Suara yang bersahut-sahutan dari pengeras suara yang
menggantung di setiap sudut dinding stasiun masih meneriakkan pengumuman bahwa
kereta yang akan aku tumpangi akan tiba dalam lima menit. Nampaknya langit akan
turun hujan, semoga saja tidak. Aku menggigit wafer coklat sambil ditemani
hangatnya matcha latte, jam tangan
hitamku menunjukkan pukul dua siang. Aku menengok ke sebelah kanan, nampak sepasang muda-mudi sedang bergandengan tangan sambil berjalan menyeret koper. Tidak jauh
dari sana ada seorang ibu penjual pecel yang sedang melayani pembeli. Aku hanya
tersenyum kecil. Ponsel bergetar dari dalam saku tas cangklong merah. Aku rogoh
dan mengambil ponsel. Tiga pesan whatsapp
masuk darinya. Bertanya apakah sudah naik kereta atau belum, sudah makan
atau belum, dan diperjalanan apakah aku mengobrol dengan supir taksi? Sekadar basa-basi atau membahas topik terhangat. Lagi-lagi hanya tersenyum dan menatap orang-orang yang duduk di kursi
tunggu. Kembali ku taruh ponsel kedalam tas dan mengunyah wafer.
Tiga menit berlalu, sebentar lagi kereta yang aku tumpangi tiba. Segera aku masukkan camilan kedalam tas cangklong dan aku pegang satu cup berukuran sedang berisi matcha latte dengan tangan kanan, ku
gendong ransel kesayangan yang tak pernah lelah menemani kemanapun aku pergi.
Kali ini rasanya tidak terlalu berat karena memang aku
tidak membawa banyak pakaian. Aku menebak penumpang kereta hari ini tidak
ramai. Ahh benar ternyata. Aku langkahkan kaki dan berjalan didalam gerbong. Memilih
tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan sepanjang
perjalanan.
Lagi-lagi ponselku bergetar, kali ini bukan pesan whatsapp melainkan telepon dari bunda.
“Nduk, nanti
kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar. Jangan lupa juga pesanan adikmu.”
Aku mengerutkan kening. ‘Pesanan adik?’
“Pesanan apa memang, kok Dika enggak bilang?”
“Lehh piye?”
“Ya sudah nanti Ranti hubungi Dika lagi, bun”
“Ya. Hati-hati nduk.”
Aku tersenyum sambil menutup telepon. Punya adik bujang sekaligus bungsu itu memang
sulit. Terkadang banyak maunya terlebih sekarang-sekarang ini, ingat saat aku
baru empat bulan bekerja di salah satu perusahaan media televisi swasta. Baru gajian
pertama turun, eh dia sudah malak. Meminta satu action figure Gundam yang aku tidak paham darimana
bagusnya. Alangkah lebih baik jika aku belikan ia replika sepeda Onthel atau
sebuah Angklung, atau kaos. Walaupun begitu, aku sangat menyayanginya.
Suara decitan rel kereta dan tembang dari Nadya
Fathira lewat earphone yang aku
pasang di kedua telinga menemani perjalananku menuju Kota Pendidikan. Aku
bernyanyi dengan suara kecil, bahkan aku hanya bersenandung. Ponselku bergetar
kembali dan kali ini pesan darinya lagi-lagi meramaikan. Aku menghela napas dan
mengalihkan pandangan keluar jendela. Ada apa dengannya akhir-akhir ini?
****
“Ran, kita jadi makan enggak nih?”
Ucapnya sambil menghampiriku yang sibuk mengetik
tugas. Ia hanya memperhatikanku sambil memutar-mutar ponsel dengan jemarinya.
“Kamu enggak lihat aku lagi ngapain?”
“Iyah aku tahu kamu masih ngetik tugas dari Bu
Chyntia, tapi kamu enggak lapar? Sudah 4 jam kamu duduk disini !”
Aku hanya menggeleng sambil berdeham. Terus mengetik
beberapa paragraf lagi. Menyalin hasil penelitian dari lima jurnal yang aku
pinjam.
“Ayam penyet enak, nih. Apalagi kalau ditemani sama
es teh manis. Kamu enggak ngiler?”
Aku menggeleng lagi.
“Ran.. ayolah.”
Seketika jemari berhenti mengetik dan aku
memandangnya. Wajahnya dibuat sok
imut sambil menyimpulkan jarinya, menandakan ia memohon dengan sangat.
“Oke. Kita ke kantin. Tapi tunggu lima menit lagi.”
“Ahh kelamaan !”
“Emangnya kamu enggak bawa bekal? Biasanya kamu
rajin bawa.”
Ia menggeleng sambil cemberut. Aku cekikikan melihat
ekspresinya.
“Ya sudah, yuk !”
Aku membereskan tumpukan jurnal, buku, ballpoint, dan spidol warna yang hampir
terjatuh. Laptop aku buat sleep mode dan
menitipkannya pada teman sebelahku. Kami keluar perpustakaan sambil mengaitkan
kelingking satu sama lain.
“Mau makan di lantai atas atau lantai bawah?”
“Hmm, enak diatas kayaknya. Adem, banyak angin.”
Ia mengangguk sambil tersenyum. Manis.
“Ehh tapi gigi kamu masih ngilu enggak kalau makan, bukannya kamu baru pasang kawat gigi?”
Aku menggeleng sambil memamerkan gigiku yang
berhiaskan kawat gigi.
“Untung kamu lucu, loh. Coba kalau kamu jelek.”
“Emang kalau aku jelek kenapa?”
“Yaa nggak apa-apa. Palingan….”
“Palingan apa, palingan kamu enggak anggap aku
sahabat lagi?”
“Su’udzon.”
“Habis apa kalau aku jelek?”
“Ya kalau kamu jelek, aku jelek juga. Biar sama-sama
jelek, seimbang bukan?”
“ihh, nyebelin.”
Aku meninju pelan lengannya, ia tertawa sambil berlari
meninggalkanku. Orang-orang hanya tersenyum pada kami.
Tidak perlu lama menunggu, dua piring ayam penyet
dan dua gelas es teh manis siap santap dihadapanku. Namun entah kemasukan setan
apa aku juga ingin makan cilok dan cakwe. Alhasil meja makan kami berdua nampak
ramai.
“Kamu kesurupan?”
Aku nyengir sambil menuangkan saus sambal di piring cakwe
dan cilok yang telah dilumuri saus kacang. Tidak lupa pula aku peras jeruk
limau agar rasanya lebih mantap. Ia menggeleng sambil melotot.
“Awas nanti kalau kamu nimbang badan terus kaget
lihat angkanya diatas berat badan sekarang, kamu marah-marah, aku juga kena
semprot, terus kamu bete seharian.”
Aku mengerutkan kening dan menyentil jidatnya yang
lebar.
“Sejak kapan kamu lihat aku ngeluh naik berat
badan?”
“Ya semua cewek kan begitu.”
“Logika matematika, semua cewek, semua. Namun ada
beberapa yang tidak.”
Ucapku sambil menjulurkan lidah. Ia tersenyum dan
mencubit pipiku.
“Gimana matkul Metodelogi Penelitian, enak
dosennya?”
“Iihh asyik banget dosennya. Bersyukur masuk sesi
01. Kamu siapa dosennya?”
“Dosen aku bosenin
cara mengajarnya. Baru masuk 10 menit, kita udah kayak ayam tetelo yang
angguk-angguk. Ngantuk !”
Aku tersenyum sambil menyedot es teh manis.
“Kalau aku beruntung, karena teman-temanku seru
semua. Dosennya apalagi. Tapi dengar-dengar sih dari senior, beliau ini
orangnya pelit nilai. Sedangkan matkul ini 3 SKS.”
“Wahhh, kamu harus buru-buru tobat dan harus
berperilaku baik. Apalagi sama anak kost kayak aku.”
“Maksudnya?”
“Ya kamu bilang dosennya asyik tapi pelit nilai,
supaya dipermudah dan diberi nilai bagus, kamu harus ubah sikap kamu yang
mengacuhkan sahabat. Udah gitu kamu juga harus sering-sering sedekah sama anak
kost. Yaa minimal traktir makan menu kayak gini tiap hari.”
“Idih ngarep banget. Itu sih bukan sedekah namanya.
Tapi kamu morotin aku !”
Kami tertawa sambil menikmati sore hari di kampus.
Tidak terasa sudah 6 semester aku bersamanya. Entah setelah ini apakah kita
fokus dengan tujuan masing-masing, atau masih terus bersama?
****
Dini hari
@Stasiun Tugu, DI. Yogyakarta
Sabtu, 00.15 AM
Aku percaya kalau besok langit Jogja akan
memuntahkan panasnya ke bumi walaupun udara dingin Jogja mulai menyelimuti
betisku sekarang. Maklum saja, aku tidak mengenakan jeans panjang. Hanya mengenakan jumpsuit
yang panjangnya hanya sampai 3cm dibawah lutut. Rambutku terlihat berantakan. Aku
menyusuri lorong stasiun untuk mencari toilet. Ponselku kembali bergetar, aku
acuhkan. Meraih beberapa lembar tissue dari dalam tas dan menyalakan keran air
sembari membasuh wajahku. Namun ponselku masih terus bergetar, tetap aku
acuhkan.
Setelah selesai membasuh wajah, aku meraih ponsel.
Mencoba mengirim pesan pada orang yang meneleponku sejak tadi. Belum selesai
aku mengetik, orang ini kembali menelepon. Aku menghembuskan napas perlahan.
Mencoba untuk tenangkan diri.
“Hallo..”
“Ran, kamu sudah
sampai? Akhirnya kamu angkat juga teleponnya. Kamu ketiduran yah makanya baru
bisa angkat?”
Aku langsung mengakhiri telepon dan bergegas
meninggalkan toilet. Keluar stasiun untuk memesan taksi online. Rasanya ingin
segera membaringkan tubuh ini di ranjang dan esok hari aku memulai petualangan
seru.
Hotel NEO Malioboro menjadi pilihanku untuk bermalam
disini selama 3 hari kedepan. Entah rasanya aku ingin melampiaskan rasa kesal
dan amarah yang memuncak di kota ini. Menghabiskan malam-malamku di angkringan,
menikmati wedang ronde dan sate jeroan yang dilumuri saus kacang sambil
ditemani pengamen jalan.
Sesampainya di hotel, aku menaruh backpack di dekat tempat tidur. Melepas
jaket denim, dan melepas ikat rambut panjangku yang di kepang, rasanya ingin
keramas dengan air hangat karena tubuhku mulai terasa lengket karena keringat.
Aku membaringkan tubuh lelahku di kasur yang empuk, sembari dimanjakan oleh bantal
dan selimut yang hangat. Kembali aku ambil ponsel dari saku celana dan membuka
akun instagram. Melihat beberapa insta-story
dan... sangat membosankan, tidak ada yang menarik. Aku menghela napas lagi.
Kalian mau tahu siapa yang tadi meneleponku?
Baiklah. Aku ceritakan sedikit. Namanya Putra, lengkapnya Putra Pembangun
Harapan. Nama yang unik buatku. Sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang bonafit.
Dua bulan lagi ia akan berangkat ke Belanda. Dia yang memberitahuku. Urusan
pekerjaan mungkin, aku tidak banyak bertanya. Sosok yang amat bisa menemani
hari-hariku dengan tawa dengan guyonan disetiap percakapan.
****
“Ran.. congratulations
!”
Ucapnya sambil memberikan se-bucket mawar merah plus
amplop berwarna merah jambu. Entah berisi tulisan apa.
“Thanks
Put.. niat banget ngasih ginian. Haha.”
Putra hanya tersenyum padaku dan mengelus pipiku
perlahan. Kami memandang wajah satu sama lain. Ini adalah hari bahagiaku dan
hari bahagianya, kami berdua baru saja menjadi sarjana muda. Aku dengan gelar
Sarjana Komunikasi, dan Putra dengan gelar Sarjana Teknik.
