iya. Sudah bisa pulang tapi lusa kata dokter.”

“Syukurlah. Terus bagaimana petualangan kamu di Yogya?”

“Ya seru, asyik, gitu deh.”

“Gitu gimana ran?”

“Kamu kepo banget?”

Ucapku dengan nada yang melengking, ia hanya menatapku datar.

“Kamu kenapa sih? Aku kemari hanya untuk menemui kamu tapi kenapa kamu kayak enggak suka gitu sama aku?”

Suasana menjadi hening beberapa saat. Ia nampaknya kecewa dengan ucapanku barusan.

“Ya udah. Kalau kamu lagi enggak mau diganggu mendingan aku pergi.”

Aku menarik tangannya dan bilang jangan pergi.

“Maafin aku, put. Aku tadi cuma kaget dan bingung. Habisnya kamu tiba-tiba muncul tanpa salam.”

Ia hanya cekikikan dan tiba-tiba mengusap kepalaku. Kembali duduk dan memulai kembali bercerita.

“Kamu enggak sadar karena kamu pakai headset. Coba kamu lihat volume lagu yang kamu dengar.”

Aku tersipu sendiri karena aku sadar kalau volume dari lagu yang aku dengar memang setengah full.

“Hehehe, iyah.”

“Masih suka makan ayam penyet sama minum es teh manis enggak, ran?”

“Hah?”


****

Malam itu Putra mengajakku makan malam. gerimis namun tidak cukup membuatku rindu akan masa-masa aku dengan Putra semasa sekolah dulu. Rasanya senang, akhirnya aku dan Putra bisa kembali bertemu meskipun rasanya aneh buatku. Aku juga tidak lupa memberi pesan pada bunda kalau aku dan Putra sedang makan diluar. Mengetahui hal ini, bunda langsung menelponku. Bilang kalau bunda senang akhirnya aku dan Putra sudah bertemu.


“Siapa tadi yang telpon?”

“Bunda.”

“Waduh, disuruh pulang ya?”

Aku menggeleng sambil mencocol mentimun ke sambal.

“Kirain. Bilang apa bunda?”

“Mau tau aja sih.”

“Yee kan aku udah lama enggak ajak kamu keluar sampai jam segini. Eh jam berapa sekarang?”

Putra memeriksa jam di ponselnya.

“Baru jam tujuh. Kamu lagi buru-buru emang?”

“Ah enggak. Aku cuma takut kemalaman aja ajak kamu makan diluar gini. Nanti tanpa sadar kita kemalaman.”

“Hihihi.”

Putra melihatku, aku malah mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Kamu manis, ran.”

“Apaan sih, receh banget?”

“Tapi bohong.”

Katanya sambil menjulurkan lidah padaku. Aku melempar sedotan dari gelas es teh manis yang ternyata ada air teh di dalam sedotannya. Sontak ia melotot karena hidungnya kebasahan air teh yang keluar dari sedotannya.

“Aduh basah, Put.”

Aku menarik selembar tissue dan mengusap hidung Putra yang basah. Kami terdiam sesaat. Jantungku berdegup lebih cepat saat mata kami saling memandang satu sama lain. Namun semuanya buyar ketika ada pengamen yang datang menghampiri kami. Kami saling tersipu malu sambil melanjutkan makan malam kami sambil diiringi lagu Remaja dari HiVi yang dibawakan pengamen malam itu.

Setelah selesai, Putra membayar makan malam kami berdua. Langit juga tidak lagi menangis. Kami berdua berkeliling Ibu Kota dengan motor Matic hitam kesayangan Putra yang masih awet sejak Putra SMA. Si Jagur.

“Put, si Jagur udah berapa tahun yah?”

“Ya hitung aja. Aku punya si Jagur waktu SMA kelas dua, waktu kita kuliah, waktu kamu berkelana tanpa kabar, dan sampai detik ini masih aku tunggangi.”

‘Delapan tahun?’ kataku dalam hati.

“Delapan tahun, put?”

“Delapan tahun enam bulan lebih tepatnya.”

“Hahaha, sampai hapal ke bulan-bulannya kamu.”

