Tepat pukul empat sore. Dengan sepeda merah pemberian
papa, lengkap dengan keranjang yang terbuat dari rotan di depannya, aku keluar
rumah. Menyapa nenek Riswan yang sedang duduk di beranda. Wanita berusia kepala
delapan itu masih bisa tersenyum dan tidak pikun dengan tetangganya. Nampak
masih cantik juga dengan balutan kebaya dan kain batik yang ia kenakan. Aku
menengok langit, sangat cerah. Terimakasih semesta.
Salam kenal, namaku Resti. Lengkapnya Resti Prameswari.
Waktu sore seperti ini sudah tugasku untuk menjemput adikku satu-satunya di
tempat les musik sepulang sekolah. Belum tahu sepulang dari sini mau kemana,
yang pasti tunggu saja jawaban darinya jika aku bertanya “Mau kemana habis ini?”
Ramai. Banyak anak-anak sepantaran adikku, bahkan seumuranku yang lalu lalang sehabis membeli jajanan, atau yang baru datang. Kalian tahu apa yang menyebalkan dari menunggu? Ah.. tanpa aku menjelaskan juga kalian
pasti punya jawaban yang bervariasi. Tidak apa-apa, karena memang setiap orang
punya opini masing-masing. Papa bilang "yang penting, kita ikhlas dan saling
menghormati pendapat satu sama lain."
Ahh, itu dia adik kecilku. Anak berusia Sembilan
tahun, pipinya yang gemuk, berkulit putih, mengenakan kaus berwarna merah,
celana jeans pendek hitam, dan tidak lupa dengan topi warna kuning kesukaannya.
Namanya Jingga, lengkapnya Jingga Lintang Langit. Mama pernah bilang kalau mama
suka langit saat sore hari, dan memang saat Jingga lahir juga tepat saat matahari
terbenam. Dua keindahan yang mama dapatkan. Senja yang indah, dan lahir sang
jagoan di keluarga kecilnya.
“Hallo jenderal?”
Sapaku padanya yang menghampiriku sambil tersenyum.
“Hallo juga ajudan!”
"Mau kemana habis ini?”
“Hmmm tunggu sebentar.”
Ucapnya sambil melihat sekitar. Aku cekikikan
dibuatnya.
“Jenderal sudah memutuskan, bagaimana kalau kita
minum es cokelat di café di seberang toko bunga milik ibu Rini?”
Aku mengerutkan kening, ia membalasnya dengan
memamerkan giginya yang rapih.
“Oke, tapi berhubung jenderal sedang pilek maka
ajudan menyarankan agar jenderal memesan cokelat hangat, ditambah jenderal
boleh memesan makanan apapun yang jenderal suka dengan catatan…”
Aku meraih buku agenda kecil dari tas selempang
hitamku.
“Ajudan lama, nih..”
“Nah.. dengan catatan dari ibunda ratu: jenderal
tidak boleh dulu makan makanan pedas, atau asam, termasuk minum minuman dingin
seperti yang tadi saya katakan. Apa jenderal sanggup?”
Jingga mulai cemberut.
“Hmmm oke. Karena jenderal cemberut dan tidak mau
menurut perkataan ibunda ratu, dengan berat hati ajudan akan laporkan ini ke..”
Jingga memegang tanganku dengan kedua tangannya yang
gendut.
“Oke, jenderal sanggup untuk melakukannya. Asal
jangan kasih tahu mama kalau aku minta kakak temani aku makan di café.”
Aku tertawa melihatnya. Akhirnya jingga segera naik
ke jok belakang sepeda seperti biasa. Aku yang memboncengnya. Sepanjang jalan
ia tidak berhenti membicarakan guru musiknya yang baru. Aku fokus mengendarai
sepeda namun tetap juga mendengarkan ceritanya.
Sampai di depan café bernama Gudang Cokelat dan Kopi,
Jingga turun terlebih dulu dan langsung berlari kedalam café tanpa menungguku
selesai parkir sepeda. Aku suka tempat ini, ada parkir khusus sepeda, dan ini
gratis. Terkadang juga masih ada saja pengendara motor yang bandel. Padahal
sudah ada lahan parkir khusus kendaraan selain sepeda di samping dan dibelakang.
Namun dengan alasan jauh, mereka seenaknya saja. Atau yang paling menjengkelkan
adalah kalimat ‘Kan kita parkir disini juga bayar. Tinggal kita bayar kan
selesai, gitu aja kok repot?’ Ahh, membiasakan hal yang salah akan menjadi
kebiasaan yang salah juga.
Aku berjalan diatas lantai café berwarna seperti
cappuccino, aku dapati Jingga sudah berdiri diantrian untuk memesan. Segera aku
susul.
“Selamat datang di Gudang Cokelat dan Kopi, mau
pesan apa?”
“Mas, aku mau Mocca Ice sama Double Choco Waffle.
Jingga mau apa?”
“Terserah kakak, kan aku enggak boleh minum es
dulu.”
Aku tersenyum dan mencubit pipinya pelan.
“Ya udah satu lagi, hmm.. disini ada sup atau
makanan lain?”
“Oh kami ada menu baru. Ada cream soup lengkap dengan
sayuran dan ada dua varian. Ada sweet
corn dan chicken spinach.”