“Rin...”
“Yah?”
“Aku..”
“Kenapa?”
“Aku..”
“Kenapa put..?”
Kami saling diam dan bingung.
“Aku mau ke toilet, kebelet. Titip hp aku dulu, ya.”
Aku mengerutkan kening dan memasang muka sebal.
“Iiihh apaan sih, putra ?! Yaudah sana, habis ini
kita cepat-cepat pulang. Siap-siap buat Prom
night !”
Putra berlari meninggalkanku dan barang titipannya.
Aku malah tertawa sendiri dibuatnya.
Selesai acara, kami pulang ke rumah masing-masing.
Bersiap-siap untuk kembali ke lokasi tempat pelaksanaan Prom night. Aku kebingungan ingin memakai baju apa. Bunda
menyarankan agar aku memakai gown satin berwarna maroon, namun model gown itu
terlalu terbuka terutama pada bagian pundak. Aku tidak mau memakainya. Alhasil
aku memakai pakaian pilihanku sendiri yang terlihat masih sopan dan tertutup.
Bunda tidak mempermasalahkan, hanya saja ujarnya ‘sayang, beli mahal-mahal tapi
dipakai cuma satu kali’ padahal aku memakai itu juga karena salah beli. Hehehe.
Mungkin akan aku jual saja. Selama bisa jadi uang kenapa tidak?
Tepat pukul delapan malam Putra menjemputku, make up
natural dan rambut yang sudah di tata rapi oleh bunda nampak mempertegas siapa
diriku malam ini. Dia juga sudah menunggu sambil sibuk dengan ponselnya. Nampak
sedikit berbeda dengan Putra yang aku kenal. Kalian tahu Andra sang gitaris
grup band Dewa 19? Yap. Putra sangat mirip dengan Andra. Rambutnya yang gondrong,
tampil ke kampus mengenakan jaket denim berwarna hitam yang aku tahu kalau
jaket itu tiga bulan sekali di cucinya, celana jeans yang sobek di bagian
dengkul, kini nampak necis dengan pakaian formal. Hmmm aku tidak salah lihat,
kan? Putra memotong rambutnya, tapi tidak cepak. Hanya yang tadinya rambut
panjang sepinggang, kini pendeknya sebahu dan ia mengikat sebagian rambutnya.
Nampak seperti Duta ‘Sheila On 7’ di video klip Betapa. Aku belum siap keluar
rumah untuk menemuinya. Sial, mengapa aku gugup sendiri?
“Ehhh, intip-intip. Itu Putra sudah nunggu.”
Ucap bunda sambil merapikan poniku dengan jari
tangannya.
“Bun… Ranti deg-degan.”
Bunda mengerutkan kening, tak lama kemudian bunda
malah tersenyum-senyum sambil mencubit pelan hidungku.
“Hmm kamu kenapa?”
“Nggak tahu bun, aku deg-degan aja mau ketemu
Putra.”
Aku mulai curiga dengan gelagat dan senyuman Bunda.
“Ehhh bunda jangan mikir yang bukan-bukan. Aku sama
dia nggak ada apa-apa kok. Kita nggak pacaran dan nggak saling suka. Lagian
bunda juga tahu kan aku sama Putra sahabatan dari SMA? Kebetulan juga kalau
kita masuk kuliah di satu kampus.”
Bunda malah manyun dan mengejekku.
“Idih, emang bunda bilang kamu pacaran dan saling
suka?”
“Eng.. nggak sih.”
“Jadi siapa yang ge-er?”
“Hehehe..”
Bunda mencubit pelan pipiku dan menyerahkan tas
kecil hitam padaku.
“Yaudah, aku jalan yah bun. Dadah bunda.”
“Iyah hati-hati sayang, pulangnya jangan
malam-malam. Salam untuk Putra, ya?”
“Siap bunda !”
Aku melangkahkan kaki menghampiri Putra yang sedang
memainkan video game dari ponselnya.
“Putra..”
“Ehhh. Kok pakai bajunya itu?”
Aku memandangi kaki dan kedua lenganku.
“Kenapa, kelihatan gendut ya?”
“Hmmmm, nggak sih cuma ada yang…”
Ujarnya sambil mengelilingiku, meraih tangan kananku
dan berputar-putar seperti dua orang yang sedang berdansa. Hingga akhirnya aku
disandarkan pada dinding teras rumah dan ia mendekati wajahnya padaku. Waktu
terasa berhenti sesaat.
“Put..”
“Rin, kamu…”
“Iyah?”
“Kamu…”
“Iyah ke.. kenapa..?”
“Yuk berangkat, takut kemalaman !”
Aku tertawa dan mendorongnya pelan.
****
Langit-langit kamar hotel ini terus kupandangi. Mata
rasanya belum bisa aku paksakan untuk terpejam. Rasanya ingin segera esok hari.
Mencoba untuk bisa cepat tidur, aku berinisiatif untuk mandi. Segera kuambil
handuk dan peralatan mandi. Beruntunglah kamar mandi hotel ini tersedia air
panas. Masa bodo aku mandi di malam hari meskipun awalnya terlintas perasaan
was was kalau besok aku terkena flu. Selesai mandi, ku tengok jam dari ponsel. Tepat
pukul dua pagi. Aku berniat untuk beristirahat agar besok bisa memulai
petualanganku. Tidak ada suara ponsel kecuali alarm. Mode pesawat aku aktifkan,
lampu kamar tak lupa di padamkan.
Oke, selamat tidur.
****
Aku dan Putra melangkah masuk kedalam lift. Tepat di
lantai 15, aku, Putra, dan teman-teman lain mengikuti Prom di dalam sebuah
ballroom. Acara berlangsung dengan santai. Kulihat yang lain ada yang mengajak
pasangan masing-masing. Aku beruntung punya sahabat seperti Putra, kami nampak
sangat serasi sampai-sampai Professor Diana, salah satu dosen di fakultasku menyangka
kalau Putra adalah pacarku. Nyatanya tidak, dan aku tidak mengharapkan itu
terjadi. Jika kalian bertanya ‘mengapa?’ maka aku akan menjawab ‘entahlah. Aku
nyaman dengan hubungan seperti ini. Cukup menjadi sahabat terbaik.’
“Put kita duduk dimana? Ramai banget.”
“Hmmm, kita duduk jangan paling depan dan jangan
juga paling belakang.”
“Ya tapi kursi dibagian tengah sudah penuh semua.”
Putra menggandeng tanganku dan mencari tempat duduk
ditengah keramaian. Disela-sela kami berdua mencari tempat duduk, ada doorman yang menanyakan kami akan duduk
dimana, alhasil doorman tersebutlah
yang turut membantu kami mencari tempat duduk ternyaman untuk malam ini.
“Disini saja, kak. Karena yang lain juga sudah mulai
penuh.”
Kami duduk di kursi yang dekat dengan alumni
mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Aku canggung,
begitu juga dengan Putra. Memang karena kami berdua tidak kenal satupun dari
mereka.
“Ran, anak FISIP mukanya serius-serius semua ya? Bikin
sawan !”
Aku cekikikan mendengar celotehnya.
“Huss, apaan sih kamu? Nanti kalau kedengaran terus
mereka tersinggung gimana?”
“Yaelah mana ada anak FISIP yang baperan?”
“Yaa takutnya aja ada.”
Tak berselang lama, akhirnya acara dimulai. Pertama
adalah sambutan dari beberapa petinggi kampus, disusul sambutan dari rektor,
presiden mahasiswa, dan salah satu mahasiswa berprestasi yang tidak aku kenal.
Wajar saja, aku memang dikenal oleh Putra sebagai mahasiswa “kupu-kupu” alias
kuliah-pulang kuliah-pulang. Begitu juga dengan Putra yang dikenal oleh
teman-teman satu fakultasnya sebagai “kunang-kunang” alias kuliah-nangkring
kuliah-nangkring. Tapi ajaib, dia bisa lulus 3,5 tahun bersamaku dengan IPK berpredikat
sangat memuaskan. 3,42.
“Put, kamu tahu siapa yang naik ke podium itu?”
Putra berdeham pelan, seolah-olah mengingat sosok
yang ada dihadapan kami semua. Padahal aku tahu kalau Putra sedang seperti ini,
tandanya ia sedang berpikir. Atau lebih tepatnya adalah sok berpikir.
“Lama jawabnya !”
“Ya aku lagi mikir itu siapa.”
“Ya padahal kalau nggak tahu ya nggak usah sok mikir. Jawab aja nggak tahu.”
Putra menatapku sinis, aku memandangnya, tersenyum
sambil mencubit pelan hidungnya. Beberapa dari alumni FISIP menatap kelakuanku,
aku menunduk malu. Tiba saatnya acara puncak. Seperti malam-malam prom
sebelumnya dan sudah menjadi sebuah tradisi di kampus ini mengadakan Gala Dinner.
“Makan yuk, kamu lapar kan?”
Aku mengangguk pelan.
“Ambilnya jangan banyak-banyak nanti yang lain nggak
kebagian.”
“Bukannya kamu yang makannya banyak?”
Putra menjulurkan lidahnya, aku menggelengkan
kepala. Kami mengambil makanan dan minuman secukupnya. Malam ini bisa jadi
makan malam terakhir kami berdua. Karena sehabis ini perjalanan kehidupan yang
sesungguhnya akan dimulai. Selesai makan malam, ada hiburan dari Endah N’
Rhesa. Aku tidak menyangka akan ada penampilan dari duo musisi indie tersohor
itu. Namun ditengah-tengah penampilan mereka, Putra mengajakku keluar ballroom menuju rooftop. Kami memandangi kota Jakarta yang penuh dengan gemerlap
lampu gedung tinggi dan lampu dari kendaraan. Rambutku sedikit berantakan
karena hembusan angin yang lumayan kencang.
“Kamu kenapa ngajak aku kesini?”
Ucapku sambil memandang satu titik fokus pandang.
“Tadi terlalu ramai. Bukannya kamu pernah bilang
sama aku kalau kamu enggak suka keramaian? Jadi aku mau ajak kamu kesini.”
“Hihihi, kamu tuh.”
“Yaa benar, apa aku salah?”
Aku menggeleng dan mendekatinya. Ia melepas jas dan
memakaikannya padaku. Terasa hangat. Kami saling melempar senyum. Kusandarkan
kepalaku ke pundak kanannya.
“Put, thanks yah. Kamu udah jadi sahabat terbaik
aku.”
“Hu’um”
“Udah gitu aja?”
“Ya emang mau apa lagi?”
“Hahaha, enggak. Pokoknya terimakasih.”
Kami masih menikmati waktu ini. Rasanya waktu
berhenti, aku masih bisa mendengar sayup hembusan napasnya, aroma parfum coklat
yang masih sama sejak kami duduk dibangku SMA, dan masih bisa bersandar di
pundaknya yang sekarang agak bidang. Terasa olehku ia mengusap pelan kepalaku.
Aku tersenyum.
“Sebenarnya aku mau bilang satu hal sama kamu, put”
“Bilang apa?”
“Tapi kamu jangan tanya ‘kenapa’.”
“Loh, emang kenapa?”
“Tuh kan, hahahha. Nggak jadi ah. Putra kepo.”
“Dih, enggak jelas.”
“Biarin.”
“Jelek !”
“Putra nyebelin ah dari tadi balas aku terus.”
“Dari dulu emang nyebelin.”
“Tuh kan.”
“Udah cepat mau bilang apa, keburu malam nih. Nanti
bunda kamu omelin aku kalau antar pulang kemalaman.”
Aku terdiam sejenak. Berpikir kembali akan kata-kata
yang ingin aku ucapkan padanya.
“Hmmm kita kan sudah lulus nih. Sudah resmi jadi
alumni kampus. Semua orang pasti sudah merencanakan hal-hal besar dalam
hidupnya. Aku juga sudah susun rencana dan semua sudah siap. Habis ini kamu mau
ngapain, sudah susun rencana?”