“Ya iyalah, si Jagur kan saksi bisu perjalanan kita ran.”

Aku menggeleng sambil nyengir mendengar ucapannya.

“Mau makan cilok enggak? Jajan yuk.”

“Hah, enggak salah? Kita baru makan.”

“Udah enggak apa-apa. Kan aku yang bayar.”

“Ohhh habis gajian ceritanya?”

“Ya enggak gitu juga. Mau enggak?”

“Mau.”

****

“Makasih, Put.”

“Justru aku yang harusnya terimakasih ke kamu.”

“Kok gitu?”

“Ehh bukan ke kamu. Aku mau berterimakasih sama Tuhan.”

Aku mengangkat kedua alisku.

“Ya aku mau berterimakasih sama Tuhan. Karena kamu masih sehat-sehat saja dan kamu enggak nyasar. Aku kira saking kamu senang berkelana kesana kemari, kamu lupa jalan pulang.”

Aku tertawa lepas mendengarnya.

“Lusa aku kemari lagi ya?”

“Hah?”

“Ranti, kamu tuh kayaknya harus ke dokter THT deh. Dari awal aku ketemu kamu sampai sekarang tiap aku nanya kamu selalu jawab ‘hah’.”

Aku memukul pelan lengannya, ia mencoba menghindar namun tetap saja kena.

“Ya apaan?”

“Tuh kan. Aku harus bilang lagi.”

“Ya apaan?”

“Dengar, dengar. Lusa, aku mau kesini lagi. Mau ketemu bunda sama Dika. Kan adik kamu baru pulang dari rumah sakit.”

“Ohh, ya udah datang aja kemari.”

“Cieee ngarep cieee.”

“Ah Putra nyebelin ah !”

“Hahahha, ya udah. Nanti aku kabari kamu lagi. Sekarang sudah jam Sembilan. Ranti istirahat, jangan lupa kabari bunda. Oke?”


Aku mengangguk sambil tersenyum, disusul tangan kananku yang hormat padanya. Ia hanya tersenyum sambil men-starter motornya. Pria dengan kemeja itu menggeber motornya dan melambaikan tangan kirinya padaku. Aku masih tidak percaya dengan empat jam yang aku lewati bersama Putra. Aku masuk kedalam rumah dan bersih-bersih badan.


Berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, dan masih terbayang wajah Putra. Sangat berbeda dari Putra yang aku kenal secara fisik. Ah sudahlah.
Ponselku berdering. Ada pesan whatsapp yang masuk. Ya, dari Putra.


“Eh, aku sudah sampai rumah.”


Aku tersenyum dan membalas pesannya. Terdengar suara atap rumah yang bersahut-sahutan. Ahh, hujan. Ini pertama kali aku menyukai hujan. Apa karena gerimis yang turun sehabis maghrib tadi? Entahlah. Ini saatnya aku tidur.


****

Tepat pada hari dimana Dika pulang. Setelah melaksanakan kewajiban shalat Dzuhur, bunda dari luar mengetuk pintu meminta masuk. Aku mengintip dari jendela kamar. Dengan mukena yang masih aku kenakan, aku berlari menuju pintu dan membukakannya untuk bunda.


“Assalammu’alaikum..”


Aku membalas salam bunda dan langsung membantu mengangkat tas yang bunda bawa. Dika yang duduk di kursi roda dibantu supir taksi untuk masuk kedalam rumah. Aku tercengang.


“Bun, kok adik pakai kursi roda?”

“Iyah, masih lemas dia. Ndak kuat jalan. Sudah sana bantuin.”

“Eh taksinya sudah dibayar?”

“Uwis nduk.”

Aku mengangguk dan berterimakasih kepada supir taksi yang sudah membantu bunda dan Dika. Setelah supir taksi selesai dengan urusannya, kini giliranku yang membantu Dika masuk ke kamarnya.

“Ciee yang sudah pulang cieee. Habis ini kamu makan ya.”

“Orang udah makan juga.”

“Ohh udah, yahh tadinya kakak mau masakin kamu.”