“Tuh, mau yang mana?”
“Hmmm, chicken
spinach!”
Ucapnya dengan lantang.
****
Makanan sudah selesai dilahap olehku dan Jingga.
Moccachino juga tinggal sedikit, Jingga suka dengan menu baru di café ini.
Namanya saja Gudang Cokelat dan Kopi, nyatanya agar tidak bosan dengan menu
minuman dan dan makanan akan keduanya, pihak café membuat tambahan menu agar
pelanggan tetap loyal dengan café ini. Aku salut dengan pengusaha muda masa ini.
Selain kreatif dan tidak melulu mementingkan produksi serta laba, mereka juga
memberikan service terbaik agar customer selalu merasa nyaman dan puas.
“Kak, Jingga hari ini kedatangan guru musik baru.
Dia orang mana ya, Jingga lupa?”
“Loh, kok bisa lupa?”
“Pokoknya dia asal kota di Jawa gitu, nama kotanya
tuh Jingga lupa. Apa ya, man.. man.. man gitu.
Apa ya?”
“Kamu tuh lucu, kenapa enggak di catat?”
“Jingga lupa, kak. Pokoknya nama kotanya tuh man.. man.. gitu. Di Jawa.”
“Sleman maksudnya?”
Ucapku sambil meraih tissue dan membersihkan sisa
makanan yang belepotan di pinggir bibirnya.
“Nahhh, iyah. Sleman.”
Aku tertawa melihatnya. Jingga masih tidak berhenti
bercerita tentang guru barunya itu. Gurunya yang pandai memainkan tiga alat
musik. Gitar, Biola, dan Drum. Jingga memang pandai bermain biola, sama seperti
mama. Aku tidak ahli di bidang musik. Jingga juga pandai di pelajaran
Matematika, aku bangga padanya.
Tepat pukul lima sore, saatnya aku dan Jingga
pulang. Setelah membayar ke kasir, aku dan Jingga bersama keluar café. Ia
menggandeng tanganku seolah tidak ingin melepasnya. Sesekali aku melihatnya
sambil tersenyum, disusul iseng mencolek belakang lehernya. Jingga tertawa
menahan geli.
“Kak, beli bunga dulu enggak nih?”
“Hmmmm sepertinya iya. Harus, karena ini hadiah
untuk mama bukan?”
Jingga mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Ya sudah. Ayo jenderal!”
****
Sebucket bunga Mawar merah dan putih, kesukaan mama.
Aku dan Jingga telah sampai di pusara mama.
“Ma, hari ini Jingga kedatangan guru biola baru.
Orangnya baik, deh. Jingga suka diajar sama guru musik Jingga.”
Pipiku basah, tak kuasa menahan air yang ingin
tumpah. Dadaku sesak. Hari ini adalah tepat hari ke sepuluh mama pergi
meninggalkanku, Jingga, dan papa. Aku bertekuk lutut di samping Jingga.
“Dek.. kita kasih hadiah mama doa, yuk. Jingga yang
bacain surat Al-Fatihah untuk mama. Bisa?”
Jingga dengan wajah polosnya menuruti perkataanku.
Diangkat kedua tangannya sejajar dengan dagu. Ya Allah, mengapa Kau memanggil
mama dengan cepat?
Setelah selesai, aku meminta Jingga agar menyirami
makam mama dengan sebotol air yang sudah aku siapkan sejak sebelum berangkat
menjemput Jingga. Aku mengelus papan nisan mama sambil terus menahan isak
tangis. Jemari kecil Jingga menghapus air mataku.
“Kak, pulang yuk. Takut papa nyariin kita”
Aku melihat sekeliling, dan benar. Lampu-lampu di
TPU ini sudah menyala. Aku melihat jam tangan yang sudah menunjukkan angka lima
lewat lima dua puluh menit. Jingga tersenyum padaku.
“Oke jenderal Jingga. Ajudan siap untuk pulang ke
rumah, dan Jenderal juga harus mengerjakan PR. Biar kakak yang bantu Jingga ngerjain. Enggak apa-apa, kan?”
Jingga mulai cemberut.
“Ehh kok jenderal cemberut?”
“Jingga kangen diajarin matematika sama mama.”
Aku memeluk Jingga dengan erat, menangis
sejadi-jadinya, dada ini sungguh sesak. Amat sesak, belum bisa menerima
kepergian mama. Namun aku tidak boleh larut dalam kesedihan, terlebih di
pemakaman umum seperti ini.
“Ya udah. Kita cepat pulang. Karena nanti papa bisa
marah. Kalau Jingga lapar, Jingga mau ngerjain
PR, bilang sama kakak. Oke?”
“Huum, oke!”
“Tos dulu?”
Aku memberikan lima jariku dihadapannya, Jingga
menepuk dengan jemarinya yang gemuk dan menggemaskan.
****
Lengkungan senyum bibirnya sangat menawan, aku masih
bisa merasakan hangat peluknya. Masih merasakan lembut jemari lentiknya yang
membenarkan jilbabku jika ada helaian rambut yang terlihat di keningku, sambil
berkata “Kalau pakai jilbab, rambutnya ndak
boleh kelihatan. Oke?”
Gambar: Pribadi
Komentar
Posting Komentar