Ia terdiam, menarik napas dan mengembuskannya dengan
cepat.
“Habis ini yaa. Normal sih. Palingan nerusin projek
aku sama teman-teman yang sempat tertunda waktu semester empat dulu. Ingat
nggak?”
Aku berpikir sejenak dan akhirnya ingat.
“Ohhh yang katanya kamu mau ngasih demo lagu band
kamu itu?”
Ia hanya mengangguk sambil tertawa pelan.
“Aku mau tanya deh. Kamu paling takut sama apa sih,
put?”
“Binatang atau apa nih?”
“Selain binatang. Ketakutan kamu yang saat ini kamu
takutkan.”
“Mau jawab jujur atau bohong?”
“Ihh kamu tuh kebiasaan deh.”
“Ya kamu mau jawaban yang mana?”
“Dua-duanya.”
“Oke. Aku jawab. Bohongnya dulu ya. Jawaban bohong
aku nih, ketakutan yang paling aku takutkan adalah aku bisa jauh dari kamu.
Terserah kamu mau pergi kemanapun setelah ini. Bodo amat, aku enggak peduli. Kamu
mau ke Sumatera, Toraja, keliling Indonesia seperti yang kamu bilang ke aku.
Silahkan. Monggo.”
Aku tersenyum dan menjambak pelan rambutnya.
“Kalau jujurnya?”
“Yang ini agak berat sih. Nanti kamu ge-er terus jadi sombong.”
“Ih apaan sih?”
“Hahhaah. Oke deh, jujurnya adalah kebalikan dari
jawaban yang tadi. Udah gitu aja.”
Aku tercengang. ‘maksudnya?”
“Maksudnya kamu enggak bisa jauh dari aku gitu?”
“Iya enggak bisa. Aku enggak bisa jauh dari kamu.
Apalagi sampai pisah dari kamu.”
“Emang kamu takut kangen aku ya?”
“Aku serius, ran.”
Nadanya agak berat. Aku membangunkan kepalaku dari
sandaran dipundaknya. Kami berdua saling menatap satu sama lain.
“Habis ini aku mau pergi, put.”
“Kemana?”
“Hmm, entahlah. Pokoknya aku bakal cari tempat
dimana aku bisa tenangkan diri dan pikiran aku.”
“Maksud kamu?”
“Aku butuh ketenangan, Put. Aku butuh berdamai
dengan diri aku.”
“Tunggu, aku masih belum paham. Maksudnya kamu
pergi, kamu bakal pindah dengan keluarga kamu juga? Bunda.. bunda kamu juga?”
Aku tidak merespon. Hanya memalingkan pandanganku
darinya.
“Ehm.. kalau boleh tahu berapa lama kamu disana?”
“Ya untuk waktu yang lama mungkin.”
Ia memegang kedua pundakku dan menatapku dengan
nanar.
“Kenapa kamu pergi?”
“Kan aku tadi udah jawab, lagi pula aku pergi enggak
lama.”
“Iya kenapa?”
****
@Balkon Kamar Hotel NEO Malioboro
Sabtu, 10:00 AM
Pagi menjelang siang, siap menyapa mentari kota
Gudeg.
Aku terbangun dengan kepala agak pusing. Mencoba
untuk menggerakkan badan namun rasanya semua badanku terasa ngilu, menggerakkan tangan saja rasanya
sakit sekali. Hidungku meler, sial.
Aku flu !
Aku meraih ponsel yang masih terhubung dengan kabel charge. Kulihat jam ternyata pukul
sepuluh. Aku bisa tidak kebagian sarapan pagi. Alhasil aku memesan saja makanan
sendiri lewat aplikasi di ponsel. Tidak lupa memesan obat flu sambil berharap cepat
sembuh.
Tidak butuh waktu lama, pesananku sudah sampai. Satu
mangkuk bubur ayam hangat lengkap dengan sate usus, kerupuk dan sambal, jus
jeruk, dua botol air mineral, serta obat flu yang siap aku telan sehabis makan.
Ada tambahan rupanya, multivitamin agar aku siap menghadapi petualangan disini.
Suaraku terdengar bindeng. Aku tidak
berani menelepon bunda, hanya mengirimnya pesan whatsapp dan bilang kalau aku
disini baik-baik saja. Aku tidak mau bunda khawatir. Ponselku kembali bergetar
karena ada panggilan masuk. Tidak aku angkat, biarkan saja. Aku tidak suka
diganggu saat sedang makan. Meskipun orang yang menelpon tidak tahu aku sedang
apa disini, tapi tetap saja aku punya hak untuk melakukan itu.
Badan terasa sedikit membaik setelah mendapat asupan
pertama di Jogja, rasanya belum siap untuk memulai hari ini. Atau aku pilih
nekat? Bunda pernah bilang ‘Lakukan apa yang ingin kau lakukan hari ini, karena
belum tentu kau bisa melakukannya esok hari.’ Baiklah, jam tiga sore nanti aku
akan memulai penjelajahan kecil di kota ini. Batasku hanya sampai jam sepuluh
malam. Karena bukan berarti aku jauh dari bunda dan aku tidak sedang dirumah
aku bebas berkeliaran disini sendirian. Kata bunda, bahaya anak gadis pulang
malam-malam.
Selagi menunggu waktu untuk jalan-jalan, aku keluar
kamar untuk melihat sekeliling hotel ini. Sementara aku gunakan saja kamera
ponselku untuk memotret sekitar. Pertama-tama spot yang ingin aku ambil adalah
bagian dari luar balkon kamar. Jogja cerah sekali hari ini. Aku menyusuri
lorong hotel yang nampak klasik. Disebelah kananku terdapat tiga kolam renang.
Banyak yang berenang, terutama para turis asing yang nampaknya sedang berlibur
disini dan.. hey, ada bunga mawar. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku
berjalan mendekati bunga mawar tersebut dan meraih ponselku dari dalam saku
piyama. Apalagi kalau bukan untuk memotret bunga?
‘Bagus juga’
Ucapku memuji dalam hati.
****
Masih dengan kondisi yang sama. Dengan atmosfer yang
sama. Banyak pertanyaan yang muncul dalam otak Putra ‘mengapa Ranti pergi?’
“Aku harus lakuin ini, Put. Ya hitung-hitung aku
sudah lama juga enggak ada waktu untuk aku sendiri. Kamu sadar enggak sih sejak
kita sekolah sampai kita kuliah pasti kalau kemana-mana suka bareng terus?
Entah itu aku mau belajar diluar rumah, mengerjakan tugas, main, nongkrong
sekalipun sama teman-teman aku pasti ada kamu. Begitu juga sebaliknya.”
“Aku ikut, ran !”
Ucapnya sambil menatapku.
“Enggak bisa Putra. Aku butuh waktu untuk diri aku
sendiri. Aku enggak mau ajak siapapun selain badan aku.”
“Gini, kalau kamu kenapa-kenpa disana gimana? Aku
ini sahabat kamu, kamu pasti butuh aku. Asal kamu tahu, aku mau temani kamu
kemanapun kamu pergi. Kemanapun kaki kamu melangkah aku ikut. Masa bodo kamu
mau marahi aku, caci maki aku terserah kamu yang penting aku sama kamu.”
Aku tercengang.
“Maksudnya kamu bilang begitu apa?”
Putra hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dariku.
“Put, jawab maksudnya apa?”
“Gini ran.. aku, aku enggak bisa jauh dari kamu. Aku
enggak bisa.”
Ucapnya sambil bertekuk lutut dihadapanku. Ia malah
menitikkan air mata sambil menggenggam kedua tanganku. Aku semakin bingung
dengan sikapnya malam itu.
“Ranti.. jangan tinggalin aku. Tolong.”
“Aku enggak kemana-mana. Kita masih bisa berhubungan
kok, aku cuma butuh waktu untuk aku sendiri aja. Kita enggak harus terus
kemanapun sama-sama, kan? Lagipula..”
“Iyah aku tahu, ranti. Kamu tuh egois, kamu sibuk, kamu pintar, kamu selalu sibuk dengan dunia
kamu sendiri sampai-sampai kamu nggak tahu sama perasaan aku. Kamu selalu sibuk
dengan buku, buku, dan buku. Kamu enggak pernah mau tahu perasaan aku kayak
gimana ke kamu !”
Mataku terbelalak. Aku terkejut akan ucapan yang
terlontar dari mulutnya. Tujuh tahun aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Baru
pertama aku lihat ia semarah ini.
“Kamu.. kamu kenapa sih?”
“Kamu mau tahu aku kenapa, pikir dengan otak kamu
Ranti !”
Ucapnya sambil melangkah pergi namun aku berhasil
mengalanginya. Aku menamparnya.
“Aku masih punya dunia sendiri. Dunia yang bisa jadi
enggak semua orang paham. Aku enggak minta kamu untuk mengerti siapa diri aku,
bagaimana kesibukan aku, dan apa tujuan aku melakukan semua ini. Aku enggak
pernah meminta itu dari kamu bahkan bunda aku sendiri, put. Kalau kamu merasa
kamu mengenal aku selama ini, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan jika
aku butuh waktu untuk diri aku sendiri.”
Putra masih memalingkan wajahnya dariku.
“Putra, semua manusia di dunia ini harus punya waktu
untuk dirinya sendiri. Terkadang kita harus menyendiri. Aku memang tidak suka
akan keramaian. Berisik. Namun bukan berarti aku ini selamanya menjadi sosok
penyendiri. Aku ini manusia, aku ini makhluk sosial ciptaan Tuhan yang dibentuk
dengan bentuk sebaik-baiknya. Aku mau tanya, apa kamu tahu mengapa aku pergi?”
Ia malah melihatku seolah-olah aku orang paling
jahat. Hanya diam, kami saling melempar tatapan penuh benci.
“Kalau kamu tidak bisa jawab, silahkan hubungi aku
lagi jika kamu sudah menemukan jawabannya. Kalau perlu temui aku langsung,
dimanapun dan kapanpun. Terimakasih sudah menjadikan aku sebagai sahabat
terbaikmu. Tapi aku berharap, kita masih bisa terus bersama. Aku masih bisa
jadi teman baik kamu.”
Ucapku sambil melepas jas dan memakaikannya kembali
ke tubuh pria itu. Aku berjalan sambil melepas sepatu hak tinggiku. Ubin rooftop terasa sangat dingin, namun aku
sugestikan saja kakiku tetap hangat. Aku tengok ia sesaat, ia masih mematung
sambil menunduk. Hanya angin malam, temaram lampu ibu kota, dan suara klakson
kendaraan yang menemaninya malam itu.
****
@Malioboro
15:25 PM
Menyusuri lorong pasar yang sumpek dengan orang yang
berlalu lalang tak menyurutkan semangatku untuk menikmati waktuku sendiri
selama beberapa hari kedepan. Bahkan akan lama nampaknya. Disebelah kanan dan
kiri terdapat kios pakaian batik, assesoris, dan lainnya. Aku mulai beraksi
dengan kamera mirrorless kesayangan. Beberapa penjaga toko yang berdiri di
depan toko sambil bersuara menawarkan dagangan tak lepas dari telinga ini.
Aku tertarik dengan dream catcher yang menggantung disalah satu etalase sebuah toko.
Aku mendekat dan melihat-lihat. Sangat unik. Tertarik untuk aku potret dan
tidak lupa aku beli. Toh aku juga belum punya barang seperti ini. Orang bilang,
dengan kita menggantung benda ini di salah satu spot kamar tidur, kita akan
terhindar dari mimpi buruk. Benar begitu? Kembali ke diri kalian masing-masing
mau percaya atau tidak.