“Emang kakak bisa masak? Masak air aja gosong. Enggak mau ah, mendingan  masakan bunda.”

“Enak aja. kakak bisa masak !”

“Masak apa?”

“Masak mie.”

Dika tertawa sambil menepuk-nepuk jemariku. Ia mencoba bangun dari kursi roda dan berbaring di tempat tidur. Meminta juga agar tirai jendela dibuka agar ia bisa melihat langit katanya. Ada-ada saja.

“Ada lagi enggak yang mau kakak bantu?”

“Enggak kak, makasih yah.”

“Iyah sama-sama. Yaudah kamu istirahat. Pintunya mau kakak tutup?”

“Jangan di tutup kak. Biarkan dibuka aja.”

Aku mengacungkan jempol sambil tersenyum padanya.

Saat berjalan menuju dapur untuk minum, bunda tertawa padaku.

“Ehh kamu kok masih pakai mukena?”

Aku mengangkat kedua alis dan berkaca.

“Hehehe, iyah tadi buru-buru bukain pintu buat bunda.”

“Buka nduk nanti kotor enggak sah solatnya kalau kotor.”

“Siap bunda.”

Aku berjalan menuju kamar, merapikan mukena dan menyisir rambut. Ponselku berdering. Putra.

“Hallo, put?”

“Hallo, kamu dimana?”

“Di rumah.”

“Aku sebentar lagi sampai rumah. Ini lagi di pasar. Beli buah dulu buat Dika.”

“Aduh enggak usah repot-repot.”

“Enggak kok. Dika udah pulang?”

“Udah. Barusan aja.”

“Pas ! Oke deh. Nanti aku ke rumah kok. Bye…”


Ucapnya sambil menutup telepon. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengganti pakaian. Aku berjalan menuju lemari, memilah dan memilih pakaian. Jadi ingat jumpsuit saat aku berangkat ke Yogya. Ahh tidak. Jangan pakai yang itu. Aku raih rok berwarna pastel yang panjangnya, dan blouse berwarna navy dengan panjang lengan tiga perempat. Saat aku coba, ternyata aku nampak seperti wanita berusia dua puluh lima tahun. Padahal usiaku baru dua puluh tiga tahun. Alhasil aku mengakalinya dengan menata rambut. Sebagian rambut aku ikat kebelakang, sisanya aku biarkan tergerai. Sebagai pemanis, aku tambahkan jepit berbentuk bintang laut warna silver pada ikatan rambutnya. Ahh sama saja. Khawatir akan Putra yang datang sebentar lagi, mengingat juga kalau jarak antara pasar dan rumahnya tidak jauh, alhasil ia biarkan dandanannya seperti apa adanya.


“Semoga Putra enggak ketawa lihat dandanan aku.”


Benar saja. Belum lama setelah aku mengganti pakaian dan mengubah penampilan. Suara deru si Jagur yang masih aku hapal sudah tiba di depan rumah. Aku mengintip dari balik jendela. Putra yang nampak rapi tanpa jeans sobek, jaket denim dekil, dan rambut gondrong sepinggang. Kini berganti menjadi putra yang dewasa plus, kacamata? Tanpa pikir panjang, aku langsung keluar kamar menuju pintu.


“Hai..”


“Ranti?”


“Iyah? Kamu sudah datang?”


Putra menggelengkan kepalanya sambil tercengang melihatku.


“Kok ngeliatnya gitu banget?”


“Hehehe. Bunda mana?”


“Oh iyah aku sampai lupa. Ayo masuk.”


Bertemu dengan bunda dengan basa basi khasnya. Belum berubah dia ini.


“Ranti, antar Putra ketemu Dika.”


Aku mengangguk dan menggandeng tangan Putra. Apa? Aku menggandengnya. Ahh, sial !


“Ran..?”


“Apa?”


Lirikan mata Putra yang membuatku paham kalau tangannya telah aku genggam. Aku gelagapan.


“Ehmm sorry, Put.”


“Cieee gandengan tangan..”


Dari jauh Dika sudah melihat kami berdua ternyata.


“Ehh bro.. sehat?”


