Hai..
Apa kabar?
Semoga
kamu baik-baik saja.
Boleh
pinjam ponselmu sebentar? Tenang saja, aku tidak akan memeriksa pesan
singkat dari keluarga, kerabat, atau... pacarmu sekarang. Aku hanya ingin
menggunakan stopwatch untuk menghitung
waktu kita dari sekarang sampai matahari terbenam. Ayolah. Waktu kita tidak
banyak. Boleh ya?
Mau jalan-jalan? Sepertinya asyik. Ayo!
Kau lihat gang di sana? Gedungnya unik, di sana juga.
Di sana, di sana. Aku jadi ingat akan latar tempat di film 'Gie', film garapan Riri
Riza itu sangat membuatku kagum. Tidak hanya menceritakan sosok aktivis muda
yang menjadi panutan banyak mahasiswa dan orang banyak, namun mengajarkan kita
tentang mencintai negeri ini. Soe Hok Gie menjadi simbol perlawanan para reformis idealis yang
menentang kemunafikan para politisi dan pejabat oportunis. Banyak kata-kata dan
pemikirannya yang tetap tumbuh subur dan tidak ada matinya.
“Lebih
baik diasingkan daripada tunduk dan menyerah pada kemunafikan”
Kau
ingat kata-kata itu? Maaf, aku terlalu banyak bicara. Percakapanku, membuatmu pusing. Maaf.
Menurutmu,
kemana kita sebaiknya pergi saat senja? Oh iya. Kau pernah bilang padaku bahwa
ada sesuatu yang unik saat menikmati waktu senja di tempat yang penuh dengan
kerumunan orang. Aku akan menemukan sisi lain yang indah, ironi, sedih, menikmati
pemberian Tuhan (rasa syukur), dan yang lain.
Oh iya, masih sibuk mengetik dan memotret? Aku dengar kau sampai masuk
rumah sakit karena tertabrak motor saat mengambil objek. Ternyata benar.
Bekas luka di tangan kirimu masih terlihat meskipun hampir memudar bekas
lukanya.
Kau
haus? Tenang, di tempat ini akan kuajak kau minum air kelapa langsung dari
buahnya. Harganya cukup terjangkau. Tapi, aku minta jangan kau keluhkan tempatnya.
Karena memang begini adanya, jadi harus kau nikmati saja.
Ahh.. maaf, aku lupa. Kau tidak akan bersikap demikian. Karena kau pernah bilang 'seburuk apapun keadaan, kita akan menemukan sisi manis dan berkesan dari hal-hal kecil sekalipun.' Semoga kau masih menggenggam ucapanmu.
Bagaimana, kau menikmati suguhan kelapa muda segar, duduk di pinggir jalan sambil
melihat orang lalu lalang? Coba kau lihat tukang parkir yang sibuk menjaga kendaraan orang dan
sekaligus mengatur lalu lintas itu, lihat juga jajaran tukang kelapa yang bersaing dengan
kompetitor hanya dengan jarak tak kurang dari dua meter, gedung bioskop tua, dan
gedung-gedung tua lain yang beralih fungsi menjadi toko kelontong? Kau masih suka dengan suasana ini?
Hey.. Sepertinya
ada anak kecil yang sedari tadi mengikutimu. Nampaknya ia penasaran dengan
hasil potretmu. Coba saja perlihatkan padanya. Oh.. tunggu, aku ada permen.
Siapa tahu ia tergerak untuk mendekat.
Ia
mau mendekat dan melihat hasil potretmu. Aku piawai untuk mendekati
anak kecil bukan? Tanyalah anak ini sesuka hati. Siapa nama, dan dimana rumah anak itu. Yaa sekadar basa-basi
tidak salah, setidaknya kau ada cerita hari ini.
Namanya Doni, usianya tujuh tahun. Saat ditanya dimana rumahnya, ia hanya
menunjuk ke utara. Kau hanya bilang ‘Oh’ dan mengangguk seraya menyedot air
kelapa. Kau mulai bercanda dengan anak ini.
Kau tahu, aku rindu tawamu saat kita mampir
ke angkringan setelah main wahana komedi putar di pasar malam! Waktu itu tepat
pukul sembilan. Gerimis mulai turun dan kita mampir di
angkringan sambil menunggu gerimis reda. Memesan wedang ronde dan beberapa tusuk sate jeroan, dan kau bercerita tentang rencana masa depan yang
kau susun. Aku kagum dengan semangatmu.
Sudah
sore. Aku ingat bahwa waktu kita tidak lama. Boleh aku pinjam ponselmu lagi?
hanya untuk melihat sudah berapa lama kita jalan-jalan.
Ah.. tepat satu
jam. Tersisa tiga puluh menit lagi. Kau mau mampir sebentar untuk makan nasi uduk kaki lima di sana? Kau bisa makan bakwan, pisang goreng, atau roti goreng sambil ditemani segelas
kopi moccachinno sachet kesukaanmu.
Kau
nampak keren dengan kemeja flannel warna biru tua dan hijab warna abu-abu yang
senada dengan jenas yang kau pakai. Dan.. hey, sneakers yang kita beli bersama
masih awet. Kau tidak berubah, kau tetap manis. Kau tetap Dara
Dinanti. Dara yang sejak dulu aku nanti dan sampai saat ini masih ku nanti,
atau mungkin juga selamanya.
Tunggu, aku melihat kepulan asap!
Ahh… ternyata kebakaran. Sepertinya salah
satu toko perbelanjaan yang terbakar. Semoga tidak ada korban jiwa.
Akhirnya
sampai juga di penghujung senja. Di jalan ini kita berpisah. Titip salam untuk pacarmu. Jangan lupa makan, dan minum air putih agar kondisi badanmu tetap fit. Banyak-banyak berdoa karena semua kegiatan kita ada campur tangan Tuhan.
Biarkan kenangan mengalir, biarkan ia hidup agar kau bisa terus belajar
darinya. Selamanya ia akan seperti hantu jika kau takut dan terus
menghindar. Biarkan ia menjadi pelita yang bersahabat, agar kau terus bergerak menjadi pribadi yang lebih bijak. Buatku, kenangan tidak selamanya buruk. Kau setuju?
Aku ucapkan terimakasih
karena telah meminjamkan waktu untuk selamanya.
Komentar
Posting Komentar