Terhitung baru satu jam disini perutku sudah
keroncongan. Aku putuskan menyusuri jalan malioboro dan kakiku berhenti disalah
satu rumah makan. Nampak tidak terlalu ramai, makanannya terlihat enak dan
kulihat juga daftar harganya. Amat sangat terjangkau. Awalnya ingin memesan
nasi rames dan es teh manis, namun aku urungkan kembali. Aku pesan saja ayam
penyet namun tidak mengganti minumanku. Aku kira disini banyak pengamen,
ternyata tidak. Malah yang terdengar adalah alunan musik gamelan dari tape recorder tua rumah makan ini yang
masih tegap dengan antenna diatasnya. Aku tersenyum melihatnya. Dua anak kecil
membawakan makanan yang aku pesan. Sangat lucu. Sepertinya mereka adalah adik
kakak. Aku ajak saja mereka untuk berfoto. Awalnya mereka malu-malu, namun aku
berikan mereka masing-masing dua permen cokelat. Akhirnya mereka mau berfoto
denganku.
Selesai menyantap makanan, aku segera membayar dan
melanjutkan petualangan ini. Tepat jam lima sore. Aku masih menyusuri jalan
Malioboro, terus memotret objek yang menurutku baik untuk dijadikan sebuah
momen berharga. Ditengah-tengah perjalanan, ponselku bergetar. Ternyata dia
lagi, aku acuhkan saja. Tidak lama kemudian, dia lagi. Hanya pesan whatsapp
darinya namun sepertinya ia mengirim gambar. Aku mencari tempat duduk sebentar,
nampaknya ia ingin menunjukkan sesuatu.
Benar saja. Ia mengirim potretku dari samping,
belakang, dan depan. Cukup mengejutkanku, aku sampai ketar-ketir dibuatnya.
Foto ini diambil sedari tadi aku makan dan barusan berjalan menyusuri jalan
ini.
“Kamu lagi dimana sekarang?”
Ucapku dalam balasan pesan untuknya. Tak lama
kemudian, ia membalas pesanku.
“Diatas kamu
nih, lagi terbang sama naga.”
“Kamu jangan bercanda. Sekarang kamu dimana?”
“Kalau aku kasih
tahu sekarang, nanti nggak seru. Ahh.. gimana kalau ketemu di Jakarta saja? Di
stasiun Senen. Kan asyik tuh, jadi kayak di film-film gitu adegannya.”
Aku masih tidak percaya. Alhasil aku coba telepon.
Sial, tidak diangkat sama sekali. Berulang kali aku meneleponnya namun
terhitung sudah tujuh kali aku meneleponnya tetap tidak ada respon. Akhirnya
aku biarkan saja. Lanjut dengan “kesendirian” yang aku jalani saat ini. Namun
semakin aku biarkan, semakin menjadi. Alhasil karena aku kesal, aku me-nonaktif-kan
ponsel.
Langit semakin gelap. Aku baru sadar kalau sekarang
sudah jam setengah enam sore, dan perputaran waktu disini memang sangat cepat.
Baru jam segini saja langit sudah mulai gelap, dan sebentar lagi adzan akan
berkumandang dari segala penjuru. Segera aku cari masjid terdekat untuk
melaksanakan shalat maghrib, dan petualangan akan aku lanjutkan kembali selepas
Isya.
****
Salahkah ku
menuntut mesra?
_Banda Neira,
Sampai Jadi Debu_
****
Aku menyusuri jalan ibu kota pada malam itu. Pulang
tanpa alas kaki, tanpa diantar angkutan umum atau kendaraan pribadi bahkan
kendaraannya yang biasa aku tumpangi. Malam yang seharusnya menjadi malam
perpisahan untukku dengannya. Aku bukan pergi untuk meninggalkannya. Hanya saja
butuh waktu untuk diri sendiri. Semua orang butuh ruangnya sendiri bukan? Semoga
kalian yang membaca ini paham, agar tidak menyangka kalau aku ini jahat.
****
Kembali ke pasar Malioboro, makin malam makin ramai.
Aku suka sekali. Kaki kecilku menapaki jalan kota Pendidikan pada malam hari.
Dua jam rasanya cukup untuk menghabiskan waktu bersama bayanganku. Lalu lalang
orang yang berjalan-jalan untuk melihat-lihat, berfoto, atau menghabiskan waktu
bersama. Hingga akhirnya aku mampir di salah satu angkringan yang tidak jauh
dari sebuah gedung berornamen klasik. Era penjajahan Belanda.
Akhirnya lidahku bisa mengecap gurihnya segelas susu
jahe dan sepuluh tusuk sate usus yang dilumuri saus kacang pedas manis. Sambil
bersandar pada dinding pagar sebuah bangunan tua. Aku memejamkan kedua mata
sambil menghirup aroma apapun yang tercium oleh hidungku. Terngiang di
telingaku salah satu alunan gitar dari Gerald Situmorang berjudul Old Stories, sangat mengingatkanku
padanya. Putra, aku minta maaf.
Tepat pukul Sembilan malam, aku naik becak untuk
pergi ke alun-alun kota Yogyakarta. Kulihat ada dua pohon besar, yang dimana
mitosnya jika kita bisa jalan lurus melewati kedua pohon itu, keinginanku bisa
terwujud. Sebelumnya aku potret terlebih dahulu dengan mirrorless ku. Mencoba menguak mitos, akhirnya aku mencoba untuk
melewati kedua pohon besar tersebut. Kedua mataku ditutup dengan sehelai kain
yang panjangnya sekitar dua puluh lima centimeter,
kemudian aku mulai melangkahkan kaki dengan perasaan penuh harap agar aku
bisa melewatinya.
Banyak yang berteriak demikian, aku hanya tersenyum
sambil sesekali tertawa namun tidak asing dengan suara yang berteriak..
“Ayo, kamu bisa
!”
Aku berhenti sebentar. Suaranya sangat tidak asing.
Tidak peduli, aku harus tetap bisa berjalan ditengah-tengah melewati dua pohon
besar itu. Suara terus saja terngiang di telinga. Entah berapa lama aku sudah
berjalan, tidak fokus menghitung namun fokus dengan feeling agar aku bisa berjalan lurus kedepan. Hingga suara
bapak-bapak tadi menyuruhku untuk berhenti, dengan cepat aku membuka kain
penutup dan membuka kedua mata perlahan. Aku tidak melihat ada dia. Mungkin
hanya halusinasi saja tapi tanpa sadar aku berhasil melewati kedua pohon besar
yang ada di sebelah kanan dan kiri. Aku berhasil berjalan lurus kedepan.
Konyol, aku lupa dengan harapanku sendiri.
Tepat pukul sepuluh malam, aku bergegas meninggalkan
alun-alun dan kembali ke hotel. Kaki terasa pegal memang, aku memutuskan untuk
naik becak. Bapak tukang becak malam ini sangat ramah. Mengajakku berbincang
sambil ditemani angin malam Jogjakarta. Akankah aku tidak merindukan kota ini
dengan keramah tamahannya? Entahlah. Lihat saja nanti.
Sesampainya di hotel, aku langsung masuk kedalam
lift dan menuju lantai enam. Segera aku berjalan menuju kamar begitu pintu lift
mulai terbuka. Masih terngiang di telinga akan suaranya. Tapi tidak mau
memikirkan itu. Aku kemari hanya untuk diriku sendiri. Jangankan untuk berdamai
dengan orang lain, dengan diri sendiri saja belum becus. Ego ku masih ada, sampai saat ini masih ada.
Aku menghempaskan badan ke tempat tidur dengan
pakaian yang belum aku ganti. Ingat akan sesuatu, aku beranjak dari tempat
tidur dan merogoh isi tas cangklong merah. Buku harian. Membuka lembar demi
lembar halaman. Banyak foto yang aku pajang di setiap halaman buku ini. Dimulai
dari perjalananku saat pertama meninggalkan ibu kota menuju pulau Sumatera.
Tidak tahu nanti akan tidur dimana atau mengunjungi kerabat, yang terpenting
adalah perjalanan bukan tujuan. Kaki ini pertama menginjak tanah Minangkabau,
disusul ke tanah Karo. Selama dua belas hari aku berada di tanah Minang, dan
dua belas hari berikutnya aku berada di tanah Karo. Ramai, penuh ragam, aku
mencoba untuk mencari tahu mengapa ada stereotype
tentang orang-orang berdarah Minang dan Batak.
Mengunjungi tanah Minang, aku menumpang tidur
dirumah salah satu RT disana. Namanya pak Jamal dan istrinya, ibu Efeni. Mereka
memiliki lima orang anak. Tiga diantaranya sudah menikah dan merantau keluar
kota, sisanya masih sekolah kelas dua SMP. Mereka memiliki usaha toko pakaian,
dan untuk tambahan sampingan sang istri membuka jasa setrika pakaian. Kedua
anaknya juga turut membantu orang tua. Aku juga sesekali diajak ke pasar untuk
berdagang. Pelajaran yang aku ambil dari mereka, semangat. Semangat untuk
mensejahterakan keluarga, dan tidak lupa pula tanamkan ilmu agama dari kedua
orang tua.
Menuju tanah Karo. Ada banyak ternyata suku di Medan.
Diantaranya yang aku tahu ada Batak Mandailing, Batak Karo. Salah satunya aku
mengunjungi tanah Karo. Alhasil aku mendapat teman baru dari satu keluarga yang
sangat ramah. Namanya pak Tober dan ibu Ria. Mereka memiliki dua anak,
laki-laki dan perempuan. Sang bujang bernama Adi, dan adiknya bernama Nila.
Rata-rata keluarga di sekitar mereka memiliki kebun dan ladang. Sangat subur
dan banyak. Kebun yang bapak Tober punya adalah kebun tomat, dan daun seledri. Aku
pernah mencoba bercocok tanam bersama Nila. Sangat seru walaupun kami berdua
tahu cuaca sangat panas kala itu. Alhasil aku mengalami dehidrasi. Tiga hari
terkena demam tinggi yang membuat pak Tober kelimpungan, namun sekali lagi, mereka
sangat baik. Sedangkan aku, memalukan !
Kembali ke Jakarta, aku mengirim tulisanku ke email
salah satu media cetak dan berhasil dimuat. Hasil dari pendapatanku aku tabung,
sebagian aku tambahkan dari gajiku selama bekerja agar kedepannya aku bisa melanjutkan
perjalanan. Sempat mendapat teguran dari Bunda karena aku tidak mau menemui
Putra. Sangat bersalah karena aku menyuruh Bunda berbohong saat Putra datang ke
rumah untuk menanyakan keberadaanku. Padahal saat itu aku baru selesai mandi
dan berganti pakaian, namun aku meminta agar Bunda bilang kalau aku belum
pulang. Sekali lagi, maafkan aku Bunda.
Tepat pukul sebelas malam. Aku menutup buku harianku
dan menaruhnya diatas meja. Mengganti pakaianku dengan baju mandi, badanku tidak
terasa pegal sama sekali tapi entah saat tidur nanti. Biasanya seperti itu
memang. Anak yang aneh !
Selesai mandi, aku mengeringkan rambutku dengan
handuk. Terdengar pintu kamarku diketuk tiga kali. Aku membuka perlahan pintu
kamar dan ternyata petugas pelayanan kamar memberiku sebucket bunga mawar
putih. Bingung? Pasti.
“Dari siapa ya?”
“Tadi ada laki-laki yang memberikan ini untuk mbak.”
Aku mengerutkan kening. Laki-laki?
“Ciri-cirinya bagaimana yah?”
“Tadi orangnya hanya berpesan untuk memberitahu
siapa dirinya, mbak.”
“Ohh begitu. Hmm, ya udah. Terimakasih yah, mas.”
“Ya sama-sama mbak.”
Aku melihat-lihat siapa yang memberikan bunga ini.
Tanpa nama, tanpa surat, misterius. Romantis? Pengecut buatku. Aku lempar bunga
itu ke pojok pintu kamar. Saatnya untuk beristirahat. Perasaanku tidak enak.