Aku dan Putra masuk ke kamar Dika. Pria yang nampak dewasa itu memberikan tangannya pada Dika.


“Put, mau minum apa?”


“Ehh enggak usah. Habis ini kan kita jalan.”


“Jalan?”


Putra mengedipkan matanya sebelah. Genit ! aku langsung keluar kamar meninggalkan pria-pria itu.
Setelah selesai, Putra meminta izin pada bunda untuk mengajakku keluar. Seperti biasa, bunda bertanya pada Putra kemana dan berapa lama kami pergi. Akhirnya bunda mengizinkan. Diperjalanan Putra bertanya kemana kita akan pergi. Aku jawab saja terserah, karena memang Putra yang mengajakku bukan?


“Yaudah. Kamu ikut aku aja deh.”


Aku menunjukkan smiling eyes padanya.


Si Jagur membawa kami ke salah satu tempat makan kaki lima di bilangan Jakarta Timur. Aku tahu tempat ini. Ini adalah tempat dimana aku dan Putra kala SMA kelas dua, semester satu, tepatnya November 2011, dan saat itu kita pertama kali kenal. Ya, berawal dari masalah sepele. Putra tidak sengaja meninggalkan dompetnya. Kita juga baru tahu satu sama lain bahwa kita satu sekolah. Hanya beda kelas saja. Aku di sebelas IPS satu, dan Putra Sebelas IPA dua.


“Put, yakin mau disini?”


“Ya aku sih ikutin apa kata si Jagur aja. Iyah gak, bro?”


Ucapnya sambil mengelus kaca spion.


“Oke deh. yuk?”


Kami berjalan masuk dan mencari meja kosong.


“Disana aja.”


Ahhh, lagi-lagi yang ditunjuk adalah meja dimana aku pernah duduki.


“Mau makan apa?”


“Hmmmm”


Gumamku sambil melihat daftar menu.


“Gado-gado kayaknya enak nih.”


“Itu aja? Biasanya banyak.”


Aku menatapnya sambil tertawa. Aku dibuat malu olehnya.


“Oke, tapi kali ini aku mau kita bayar masing-masing.”


“Lah, emang kamu pikir aku bakal traktir kamu? Enak aja.”


“Ihh Putra nyebelin ah. Hahaha.”


Dua porsi Gado-gado dan dua botol air mineral menjadi menu makan siang kali ini.


“Oke, jadi kali ini kamu enggak mau nambah makanan lagi?”


“Ihh Putra bawel yah?”


Ia tertawa sambil menggulung lengan kemejanya. Kali ini ia sangat berbeda. Jeans hitam selutut, t-shirt abu-abu, dan kemeja flannel hitam. Ditambah jam tangan yang sangat aku kenal sejak ia pertama kali membelinya di semester enam saat kuliah. Ia membeli di pasar malam saat kami ingin naik bianglala sambil menyantap permen kapas berdua. Melihat pemandangan pasar malam dari ketinggian.


“Jadi sekarang kamu pakai kacamata, put?”


Ia melepas dan menaruhnya di meja.


“Jelek yah?”


Aku menggeleng.


“Cuma terlihat lebih tua aja. Hihii. Enggak kok, aku bercanda. Kamu ganteng.”


“Tadi katanya mau bayar masing-masing makannya. Kok sekarang malah ngegombal sih, kode banget minta dibayarin?”


“Ihhh aku serius tau kamu ganteng.”


“Terus dulu aku jelek?”


“Enggak jelek sih, cuma kumel aja. Kemana tuh pakaian perjuangan anak teknik dulu?”


“Hahaha, masih ingat aja. Udah masuk museum. Jadi keset sekarang semuanya. Ibu risih, jadi ya gitu deh.”


Aku tertawa dibuatnya.


“Terus gimana kerjaan kamu, katanya mau ke Belanda dua bulan lagi?”


“Iyah, doakan yah. Aku ditugaskan kesana.”


“Iya deh, apa sih yang enggak buat sahabat aku?”