Ponselku berdering, kulihat layar ponsel ternyata
Bunda.
“Hallo, bunda.”
“Nak, gimana kabarnya, sehat?”
“Aku baik-baik aja kok, bun. Ada apa?”
“Adikmu sakit.”
“Hah?! Sudah berapa lama?”
“Baru saja, ini bunda di rumah sakit. Kata dokter,
adikmu kena gejala tifus. Tapi beruntung karena segera dibawa kemari. Kamu bisa
pulang kapan? Adikmu panggil-panggil kamu terus, nduk.”
Jujur saja, sangat sedih tetapi aku masih mau
berlama-lama disini. Namun kondisi adikku lebih penting.
“Hmm, gini. Aku masih mau disini bunda, dan aku juga
masih butuh beberapa referensi untuk keperluan tulisanku. Tapi aku usahakan
lusa bisa pulang.”
“Ya sudah. Istirahatlah dulu. Kabari bunda jika kamu
mau pulang.”
Aku berdeham dan mengucapkan selamat malam pada
bunda. Wanita tegar itu menutup telepon, aku sendiri terisak. Mungkin ada hal
yang lebih penting saat aku sedang bercengkerama dengan waktuku. Alhasil karena
aku tidak nyaman, aku mengubah semua rencana. Besok pagi aku memesan tiket
pesawat untuk pulang, dan besok pula adalah waktu terakhirku disini.
Sampai ketemu besok Malioboro !
****
@ Bandara Soekarno Hatta
14:22 WIB
Sambil menunggu pesananku selesai dibuat, aku
menghubungi Bunda untuk bertanya dimana rumah sakit Dika dirawat inap tidak
lupa dengan nomor ruangannya. Kurang dari satu menit akhirnya bunda membalas.
Rumah sakit Fatmawati, ruang Anggrek Bulan No. 07. Rasanya ingin cepat sampai
kesana. Pesanan makanan sudah jadi, segera aku membayar dengan memberikan
selembar uang Lima Puluh Ribu Rupiah. Petugas kasir memberikan kembalian uang
sebesar Sepuluh Ribu Rupiah. Aku bergegas pergi dari bandara dan buru-buru
memesan taksi.
Diperjalanan aku terus mengetuk-ngetuk ponselku
sambil melempar pandangan keluar jendela. Aku tahu betul akan adikku Dika, dia
memang sedikit manja dan kadang kalau ia sakit sikapku biasa saja. Tapi tidak
biasanya aku merasa iba seperti ini. Berinisiatif untuk menelepon bunda, namun
tidak diangkat. Terhitung sudah lima belas kali hingga akhirnya bunda mengirim
pesan lewat whatsapp. Katanya tadi
sedang shalat, mode ponsel dibuat hening. Pantas saja.
Bersyukur hari ini Jakarta tidak macet, hanya dengan
waktu dua puluh menit aku tiba di rumah sakit. Bertanya kepada petugas
resepsionis dimana letak ruangan pasien bernama Aditya Mahardika. Lantas aku
berlari namun sial, aku terjatuh karena tali sepatu terlepas. Lututku memar,
sangat sakit rasanya. Sempat meringis hingga banyak orang yang menghampiriku
untuk membantu. Hingga ada seorang ibu menolongku dan mengajak berjalan ke
sebuah kursi. Sempat menolak saat lututku akan diobati namun aku masih
merasakan sakit hingga akhirnya aku mengalah.
Sepuluh menit aku menunggu rasa sakit sedikit
mereda, akhirnya aku beranjak menuju ruang dimana adiku dirawat.
“Mau saya antar?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Terimakasih bu, tapi enggak perlu diantar. Saya
bisa sendiri.”
“Benar?”
“Iyah, bu.”
“Ya sudah hati-hati.”
Aku bergegas pergi meskipun berjalan sedikit pincang.
Setibanya di depan pintu kamar inap, bunda sudah membuka pintu terlebih dulu.
“Kakimu kenapa nduk?”
“Hmmm enggak kenapa-kenapa bun. Cuma jatuh aja tadi
waktu aku lari mau kesini.”
“Ya pelan-pelan dong jangan lari. Kamar inapnya juga
enggak lari kemana-mana, masa’ kamu lari?”
Aku nyengir sambil memejamkan kedua mataku. Dari
jauh suara Dika memanggil namaku. Suaranya parau.
“Dek, kamu kenapa?”
Ujarku sambil mencoba berjalan mendekati ranjang.
Selang infus menancap di punggung tangan kirinya. Wajahnya pucat. Badannya
terlihat kurus. Diagnosa dokter benar kalau Dika terkena gejala tifus.
“Kamu makan sembarangan ya? Makanya kalau bunda
masak tuh dimakan. Bunda capek-capek masak buat kamu, malah enggak makan. Jadi
mubazir. Dosa.”
Dika hanya tertawa perlahan kepadaku.
“Ya sudah. Untung kata dokternya cepat dibawa
kemari. Gimana di Jogja, puas?”
Aku memutar kedua bola mataku dan duduk di ranjang
Dika.
“Ehh kakak turun. Ini ranjang buat aku tidur. Enggak
lihat adiknya sakit?”
“Berisik. Kaki aku juga sakit. Tuh !”
“Manja.”
Bunda menggeleng sambil tertawa pelan.
“Bunda kangen suasana rumah. Kalian yang kadang
akur, kadang berantem kecil. Kamu juga udah gede
sekarang. Cah Ayu.”
Ucap Bunda sambil mengecup keningku.
“Kenapa Dika enggak di cium juga?”
“Iihhh pengen nih ye, cemburu kakak di cium bunda
kamu enggak.”
Kami bertiga tertawa di ruang inap.
“nduk, gimana
kabar Putra, kok bunda kangen ya sama anak itu?”
Aku menghela napas dan memalingkan wajahku pada Dika
seraya mengusap kepalanya.
“Jangan begitu, Putra hanya mau ketemu kamu. Bunda
hitung hampir dua tahun kalian enggak bareng-bareng lagi. Ada masalah apa
sebenarnya?”
“Enggak ada bunda. Cuma aku butuh aja waktu untuk
sendiri. Lagian kan kita udah sering banget bareng-bareng. Bunda juga tahu
sendiri kalau kita berdua kalau kemana-mana pasti bareng. Mau itu aku nongkrong
sekalipun bareng teman-teman, tetap aja itu anak pasti ada. Begitu pula
sebaliknya.”
“Ya tapi kakak tetap pasti ada rasa kangen kan?”
Dika menyambar ucapanku.
“Sok tahu kamu, diam aja deh.”
“Tuh kan. Baru dibilangin begitu aja langsung marah,
kakak suka yaa sama kak Putra?”
“Apa sih Dika ahhh lagi sakit juga.”
Aku menggelitik perutnya, Dika tertawa sambil
meminta ampun padaku.
****
Dibawah langit
Jakarta yang mendung, aku bergumam.
Banyak orang ingin
pergi ke laut untuk mencari ketenangan,
Banyak orang
ingin mendaki gunung karena rindu,
Banyak orang
ingin terbang untuk merefleksikan diri,
Menyadari bahwa
tiada yang perlu disombongkan dalam dirinya.
_Dibawah Langit
Jakarta yang Mendung
Aku membaca salah satu puisi yang dibuat oleh Putra
sewaktu SMA dulu. Puisi yang ia tulis dibawah pohon besar. Putra yang masih
kurus, rambut berponi, sang gitaris yang juga merangkap sebagai vokalis,
menjadi idola teman-temanku saat pensi. Pembawaannya pada lagu Rain of July
milik The Monophones, membuatku selalu teringat akannya. Ada alasan mengapa ia
menyukai lagu itu. Baginya, bulan Juli adalah bulan yang aneh dan berhasil
membuatnya selalu merindukan bulan itu. Padahal saat memasuki bulan Juli, daun-daun
berguguran, sangat kering, ibu kota juga sangat panas. Belum lagi polusi dari
knalpot kendaraan. Namun pada malam hari kita bisa kedinginan. Sangat dingin.
Ahh, aku terlalu mengingatnya. Tidak. Aku tidak boleh rindu padanya. Tapi aku
tidak bisa munafik. Ya, aku merindunya. Tidak sadar aku masih menyimpan
puisinya.
Lusa nanti Dika diperbolehkan pulang. Aku ditugaskan
oleh bunda untuk pulang duluan ke rumah, dan membersihkan kamar Dika. Aku
menurut. Setelah pamit, aku berjalan melewati koridor rumah sakit sambil
memesan taksi online.
“Yes, dapat !”
Ucapku sambil tersenyum simpul. Tidak butuh waktu
lama, tidak sampai satu menit taksi online pesananku sudah tiba.
“Selamat siang, mbak.”
“Siang juga pak.”
Balasku, bapak supir taksi online ini sangat ramah.
Namanya pak Budiarto. Usianya memasuki kepala enam. Ayah tiga anak ini sudah
memiliki dua cucu, sepasang lelaki dan perempuan. Tinggal di daerah kuningan.
Menjadi supir taksi online adalah pilihannya semenjak terkena PHK oleh
perusahaan enam bulan lalu. Namun itu tidak membuat pak Budiarto gentar.
“Setidaknya saya masih bisa menafkahi istri dan anak
bungsu saya yang saat ini baru masuk kuliah, mbak. Jurusan Teknik Kimia di
Gajah Mada. Mohon do’anya yah, mbak.”
Aku mengangguk dan tersenyum, sambil berdo’a dalam
hati semoga bapak diberikan kesehatan, panjang umur, dan bisa melihat anaknya
menjadi sarjana. Amin.
Sesampainya di rumah, aku menghela napas sejenak.
Melihat pintu rumah dan ingat akan sosok yang amat di rindukan. Rasanya berat
aku melangkahkan kaki namun kupaksakan. Ku putar kunci dan meraih daun pintu.
Bunda bilang sudah lima hari rumah ditinggal. Memang benar saat aku masuk,
seisi rumah nampak berdebu. Aku melangkah menuju sebuah meja yang diatasnya
banyak potretku dan Dika sewaktu kecil. Aku dengan prestasi pertama, memegang
piala dan mengalungkan medali diatas panggung. Aku dengan Dika yang sedang naik
kuda saat pengalaman pertama kami ke gunung Bromo, aku yang saat itu berusia
sepuluh tahun dengan kamera pertamaku, dan aku terpaku melihat potret keluarga
kami yang cukup besar tergantung di dinding. Kami berempat yang mengenakan
pakaian serba putih. Bunda nampak cantik dengan hijabnya, aku yang saat itu
berusia 17 tahun nampak seperti remaja lainnya dengan rambut panjang dan bando
dengan pita berwarna peach, Dika yang
masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua, nampak lucu dengan
pipinya yang gemuk. Satu lagi yang nampak gagah nan beribawa namun tetap
terlihat menunjukkan sisi kelembutannya, Ayah. Terhitung genap dua tahun sudah
sosok yang satu ini tidak ada lagi di tengah keluarga. Aku rindu mendengar
semua nasihat dan gurauannya kala malam hari selepas ayah bekerja. Andai saja
bisa aku putar kembali waktu, ingin rasanya aku memeluk dan mencium keningnya
lagi. Selain itu, akan aku halang ayah agar tidak pergi dinas pada hari dimana
ia mengalami kecelakaan di tengah perjalanan.
“Hai tampan, apa kabar?”
Ucapku sambil tersenyum dan menatap wajah ayah dalam
potret. Namun segera aku akhiri karena aku ingat pesan bunda agar merapikan
kamar si bungsu, dan bersih-bersih rumah. Rumah ini memang tidak besar, namun
sangat membuat kami merasa nyaman. No
better place like home, right?
Setelah semuanya selesai, aku duduk di kursi teras
rumah sambil menikmati es teh manis buatanku. Sambil ditemani alunan lagu yang
aku putar dari ipod dan telinga yang aku pasang headset. Tepat jam lima sore.