Ia mencubit pipiku. Kami tertawa. Di sela-sela obrolan kami, pesanan datang. Nampak menggoda lidahku gado-gado legend ini. Saling bertanya kesibukan sekarang. Pekerjaanku dulu, dan kesibukanku sekarang sebagai blogger traveller.


“Blognya sudah ada iklan?”


“Sudah.”


“Wihh, dapat uang dong?”


“Ya lumayan buat aku nabung.”


“Bagus deh.”


“Kamu sendiri gimana di kerjaan sekarang?”


“Ya begitu. Urus projek perusahaan, kesana kemari, terbang sana sini.”


“Tantangannya banyak?”


“Ya lumayan. Belum lagi aku harus berhadapan sama orang yang masih ada hubungan keluarga dengan yang punya perusahaan, ada juga yang ambil jalur belakang buat naik jabatan.”


“Termasuk kamu?”


“Enak aja. Enggak lah!”


“Percaya kok, percaya..”


Ucapku sambil membuka tutup botol air mineral dan meminumnya.


Setelah selesai, aku dan Putra kembali menunggangi si Jagur. Langit tidak panas, dan tidak juga mendung.


“Ran, ke Ancol mau enggak?”


“Ayo, put. Lihat laut, cari angin juga.”


“Cari angin, angin ngapain dicari? Ada-ada aja.”


Aku tertawa dan menepuk pundaknya. Sesampainya disana, Putra tidak turun dari motornya. Ia malah diam sambil memperhatikan sekitar.


“Sepi ah. Enggak seru.”


“Terus maunya yang ramai?”


Ia mengangguk sambil melihatku. Aku hanya menghela napas.


“Yaudah kita cari aja tempat yang ramai.”


“Enggak mau, ran. Aku maunya disini.”


Aku teringat akan dulu saat ia memintaku untuk berhenti mengerjakan tugas di perpustakaan hanya untuk makan bersama. Ah, sifat manjanya masih ada ternyata. Wajar saja, Putra memang anak semata wayang.


“Eh itu ada tukang es pisang ijo. Beli yuk, mau?”


“Kamu kayak enggak tau aja, aku kan enggak suka pisang.”


“Iiih coba aja dulu. Ini tuh enak tau.”


Ucapku yang padahal aku sok tahu.


“Emang kamu udah pernah beli disitu?”


“Udah, put.”


“Kapan emang? Kita kalau kemana-mana suka bareng dan baru kali ini aku lihat kamu mau makan es pisang ijo.”


“Duh udah dong, ayo aku pengen beli.”


“Hmmm, iya deh. Tapi aku enggak mau beli. Kamu aja.”


“Enggak mau. Maunya kita beli.”


“Oke. For the first time !”


“Hihihi, Putra baik.”


Ucapku sambil mencubit pipinya sampai ia mengaduh kesakitan dan membenarkan letak kacamatanya. Akhirnya aku dan Putra menuju stand yang menjual es pisang ijo. Memang nampak ramai dan kelihatannya enak.


“Mas, pesan es pisang ijo dua mangkuk yah.”


“Eh eh, satu aja. Enggak mas.”


“Ah Putra !”


Ucapku sambil cemberut. Akhirnya Putra mengalah. Dua mangkuk berukuran sedang berisi es pisang ijo lengkap dengan parutan keju dan disiram dengan sirup merah. Harganya juga sangat terjangkau. Tujuh ribu rupiah. Ternyata tidak hanya menjual es pisang ijo, namun ada juga kentang tornado dan bakso bakar yang harganya juga tidak sampai merogoh kocek dalam-dalam.


“Ran, aku mau bakso bakarnya. Pesan dong?”


“Oke, tunggu ya.”


Selagi aku memanggil pelayannya untuk memesan bakso bakar, terlihat Putra ragu-ragu mencicipi kudapan olahan pisang. Ia hanya mengaduk-aduk es pisangnya.


“Heh, dimakan dong.”


“Ranti. Kamu tahu sendiri aku enggak suka pisang.”


“Eh ini tuh enak.”


“Coba kamu makan duluan.”


Tanpa basa basi, aku langsung memotong pisang yang diselimuti adonan hijau dengan sendok bebek yang aku pegang.