Banyak anak kecil yang berlalu lalang dengan sepedanya melintas di depan
rumahku. Tidak hanya itu, pedagang mainan, pedagang es cendol juga menambah
keramaian suasana sore hari. Ada segerombolan ibu-ibu yang nampaknya baru
pulang dari majelis ta’lim setelah mengikuti pengajian. Aku tersenyum
melihatnya.
Melihat-lihat postingan para netizen yang lewat di
beranda sosmed, aku teringat saat di Yogyakarta. Alhasil aku melihat foto yang
di kirim oleh Putra. Apa lagi kalau bukan fotoku yang diambil dari sisi samping
dan belakang?
“Aneh, ini orang beneran buntutin gue atau enggak
sih?”
Tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Kalau iya emang kenapa?”
Ujar seseorang yang tanpa aku sadari sudah ada
dihadapanku sambil melepas salah satu headset yang aku pasang. Aku kaget bukan
kepalang. Untung saja aku tidak teriak. Ia berdiri di hadapanku, sangat jelas.
Namun ada yang berbeda. Kemana rambut gondrongnya? Ia kini nampak seperti orang
asing buatku.
“Hai.. apa kabar?”
Aku hanya mematung sambil kepalaku mendongak keatas
karena ia berdiri dan aku duduk.
“Ka.. kamu.”
Aku segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan
masuk kedalam rumah, namun ia berhasil menghadangku.
“Jangan lari, aku kemari mau ketemu kamu.”
Sesaat orang-orang yang sedari tadi berjalan
melintas di depan rumah, kini malah memperhatikan kami berdua. Disangkanya kami
bertengkar. Dasar kepo !
“Ehmm.. kita ngobrolnya di dalam saja. Enggak enak,
banyak orang.”
“Yaudah, yuk?”
Aku mengangguk dan segera menariknya. Kami berdua
saling membisu satu sama lain. Ia masih memperhatikanku. Aku malah menatap
jendela. Melepaskan pandanganku keluar rumah. Orang-orang tadi tidak lagi punya
rasa ingin tahu akan kejadian barusan.
“Kamu mau diemin aku terus, ran?”
“Eh.. ah?”
“Hehehe, kamu mau diemin aku?”
“Ehm… kamu, emang kenapa?”
“Hah? Kamu kenapa ran?”
“Duh.. sorry, aku bingung.”
“Ya enggak usah bingung begitu. Maksud kedatanganku
kemari hanya ingin tahu kabar kamu. Karena ya.. sudah terhitung berapa tahun
kamu pergi? kurang lebih ada tiga tahun setelah kita lulus kuliah.”
Aku mengangguk dan menundukkan kepala.
“Oh iya, bunda sama Dika kemana?”
“Dika masuk rumah sakit. Gejala tifus, lusa juga
pulang.”
“Oh ya? Tapi lusa beneran pulang?”
“Ya iya. Sudah bisa pulang tapi lusa kata dokter.”
“Syukurlah. Terus bagaimana petualangan kamu di
Yogya?”
“Ya seru, asyik, gitu deh.”
“Gitu gimana ran?”
“Kamu kepo banget?”
Ucapku dengan nada yang melengking, ia hanya menatapku
datar.
“Kamu kenapa sih? Aku kemari hanya untuk menemui
kamu tapi kenapa kamu kayak enggak suka gitu sama aku?”
Suasana menjadi hening beberapa saat. Ia nampaknya
kecewa dengan ucapanku barusan.
“Ya udah. Kalau kamu lagi enggak mau diganggu
mendingan aku pergi.”
Aku menarik tangannya dan bilang jangan pergi.
“Maafin aku, put. Aku tadi cuma kaget dan bingung.
Habisnya kamu tiba-tiba muncul tanpa salam.”
Ia hanya cekikikan dan tiba-tiba mengusap kepalaku.
Kembali duduk dan memulai kembali bercerita.
“Kamu enggak sadar karena kamu pakai headset. Coba
kamu lihat volume lagu yang kamu dengar.”
Aku tersipu sendiri karena aku sadar kalau volume
dari lagu yang aku dengar memang setengah full.
“Hehehe, iyah.”
“Masih suka makan ayam penyet sama minum es teh manis
enggak, ran?”
“Hah?”
****
Malam itu Putra mengajakku makan malam. gerimis
namun tidak cukup membuatku rindu akan masa-masa aku dengan Putra semasa
sekolah dulu. Rasanya senang, akhirnya aku dan Putra bisa kembali bertemu
meskipun rasanya aneh buatku. Aku juga tidak lupa memberi pesan pada bunda
kalau aku dan Putra sedang makan diluar. Mengetahui hal ini, bunda langsung
menelponku. Bilang kalau bunda senang akhirnya aku dan Putra sudah bertemu.
“Siapa tadi yang telpon?”
“Bunda.”
“Waduh, disuruh pulang ya?”
Aku menggeleng sambil mencocol mentimun ke sambal.
“Kirain. Bilang apa bunda?”
“Mau tau aja sih.”
“Yee kan aku udah lama enggak ajak kamu keluar
sampai jam segini. Eh jam berapa sekarang?”
Putra memeriksa jam di ponselnya.
“Baru jam tujuh. Kamu lagi buru-buru emang?”
“Ah enggak. Aku cuma takut kemalaman aja ajak kamu
makan diluar gini. Nanti tanpa sadar kita kemalaman.”
“Hihihi.”
Putra melihatku, aku malah mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kamu manis, ran.”
“Apaan sih, receh banget?”
“Tapi bohong.”
Katanya sambil menjulurkan lidah padaku. Aku melempar
sedotan dari gelas es teh manis yang ternyata ada air teh di dalam sedotannya.
Sontak ia melotot karena hidungnya kebasahan air teh yang keluar dari
sedotannya.
“Aduh basah, Put.”
Aku menarik selembar tissue dan mengusap hidung
Putra yang basah. Kami terdiam sesaat. Jantungku berdegup lebih cepat saat mata
kami saling memandang satu sama lain. Namun semuanya buyar ketika ada pengamen
yang datang menghampiri kami. Kami saling tersipu malu sambil melanjutkan makan
malam kami sambil diiringi lagu Remaja dari HiVi yang dibawakan pengamen malam
itu.
Setelah selesai, Putra membayar makan malam kami
berdua. Langit juga tidak lagi menangis. Kami berdua berkeliling Ibu Kota
dengan motor Matic hitam kesayangan Putra yang masih awet sejak Putra SMA. Si
Jagur.
“Put, si Jagur udah berapa tahun yah?”
“Ya hitung aja. Aku punya si Jagur waktu SMA kelas
dua, waktu kita kuliah, waktu kamu berkelana tanpa kabar, dan sampai detik ini
masih aku tunggangi.”
‘Delapan
tahun?’ kataku dalam hati.
“Delapan tahun, put?”
“Delapan tahun enam bulan lebih tepatnya.”
“Hahaha, sampai hapal ke bulan-bulannya kamu.”
“Ya iyalah, si Jagur kan saksi bisu perjalanan kita
ran.”
Aku menggeleng sambil nyengir mendengar ucapannya.
“Mau makan cilok enggak? Jajan yuk.”
“Hah, enggak salah? Kita baru makan.”
“Udah enggak apa-apa. Kan aku yang bayar.”
“Ohhh habis gajian ceritanya?”
“Ya enggak gitu juga. Mau enggak?”
“Mau.”
****
“Makasih, Put.”
“Justru aku yang harusnya terimakasih ke kamu.”
“Kok gitu?”
“Ehh bukan ke kamu. Aku mau berterimakasih sama
Tuhan.”
Aku mengangkat kedua alisku.
“Ya aku mau berterimakasih sama Tuhan. Karena kamu
masih sehat-sehat saja dan kamu enggak nyasar. Aku kira saking kamu senang
berkelana kesana kemari, kamu lupa jalan pulang.”
Aku tertawa lepas mendengarnya.
“Lusa aku kemari lagi ya?”
“Hah?”
“Ranti, kamu tuh kayaknya harus ke dokter THT deh.
Dari awal aku ketemu kamu sampai sekarang tiap aku nanya kamu selalu jawab
‘hah’.”
Aku memukul pelan lengannya, ia mencoba menghindar namun
tetap saja kena.
“Ya apaan?”
“Tuh kan. Aku harus bilang lagi.”
“Ya apaan?”
“Dengar, dengar. Lusa, aku mau kesini lagi. Mau
ketemu bunda sama Dika. Kan adik kamu baru pulang dari rumah sakit.”
“Ohh, ya udah datang aja kemari.”
“Cieee ngarep cieee.”
“Ah Putra nyebelin ah !”
“Hahahha, ya udah. Nanti aku kabari kamu lagi.
Sekarang sudah jam Sembilan. Ranti istirahat, jangan lupa kabari bunda. Oke?”
Aku mengangguk sambil tersenyum, disusul tangan
kananku yang hormat padanya. Ia hanya tersenyum sambil men-starter motornya.
Pria dengan kemeja itu menggeber motornya dan melambaikan tangan kirinya
padaku. Aku masih tidak percaya dengan empat jam yang aku lewati bersama Putra.
Aku masuk kedalam rumah dan bersih-bersih badan.
Berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit
kamar, dan masih terbayang wajah Putra. Sangat berbeda dari Putra yang aku
kenal secara fisik. Ah sudahlah.
Ponselku berdering. Ada pesan whatsapp yang masuk.
Ya, dari Putra.
“Eh, aku sudah
sampai rumah.”
Aku tersenyum dan membalas pesannya. Terdengar suara
atap rumah yang bersahut-sahutan. Ahh, hujan. Ini pertama kali aku menyukai
hujan. Apa karena gerimis yang turun sehabis maghrib tadi? Entahlah. Ini
saatnya aku tidur.
****
Tepat pada hari dimana Dika pulang. Setelah
melaksanakan kewajiban shalat Dzuhur, bunda dari luar mengetuk pintu meminta
masuk. Aku mengintip dari jendela kamar. Dengan mukena yang masih aku kenakan,
aku berlari menuju pintu dan membukakannya untuk bunda.
“Assalammu’alaikum..”
Aku membalas salam bunda dan langsung membantu
mengangkat tas yang bunda bawa. Dika yang duduk di kursi roda dibantu supir
taksi untuk masuk kedalam rumah. Aku tercengang.
“Bun, kok adik pakai kursi roda?”
“Iyah, masih lemas dia. Ndak kuat jalan. Sudah sana bantuin.”
“Eh taksinya sudah dibayar?”
“Uwis nduk.”
Aku mengangguk dan berterimakasih kepada supir taksi
yang sudah membantu bunda dan Dika. Setelah supir taksi selesai dengan
urusannya, kini giliranku yang membantu Dika masuk ke kamarnya.
“Ciee yang sudah pulang cieee. Habis ini kamu makan
ya.”
“Orang udah makan juga.”
“Ohh udah, yahh tadinya kakak mau masakin kamu.”
“Emang kakak bisa masak? Masak air aja gosong.
Enggak mau ah, mendingan masakan bunda.”
“Enak aja. kakak bisa masak !”
“Masak apa?”
“Masak mie.”
Dika tertawa sambil menepuk-nepuk jemariku. Ia
mencoba bangun dari kursi roda dan berbaring di tempat tidur. Meminta juga agar
tirai jendela dibuka agar ia bisa melihat langit katanya. Ada-ada saja.
“Ada lagi enggak yang mau kakak bantu?”
“Enggak kak, makasih yah.”
“Iyah sama-sama. Yaudah kamu istirahat. Pintunya mau
kakak tutup?”
“Jangan di tutup kak. Biarkan dibuka aja.”
Aku mengacungkan jempol sambil tersenyum padanya.
Saat berjalan menuju dapur untuk minum, bunda
tertawa padaku.