“Aku makan nih.”


Putra hanya mendongakkan kepalanya padaku. Langsung saja aku hampiri tanganku ke mulut. Rasanya sangat enak. Aku ingin lagi dan lagi.


“Enak?”


“Banget, put. Coba deh. Ini enak banget.”


Putra masih ragu-ragu untuk mencicipinya.


“Sini deh aku suapin. Lama banget kayaknya mau makan doang.”


Aku mengambil mangkuk Putra dan memotong pisangnya.


“Ayo, buka mulutnya.”


“Ran, aku enggak…”


“Aaaaaa…”


Ucapku dengan gaya ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya makan. Orang disekeliling mulai memperhatikanku dan Putra.


“Ran malu ahh. Aku aja sini yang makan.”


“Buka mulutnya ih cepat !”


Dengan pasrah, Putra menurut. Ia langsung menyambar es pisang ijo yang aku sodorkan ke mulutnya. Ia mengunyah dengan mata yang dipejamkan. Tangannya juga menutup mulutnya.


“Gimana, enak toh?”


“Hu’um, enak ran.”


Ucapnya sambil mengangguk namun tangannya masih menutup mulutnya.


“Ihh itu tangannya awas, makan lagi.”


“Stop. Kali ini biar aku aja yang makan sendiri. Enggak usah suap-suapan. Bakso bakar aku mana?”


“Ya belum jadi, lihat aja tuh orang-orang pada ngantri.”


“Ranti.”


“Apa?”


“Pisang itu ternyata enak.”


“Apa aku bilang. Ini pasti enak. Kamu baru pertama kali cobain pisang, kan?


Pria manis itu mengangguk sambil memotong-motong pisang dan memasukkannya kedalam mulut. Aku tersenyum melihatnya. Tidak lama kemudian, bakso bakar pesanan Putra sudah jadi. Tidak lupa Putra mengucapkan terimakasih pada pelayannya.


“Kamu mau ran?”


“Enggak deh. Aku takut kekenyangan. Hehehe.”


“Tuh, tumben banget kamu. Apa semenjak kamu berkelana sana sini kamu kuliner terus? Udah gitu begitu pulang ke Jakarta, timbang badan, kaget lihat angka berat badan?”


“Hahaa, apaan sih? Ya enggak lah. Cuma aku enggak mau pas kita lagi jalan tiba-tiba ngantuk karena kekenyangan. Kan jadi enggak seru jalan-jalannya.”


“Ah neng bisa aja.”


Aku tertawa mendengar Putra yang menyebutku dengan panggilan ‘Neng’.


“Eh habis ini kita kemana lagi?”


“Hmmm kemana ya, kamu maunya kemana?”


“Baru jam setengah lima, sih.”


“Ya udah. Kita main-main aja disini. Kan katanya kamu mau cari angin. Silahkan tuh cari angin. Kalau bisa, sekalian kamu minta kantong kresek sama mas-masnya tuh. Buat kantongin angin pantai Ancol. Terus kasih ke bunda atau Dika sebagai oleh-oleh. Gimana ideku?”


“Hahaah, kamu tuh.”


“Loh, benar toh?”


“Iya aja deh, biar cepet.”


Putra mencubit pelan pipiku. Kami pun menghabiskan waktu senja berdua di sana. Banyak cerita yang aku dapat sejak tidak lama berjumpa dengannya. Belum lagi kesiapannya untuk pergi ke Belanda dua bulan lagi. Putra juga antusias mendengarkan ceritaku selama tiga tahun berkelana. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Rin, ke air yuk?”


“Serius mau basah-basahan?”


Putra mengangguk sambil menengok kearah pantai yang letaknya ada disamping kami.


“Yaudah tapi habiskan dulu makanannya. Entar nangis loh es pisang sama bakso bakarnya.”


Putra tertawa renyah. Setelah selesai makan dan membayar, kami pun menitipkan motor terlebih dahulu. Putra yang berjalan di pasir langsung membuka sneekers miliknya. Aku juga tidak mau ketinggalan. Kami saling kejar-kejaran, bermain dengan deburan ombak yang tidak besar. Hingga tidak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat. Rok yang aku kenakan tidak basah, hanya celana pendek yang Putra kenakan saja yang basah karena ia nekat turun kedalam air.


Matahari mulai menunjukkan sinar indahnya. Aku dan pria berkacamata itu duduk di bibir pantai beralaskan sneekers kami masing-masing.


“Put, makasih loh sudah ajak aku jalan.”


“Hehehe, iyah sama-sama.”


Ucapnya sambil menatapku. Kami saling melempar tatap satu sama lain. Matahari lambat laun tenggelam namun tetap pada cahaya berwarna jingga kemerahan yang ditumpahkan.


“Aku mau bicara sesuatu sama kamu, ran.”


“Apa?”


Putra mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan denganku. Aku juga.


“Aku mau jawab pertanyaan yang dimana kamu lontarkan waktu itu. Di rooftop waktu kita prom.”


Aku menatap matanya dalam-dalam. Nampaknya ia sudah menemukan jawabannya setelah tiga tahun aku pergi.


“Ok. Apa jawabannya?”


“Kamu pergi karena kamu butuh sesuatu yang tidak mungkin bisa orang dapatkan. Kamu bukan tidak suka dengan keramaian, melainkan kamu hanya tidak suka berlama-lama di suasana yang riuh. Kamu juga bosan dengan waktu yang kita lalui bersama. Semua orang memang butuh waktunya untuk sendiri. Menghirup udara, menatap matahari yang terbit dan tenggelam di tempat yang berbeda, merasakan apa yang orang lain rasakan diluar dunia kita. Untuk apa? Untuk belajar bagaimana kita menjadi sesosok manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagaimana yang telah tertulis oleh garis yang tentukan oleh-Nya. Kita memang tidak sempurna, dan kita memang berbeda. Namun tidak dengan cinta. Semua orang butuh dan perlu mencari cintanya.


Itu yang kamu lakukan. Kamu belajar bagaimana mencintai negeri ini dan mempelajari setiap inci dari apa yang telah kamu lihat, kamu dengar, dan kamu rasakan. Tujuannya yang tidak lain adalah untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Enggak heran kalau selama aku mengenal kamu, kamu suka menolong orang. Tiga tahun buatku rasanya sebentar.”


Aku fokus melihat gerak bibirnya yang mengeluarkan suara.


“Selain itu juga, kamu harus tahu akan ini.”


Ia mengeluarkan sebuah buku berukuran kecil dari saku kemejanya. Aku tidak sadar sedari tadi ia mengancingkan saku kemejanya. Nampak tidak asing dengan buku kecil itu. Itu buku dari almarhum Ayah. Harta karunku.


“Jadi selama ini ada di kamu? Aku cari ini kemana-mana.”


“Kamu menjatuhkannya sewaktu kamu tinggalin aku di rooftop. Sorry aku lancing, main baca dan buka isinya. Ternyata kamu menjalankan apa yang ayah kamu impikan. Buatku, kamu berhasil Ranti.”


Aku menitikkan air mata saat membuka buku itu. Ada fotoku dan Ayah yang mulai menguning.


“Put..”


“Iya ran..”


Aku menangis sejadi-jadinya. Putra menyeka air mata yang membasahi pipiku.


“Kamu enggak perlu nangis. Apa yang kamu lakukan itu benar. Waktu itu aku yang salah, aku belum paham kenapa kamu selalu mengikuti kemana arah angin berhembus, kamu senang kesana kemari, bahkan sampai-sampai aku yang tadinya enggak tahu kamu dimana bisa tahu posisi kamu. Apa kamu ingat siapa yang mengirim foto dari sisi samping, belakang, dan depan sewaktu kamu di Yogya?”


“Siapa put?”


“Itu aku, ran. Aku senang lihat kamu. Tapi aku sempat kecewa ketika kamu enggak terima bunga yang aku kasih.”


“Jadi, bunga yang waktu aku di hotel itu dari..”


Belum selesai aku bicara, Putra mengangguk sambil memegang kedua pipiku.