“Ehh kamu kok masih pakai mukena?”
Aku mengangkat kedua alis dan berkaca.
“Hehehe, iyah tadi buru-buru bukain pintu buat
bunda.”
“Buka nduk nanti
kotor enggak sah solatnya kalau kotor.”
“Siap bunda.”
Aku berjalan menuju kamar, merapikan mukena dan
menyisir rambut. Ponselku berdering. Putra.
“Hallo, put?”
“Hallo, kamu
dimana?”
“Di rumah.”
“Aku sebentar
lagi sampai rumah. Ini lagi di pasar. Beli buah dulu buat Dika.”
“Aduh enggak usah repot-repot.”
“Enggak kok.
Dika udah pulang?”
“Udah. Barusan aja.”
“Pas ! Oke deh.
Nanti aku ke rumah kok. Bye…”
Ucapnya sambil menutup telepon. Entah kenapa aku
tiba-tiba ingin mengganti pakaian. Aku berjalan menuju lemari, memilah dan
memilih pakaian. Jadi ingat jumpsuit
saat aku berangkat ke Yogya. Ahh tidak. Jangan pakai yang itu. Aku raih rok
berwarna pastel yang panjangnya, dan blouse berwarna navy dengan panjang lengan
tiga perempat. Saat aku coba, ternyata aku nampak seperti wanita berusia dua
puluh lima tahun. Padahal usiaku baru dua puluh tiga tahun. Alhasil aku
mengakalinya dengan menata rambut. Sebagian rambut aku ikat kebelakang, sisanya
aku biarkan tergerai. Sebagai pemanis, aku tambahkan jepit berbentuk bintang
laut warna silver pada ikatan rambutnya. Ahh sama saja. Khawatir akan Putra
yang datang sebentar lagi, mengingat juga kalau jarak antara pasar dan rumahnya
tidak jauh, alhasil ia biarkan dandanannya seperti apa adanya.
“Semoga Putra enggak ketawa lihat dandanan aku.”
Benar saja. Belum lama setelah aku mengganti pakaian
dan mengubah penampilan. Suara deru si Jagur yang masih aku hapal sudah tiba di
depan rumah. Aku mengintip dari balik jendela. Putra yang nampak rapi tanpa
jeans sobek, jaket denim dekil, dan rambut gondrong sepinggang. Kini berganti
menjadi putra yang dewasa plus, kacamata? Tanpa pikir panjang, aku langsung
keluar kamar menuju pintu.
“Hai..”
“Ranti?”
“Iyah? Kamu sudah datang?”
Putra menggelengkan kepalanya sambil tercengang
melihatku.
“Kok ngeliatnya gitu banget?”
“Hehehe. Bunda mana?”
“Oh iyah aku sampai lupa. Ayo masuk.”
Bertemu dengan bunda dengan basa basi khasnya. Belum
berubah dia ini.
“Ranti, antar Putra ketemu Dika.”
Aku mengangguk dan menggandeng tangan Putra. Apa?
Aku menggandengnya. Ahh, sial !
“Ran..?”
“Apa?”
Lirikan mata Putra yang membuatku paham kalau
tangannya telah aku genggam. Aku gelagapan.
“Ehmm sorry, Put.”
“Cieee gandengan tangan..”
Dari jauh Dika sudah melihat kami berdua ternyata.
“Ehh bro.. sehat?”
Aku dan Putra masuk ke kamar Dika. Pria yang nampak
dewasa itu memberikan tangannya pada Dika.
“Put, mau minum apa?”
“Ehh enggak usah. Habis ini kan kita jalan.”
“Jalan?”
Putra mengedipkan matanya sebelah. Genit ! aku
langsung keluar kamar meninggalkan pria-pria itu.
Setelah selesai, Putra meminta izin pada bunda untuk
mengajakku keluar. Seperti biasa, bunda bertanya pada Putra kemana dan berapa
lama kami pergi. Akhirnya bunda mengizinkan. Diperjalanan Putra bertanya kemana
kita akan pergi. Aku jawab saja terserah, karena memang Putra yang mengajakku
bukan?
“Yaudah. Kamu ikut aku aja deh.”
Aku menunjukkan smiling
eyes padanya.
Si Jagur membawa kami ke salah satu tempat makan
kaki lima di bilangan Jakarta Timur. Aku tahu tempat ini. Ini adalah tempat
dimana aku dan Putra kala SMA kelas dua, semester satu, tepatnya November 2011,
dan saat itu kita pertama kali kenal. Ya, berawal dari masalah sepele. Putra
tidak sengaja meninggalkan dompetnya. Kita juga baru tahu satu sama lain bahwa
kita satu sekolah. Hanya beda kelas saja. Aku di sebelas IPS satu, dan Putra
Sebelas IPA dua.
“Put, yakin mau disini?”
“Ya aku sih ikutin apa kata si Jagur aja. Iyah gak,
bro?”
Ucapnya sambil mengelus kaca spion.
“Oke deh. yuk?”
Kami berjalan masuk dan mencari meja kosong.
“Disana aja.”
Ahhh, lagi-lagi yang ditunjuk adalah meja dimana aku
pernah duduki.
“Mau makan apa?”
“Hmmmm”
Gumamku sambil melihat daftar menu.
“Gado-gado kayaknya enak nih.”
“Itu aja? Biasanya banyak.”
Aku menatapnya sambil tertawa. Aku dibuat malu
olehnya.
“Oke, tapi kali ini aku mau kita bayar
masing-masing.”
“Lah, emang kamu pikir aku bakal traktir kamu? Enak
aja.”
“Ihh Putra nyebelin ah. Hahaha.”
Dua porsi Gado-gado dan dua botol air mineral
menjadi menu makan siang kali ini.
“Oke, jadi kali ini kamu enggak mau nambah makanan
lagi?”
“Ihh Putra bawel yah?”
Ia tertawa sambil menggulung lengan kemejanya. Kali
ini ia sangat berbeda. Jeans hitam selutut, t-shirt abu-abu, dan kemeja flannel
hitam. Ditambah jam tangan yang sangat aku kenal sejak ia pertama kali
membelinya di semester enam saat kuliah. Ia membeli di pasar malam saat kami
ingin naik bianglala sambil menyantap permen kapas berdua. Melihat pemandangan
pasar malam dari ketinggian.
“Jadi sekarang kamu pakai kacamata, put?”
Ia melepas dan menaruhnya di meja.
“Jelek yah?”
Aku menggeleng.
“Cuma terlihat lebih tua aja. Hihii. Enggak kok, aku
bercanda. Kamu ganteng.”
“Tadi katanya mau bayar masing-masing makannya. Kok
sekarang malah ngegombal sih, kode banget minta dibayarin?”
“Ihhh aku serius tau kamu ganteng.”
“Terus dulu aku jelek?”
“Enggak jelek sih, cuma kumel aja. Kemana tuh
pakaian perjuangan anak teknik dulu?”
“Hahaha, masih ingat aja. Udah masuk museum.
Jadi keset sekarang semuanya. Ibu risih, jadi ya gitu deh.”
Aku tertawa dibuatnya.
“Terus gimana kerjaan kamu, katanya mau ke Belanda
dua bulan lagi?”
“Iyah, doakan yah. Aku ditugaskan kesana.”
“Iya deh, apa sih yang enggak buat sahabat aku?”
Ia mencubit pipiku. Kami tertawa. Di sela-sela
obrolan kami, pesanan datang. Nampak menggoda lidahku gado-gado legend ini. Saling bertanya kesibukan
sekarang. Pekerjaanku dulu, dan kesibukanku sekarang sebagai blogger traveller.
“Blognya sudah ada iklan?”
“Sudah.”
“Wihh, dapat uang dong?”
“Ya lumayan buat aku nabung.”
“Bagus deh.”
“Kamu sendiri gimana di kerjaan sekarang?”
“Ya begitu. Urus projek perusahaan, kesana kemari,
terbang sana sini.”
“Tantangannya banyak?”
“Ya lumayan. Belum lagi aku harus berhadapan sama
orang yang masih ada hubungan keluarga dengan yang punya perusahaan, ada juga yang ambil jalur belakang buat naik jabatan.”
“Termasuk kamu?”
“Enak aja. Enggak lah!”
“Percaya kok, percaya..”
Ucapku sambil membuka tutup botol air mineral dan
meminumnya.
Setelah
selesai, aku dan Putra kembali menunggangi si Jagur. Langit tidak panas, dan
tidak juga mendung.
“Ran, ke Ancol mau enggak?”
“Ayo, put. Lihat laut, cari angin juga.”
“Cari angin, angin ngapain dicari? Ada-ada aja.”
Aku tertawa dan menepuk pundaknya. Sesampainya
disana, Putra tidak turun dari motornya. Ia malah diam sambil memperhatikan
sekitar.
“Sepi ah. Enggak seru.”
“Terus maunya yang ramai?”
Ia mengangguk sambil melihatku. Aku hanya menghela
napas.
“Yaudah kita cari aja tempat yang ramai.”
“Enggak mau, ran. Aku maunya disini.”
Aku teringat akan dulu saat ia memintaku untuk
berhenti mengerjakan tugas di perpustakaan hanya untuk makan bersama. Ah, sifat
manjanya masih ada ternyata. Wajar saja, Putra memang anak semata wayang.
“Eh itu ada tukang es pisang ijo. Beli yuk, mau?”
“Kamu kayak enggak tau aja, aku kan enggak suka
pisang.”
“Iiih coba aja dulu. Ini tuh enak tau.”
Ucapku yang padahal aku sok tahu.
“Emang kamu udah pernah beli disitu?”
“Udah, put.”
“Kapan emang? Kita kalau kemana-mana suka bareng dan
baru kali ini aku lihat kamu mau makan es pisang ijo.”
“Duh udah dong, ayo aku pengen beli.”
“Hmmm, iya deh. Tapi aku enggak mau beli. Kamu aja.”
“Enggak mau. Maunya kita beli.”
“Oke. For the
first time !”
“Hihihi, Putra baik.”
Ucapku sambil mencubit pipinya sampai ia mengaduh
kesakitan dan membenarkan letak kacamatanya. Akhirnya aku dan Putra menuju
stand yang menjual es pisang ijo. Memang nampak ramai dan kelihatannya enak.
“Mas, pesan es pisang ijo dua mangkuk yah.”
“Eh eh, satu aja. Enggak mas.”
“Ah Putra !”
Ucapku sambil cemberut. Akhirnya Putra mengalah. Dua
mangkuk berukuran sedang berisi es pisang ijo lengkap dengan parutan keju dan
disiram dengan sirup merah. Harganya juga sangat terjangkau. Tujuh ribu rupiah.
Ternyata tidak hanya menjual es pisang ijo, namun ada juga kentang tornado dan
bakso bakar yang harganya juga tidak sampai merogoh kocek dalam-dalam.
“Ran, aku mau bakso bakarnya. Pesan dong?”
“Oke, tunggu ya.”
Selagi aku memanggil pelayannya untuk memesan bakso
bakar, terlihat Putra ragu-ragu mencicipi kudapan olahan pisang. Ia hanya
mengaduk-aduk es pisangnya.
“Heh, dimakan dong.”
“Ranti. Kamu tahu sendiri aku enggak suka pisang.”
“Eh ini tuh enak.”
“Coba kamu makan duluan.”
Tanpa basa basi, aku langsung memotong pisang yang
diselimuti adonan hijau dengan sendok bebek yang aku pegang.
“Aku makan nih.”
Putra hanya mendongakkan kepalanya padaku. Langsung
saja aku hampiri tanganku ke mulut. Rasanya sangat enak. Aku ingin lagi dan
lagi.
“Enak?”
“Banget, put. Coba deh. Ini enak banget.”
Putra masih ragu-ragu untuk mencicipinya.
“Sini deh aku suapin. Lama banget kayaknya mau makan
doang.”
Aku mengambil mangkuk Putra dan memotong pisangnya.
“Ayo, buka mulutnya.”
“Ran, aku enggak…”
“Aaaaaa…”
Ucapku dengan gaya ibu-ibu yang sedang menyuapi
anaknya makan. Orang disekeliling mulai memperhatikanku dan Putra.
“Ran malu ahh. Aku aja sini yang makan.”
“Buka mulutnya ih cepat !”
Dengan pasrah, Putra menurut. Ia langsung menyambar
es pisang ijo yang aku sodorkan ke mulutnya. Ia mengunyah dengan mata yang
dipejamkan. Tangannya juga menutup mulutnya.
“Gimana, enak toh?”
“Hu’um, enak ran.”
Ucapnya sambil mengangguk namun tangannya masih
menutup mulutnya.
“Ihh itu tangannya awas, makan lagi.”
“Stop. Kali ini biar aku aja yang makan sendiri.
Enggak usah suap-suapan. Bakso bakar aku mana?”
“Ya belum jadi, lihat aja tuh orang-orang pada
ngantri.”
“Ranti.”
“Apa?”
“Pisang itu ternyata enak.”
“Apa aku bilang. Ini pasti enak. Kamu baru pertama
kali cobain pisang, kan?
Pria manis itu mengangguk sambil memotong-motong
pisang dan memasukkannya kedalam mulut. Aku tersenyum melihatnya. Tidak lama
kemudian, bakso bakar pesanan Putra sudah jadi. Tidak lupa Putra mengucapkan
terimakasih pada pelayannya.
“Kamu mau ran?”
“Enggak deh. Aku takut kekenyangan. Hehehe.”
“Tuh, tumben banget kamu. Apa semenjak kamu berkelana
sana sini kamu kuliner terus? Udah gitu begitu pulang ke Jakarta, timbang
badan, kaget lihat angka berat badan?”
“Hahaa, apaan sih? Ya enggak lah. Cuma aku enggak
mau pas kita lagi jalan tiba-tiba ngantuk karena kekenyangan. Kan jadi enggak
seru jalan-jalannya.”
“Ah neng bisa aja.”
Aku tertawa mendengar Putra yang menyebutku dengan
panggilan ‘Neng’.
“Eh habis ini kita kemana lagi?”
“Hmmm kemana ya, kamu maunya kemana?”
“Baru jam setengah lima, sih.”
“Ya udah. Kita main-main aja disini. Kan katanya
kamu mau cari angin. Silahkan tuh cari angin. Kalau bisa, sekalian kamu minta
kantong kresek sama mas-masnya tuh. Buat kantongin angin pantai Ancol. Terus
kasih ke bunda atau Dika sebagai oleh-oleh. Gimana ideku?”
“Hahaah, kamu tuh.”
“Loh, benar toh?”
“Iya aja deh, biar cepet.”
Putra mencubit pelan pipiku. Kami pun menghabiskan
waktu senja berdua di sana. Banyak cerita yang aku dapat sejak tidak lama
berjumpa dengannya. Belum lagi kesiapannya untuk pergi ke Belanda dua bulan
lagi. Putra juga antusias mendengarkan ceritaku selama tiga tahun berkelana.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Rin, ke air yuk?”
“Serius mau basah-basahan?”
Putra mengangguk sambil menengok kearah pantai yang
letaknya ada disamping kami.
“Yaudah tapi habiskan dulu makanannya. Entar nangis
loh es pisang sama bakso bakarnya.”
Putra tertawa renyah. Setelah selesai makan dan
membayar, kami pun menitipkan motor terlebih dahulu. Putra yang berjalan di
pasir langsung membuka sneekers miliknya. Aku juga tidak mau ketinggalan. Kami
saling kejar-kejaran, bermain dengan deburan ombak yang tidak besar. Hingga
tidak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat. Rok yang aku kenakan tidak
basah, hanya celana pendek yang Putra kenakan saja yang basah karena ia nekat
turun kedalam air.
Matahari mulai menunjukkan sinar indahnya. Aku dan
pria berkacamata itu duduk di bibir pantai beralaskan sneekers kami
masing-masing.
“Put, makasih loh sudah ajak aku jalan.”
“Hehehe, iyah sama-sama.”
Ucapnya sambil menatapku. Kami saling melempar tatap
satu sama lain. Matahari lambat laun tenggelam namun tetap pada cahaya berwarna
jingga kemerahan yang ditumpahkan.
“Aku mau bicara sesuatu sama kamu, ran.”
“Apa?”
Putra mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan
denganku. Aku juga.
“Aku mau jawab pertanyaan yang dimana kamu lontarkan
waktu itu. Di rooftop waktu kita prom.”
Aku menatap matanya dalam-dalam. Nampaknya ia sudah
menemukan jawabannya setelah tiga tahun aku pergi.
“Ok. Apa jawabannya?”
“Kamu pergi karena kamu butuh sesuatu yang tidak
mungkin bisa orang dapatkan. Kamu bukan tidak suka dengan keramaian,
melainkan kamu hanya tidak suka berlama-lama di suasana yang riuh. Kamu juga bosan
dengan waktu yang kita lalui bersama. Semua orang memang butuh waktunya untuk
sendiri. Menghirup udara, menatap matahari yang terbit dan tenggelam di tempat
yang berbeda, merasakan apa yang orang lain rasakan diluar dunia kita. Untuk
apa? Untuk belajar bagaimana kita menjadi sesosok manusia yang diciptakan oleh
Tuhan sebagaimana yang telah tertulis oleh garis yang tentukan oleh-Nya. Kita memang
tidak sempurna, dan kita memang berbeda. Namun tidak dengan cinta. Semua orang
butuh dan perlu mencari cintanya.
Itu yang kamu lakukan. Kamu belajar bagaimana
mencintai negeri ini dan mempelajari setiap inci dari apa yang telah kamu
lihat, kamu dengar, dan kamu rasakan. Tujuannya yang tidak lain adalah untuk
menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Enggak heran kalau selama aku
mengenal kamu, kamu suka menolong orang. Tiga tahun buatku rasanya sebentar.”
Aku fokus melihat gerak bibirnya yang mengeluarkan
suara.
“Selain itu juga, kamu harus tahu akan ini.”
Ia mengeluarkan sebuah buku berukuran kecil dari
saku kemejanya. Aku tidak sadar sedari tadi ia mengancingkan saku kemejanya.
Nampak tidak asing dengan buku kecil itu. Itu buku dari almarhum Ayah. Harta
karunku.
“Jadi selama ini ada di kamu? Aku cari ini
kemana-mana.”
“Kamu menjatuhkannya sewaktu kamu tinggalin aku di
rooftop. Sorry aku lancing, main baca dan buka isinya. Ternyata kamu
menjalankan apa yang ayah kamu impikan. Buatku, kamu berhasil Ranti.”
Aku menitikkan air mata saat membuka buku itu. Ada
fotoku dan Ayah yang mulai menguning.
“Put..”
“Iya ran..”
Aku menangis sejadi-jadinya. Putra menyeka air mata
yang membasahi pipiku.
“Kamu enggak perlu nangis. Apa yang kamu lakukan itu
benar. Waktu itu aku yang salah, aku belum paham kenapa kamu selalu mengikuti
kemana arah angin berhembus, kamu senang kesana kemari, bahkan sampai-sampai
aku yang tadinya enggak tahu kamu dimana bisa tahu posisi kamu. Apa kamu ingat
siapa yang mengirim foto dari sisi samping, belakang, dan depan sewaktu kamu di
Yogya?”
“Siapa put?”
“Itu aku, ran. Aku senang lihat kamu. Tapi aku
sempat kecewa ketika kamu enggak terima bunga yang aku kasih.”
“Jadi, bunga yang waktu aku di hotel itu dari..”
Belum selesai aku bicara, Putra mengangguk sambil
memegang kedua pipiku.
“Iya, itu aku. Enggak apa-apa kok. Harusnya aku yang
minta maaf karena mungkin waktunya belum tepat.”
“Maksudnya belum tepat itu apa?”
Ia mengeluarkan sesuatu juga dari dalam saku
celananya yang basah. Sebuah kotak berwarna hitam yang ternyata berisi cincin.
“Ranti. Delapan tahun aku mengenal kamu. Enggak ada
lagi alasan buat kamu bisa berjalan sendiri tanpa aku. Kamu ingat ucapanku
malam itu? Kemanapun kamu pergi aku ikut. Aku berharap begitu juga sebaliknya.
Kamu butuh teman Ranti. Mulai detik ini, selamanya, sampai jadi debu, kamu jadi
temanku. Teman hidupku, ranti. Kita buat cerita kita.”
“Kamu…”
Putra hanya tersenyum sambil terus menatapku. Sang surya
mulai terbenam. Kami berdua bak siluet ditengah lalu lalang orang yang
menikmati lukisan yang diciptakan Tuhan.
****
“Terimakasih sudah antar aku pulang.”
“Iyah sama-sama. Maaf yah aku enggak bisa mampir,
takut kemalaman. Udah jam Sembilan juga. Mendingan kamu buruan masuk.”
“Iyah.”
Putra pergi dengan si Jagur. Namun baru setengah
jalan, aku memanggilnya yang sontak membuatnya berhenti dan menoleh padaku.
“Apa?”
“Eng… enggak, ha.. hati-hati ya.”
Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.
Aku langsung membuka pagar, melangkah masuk dan tidak lupa menguncinya.
“Ranti.. enggak diantar Putra?”
Aku hanya tersenyum pada bunda yang tiba-tiba
membuka pintu.
“Heh, ditanya kok malah senyum-senyum. kamu enggak
diantar Putra?’”
“Hmmmm, diantar kok bun.”
“Oh ya sudah ayo masuk.”
Aku mengangguk dan membuntuti bunda dari belakang.
“Bunda..”
“Apa?”
“Aku sayang bunda.”
Ucapku yang disusul memeluk dan mencium kening
wanita yang sangat aku sayangi. Setelahnya aku langsung berlari ke kamar.
“Kenapa itu anak?”
****
Bulan telah
menemaniku tidur malam ini. aku tidak sangka bahwa kau akan melakukannya.
Semoga keputusanmu memilihku bukanlah keputusan yang salah, namun aku yakin dan
sangat yakin bahwa cinta tidak pernah salah dalam memilih.
@Kamar Tidur
22:00 PM
Tulisku dalam buku kecil yang telah kembali pada
genggaman. Aku melihat potretku dan ayah. Aku merindukannya. Ditengah-tengah
keheninganku sebelum tidur, ponselku berdering. Ah kalian pasti sudah tahu
kalau ini adalah Putra.
“Hallo, put?”
“Hallo. Belum
tidur?”
“Menurut kamu?”
“Hahah, iyah
belum. Oh iya, bunda tanya enggak soal cincin yang kamu pakai?”
“Hmm, belum tahu sih soal cincin. Lagian belum aku
kasih tahu juga. Palingan besok pagi juga bunda peka kalau aku pakai cincin.”
“Kasih tahu
bunda secepatnya yah, ran.”
“Iyah, besok aku kasih tahu.”
“Ranti..”
“Iyah?”
“Tidur yuk, udah
malam. Besok takut kamu kesiangan kasih tahu ke bunda.”
“Hahaha. Oke deh siap.”
Ucapku sambil tersenyum diatas ranjang tidur.
“Aku sayang
kamu, ran.”
“Hihihi…”
“Loh malah
ketawa.”
“Iyah, put. Aku juga sayang kamu.”
“Selamat malam.”
“Malam..”
Aku tersipu sambil melihat cincin yang kini
melingkar di jari manisku. Baiklah. Saatnya aku tidur, karena ada benarnya juga
apa yang Putra bilang. Khawatir besok aku kesiangan mengabari bunda soal Putra
yang akan menikahiku dua bulan lagi, sepulangnya ia dari Belanda.
Ok.
****
Komentar
Posting Komentar