“Iya, itu aku. Enggak apa-apa kok. Harusnya aku yang minta maaf karena mungkin waktunya belum tepat.”


“Maksudnya belum tepat itu apa?”


Ia mengeluarkan sesuatu juga dari dalam saku celananya yang basah. Sebuah kotak berwarna hitam yang ternyata berisi cincin.


“Ranti. Delapan tahun aku mengenal kamu. Enggak ada lagi alasan buat kamu bisa berjalan sendiri tanpa aku. Kamu ingat ucapanku malam itu? Kemanapun kamu pergi aku ikut. Aku berharap begitu juga sebaliknya. Kamu butuh teman Ranti. Mulai detik ini, selamanya, sampai jadi debu, kamu jadi temanku. Teman hidupku, ranti. Kita buat cerita kita.”


“Kamu…”


Putra hanya tersenyum sambil terus menatapku. Sang surya mulai terbenam. Kami berdua bak siluet ditengah lalu lalang orang yang menikmati lukisan yang diciptakan Tuhan.





          ****

“Terimakasih sudah antar aku pulang.”


“Iyah sama-sama. Maaf yah aku enggak bisa mampir, takut kemalaman. Udah jam Sembilan juga. Mendingan kamu buruan masuk.”


“Iyah.”


Putra pergi dengan si Jagur. Namun baru setengah jalan, aku memanggilnya yang sontak membuatnya berhenti dan menoleh padaku.


“Apa?”


“Eng… enggak, ha.. hati-hati ya.”


Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku langsung membuka pagar, melangkah masuk dan tidak lupa menguncinya.


“Ranti.. enggak diantar Putra?”


Aku hanya tersenyum pada bunda yang tiba-tiba membuka pintu.


“Heh, ditanya kok malah senyum-senyum. kamu enggak diantar Putra?’”


“Hmmmm, diantar kok bun.”


“Oh ya sudah ayo masuk.”


Aku mengangguk dan membuntuti bunda dari belakang.


“Bunda..”


“Apa?”


“Aku sayang bunda.”


Ucapku yang disusul memeluk dan mencium kening wanita yang sangat aku sayangi. Setelahnya aku langsung berlari ke kamar.


“Kenapa itu anak?”

               ****


Bulan telah menemaniku tidur malam ini. aku tidak sangka bahwa kau akan melakukannya. Semoga keputusanmu memilihku bukanlah keputusan yang salah, namun aku yakin dan sangat yakin bahwa cinta tidak pernah salah dalam memilih.


@Kamar Tidur
22:00 PM


Tulisku dalam buku kecil yang telah kembali pada genggaman. Aku melihat potretku dan ayah. Aku merindukannya. Ditengah-tengah keheninganku sebelum tidur, ponselku berdering. Ah kalian pasti sudah tahu kalau ini adalah Putra.


“Hallo, put?”


“Hallo. Belum tidur?”


“Menurut kamu?”


“Hahah, iyah belum. Oh iya, bunda tanya enggak soal cincin yang kamu pakai?”


“Hmm, belum tahu sih soal cincin. Lagian belum aku kasih tahu juga. Palingan besok pagi juga bunda peka kalau aku pakai cincin.”


“Kasih tahu bunda secepatnya yah, ran.”


“Iyah, besok aku kasih tahu.”


“Ranti..”


“Iyah?”


“Tidur yuk, udah malam. Besok takut kamu kesiangan kasih tahu ke bunda.”


“Hahaha. Oke deh siap.”


Ucapku sambil tersenyum diatas ranjang tidur.


“Aku sayang kamu, ran.”


“Hihihi…”


“Loh malah ketawa.”


“Iyah, put. Aku juga sayang kamu.”


“Selamat malam.”


“Malam..”


Aku tersipu sambil melihat cincin yang kini melingkar di jari manisku. Baiklah. Saatnya aku tidur, karena ada benarnya juga apa yang Putra bilang. Khawatir besok aku kesiangan mengabari bunda soal Putra yang akan menikahiku dua bulan lagi, sepulangnya ia dari Belanda.


Ok.


Selamat Tidur.






     ****

Komentar

Postingan Populer