SERPIHAN
PERTAMA: MEMULAI KEMBALI
Menjadi seorang penulis adalah salah satu dari
seratus impian yang gue tulis di buku harian. Masih harus belajar dari banyak senior
yang sudah lebih dulu terjun di dunia ini. Memotret merupakan hobi yang sudah digeluti selama satu tahun setengah. Memasuki tahun 2019, terhitung sudah dua
tahun. Kesibukan gue sekarang sedang menjalani masa magang. Menjalani profesi
sebagai Fotografer Jurnalis di salah satu perusahaan kabar berita online di
Serang, Banten. Bagi orang-orang yang melihat sih tugas gue cuma motret.
Cuma motret, iyah cuma. Tapi seiring berjalannya
waktu, kata ‘Cuma’ akan berganti menjadi seonggok daging yang harus diolah
untuk dikonsumsi banyak orang. Harus diperhatikan cara memotong, cara memberi
bumbu, dan cara memasaknya. Jika benar, maka akan memberi manfaat. Jika salah,
akan memberi mudharat. Tetap harus
berhati-hati dan memperhatikan apa yang akan terjadi dampaknya jika kalian
melakukan suatu hal yang belum tentu kalian tahu detailnya.
Kali ini gue mau menulis tentang apa saja yang sudah
dilakukan selama mangkir dari blogging. Terhitung sudah dua bulan enggak
nulis disini. Tapi kali ini, gue akan menceritakan yang saat ini gempar.
Meskipun sudah terbilang basi untuk dibahas dan pasti kalian juga bosan, namun
gue selalu percaya bahwa apa yang disampaikan oleh siapapun pasti ada yang bisa
diambil, ada yang bisa di ulik, dan akan selalu ada sesuatu yang bisa membuat
kalian terbuka bahwa kita adalah manusia yang sejatinya memiliki rasa empati,
dan mau membantu banyak orang.
SERPIHAN KEDUA:
31 DESEMBER 2018
Jadwal hari itu adalah meliput ke lokasi bencana
tsunami di Kecamatan Sumur. Tidak hanya untuk bertugas untuk meliput dan
mengambil beberapa gambar, melainkan juga membantu kawan-kawan dari Tangerang
yang berdonasi untuk para korban. Berangkat pukul 5:55 dari rumah menuju
alun-alun Pandeglang dengan diantar Papa. Semoga sehat terus yah, pa.
Terimakasih karena tidak mengeluh saat mengantar putrinya kemanapun. Selanjutnya berangkat bersama kawan dari Tangerang
namanya kak Indra yang lebih dulu sampai ke Pandeglang. Diperjalanan, gue
sempat merasa grogi, takut, dan lain-lain. Karena jujur, ini adalah pertama
kalinya gue meliput ke lokasi bencana.
Perjalanan terasa cepat jika berangkat pagi. Sebelum
sampai lokasi, gue dan kak Indra menunggu kawan-kawan lain di pertigaan yang
tidak jauh dari Terminal Labuan, Pandeglang. Karena memang banyak teman-teman
yang ingin membantu. Lima belas menit kita menunggu, akhirnya Rohmah dan
rombongan yang lain tiba.
Dari Labuan menuju lokasi memakan waktu empat jam.
Di perjalanan memang banyak berhentinya juga. Karena memang lokasi yang sangat
jauh, jalan yang kondisinya baik hanya dari Labuan sampai daerah Tanjung
Lesung. Selebihnya, jalan kurang memadai. Sampai akhirnya tiba di Pantai
Cipenyu. Jujur, itu pantai yang pertama kali gue tahu, gue lihat, dan gue
datangi. Amat sangat indah. Pantainya kalau dilihat dari atas itu indah banget,
airnya biru, ditambah ombak yang memang lumayan tinggi karena memang masih
dalam kondisi pasca tsunami. Sayangnya di kanan dan kiri jalan banyak
pohon-pohon yang tumbang karena diterjang ombak.
Perjalanan masih jauh dan banyak juga teman-teman meminta
untuk rehat sejenak, akhirnya kita menepi di area pantai Cipenyu yang menurut
kita posisinya masih aman. Tidak sampai lima menit, kita memutuskan untuk
kembali melanjutkan perjalanan menuju Sumur. Tepat jam sebelas siang, kita
sampai di kecamatan Cigeulis. Disana juga kita berhenti untuk beristirahat
sambil menunggu teman-teman yang tertinggal dibelakang kemudian melanjutkan
kembali perjalanan hingga sampai di pertigaan yang dijaga oleh seorang bapak.
Tugas bapak ini adalah menunjukkan arah menuju kecamatan Sumur. Disekitarnya
juga ada beberapa rumah yang dijadikan posko pengungsian. Disamping posko
tersebut terlihat juga kondisi yang biasanya gue hanya lihat di televisi. Ada perahu
yang sampai naik ke daratan, rumah hancur, namun dengan kondisi tersebut masih
ada warga yang tetap menjalankan aktivitasnya. Banyak juga ternyata bantuan
dari relawan yang datang untuk membantu para korban. Saat itu juga sampai
seterusnya, gue terus berdoa agar kegiatan meliput dan berdonasi berjalan
lancar.
Beberapa jembatan yang rusak akibat tsunami, jalanan
berbatu, dan macet karena memang jalannya tidak luas, membuat gue dan
kawan-kawan kesulitan menempuh medan tersebut. Ditambah cuaca yang cukup panas
menyengat dan berdebu, belum lagi banyak anak-anak berusia 5-10 tahun yang
meminta-minta. Asam lambung naik, menandakan kalau gue stress. Dalam benak gue yang hadir bukan rasa kasihan,
tapi sedih. Dalam hati gue bilang “kita bakal
bantu kalian, tapi kenapa adik-adik ini harus sampai mengemis, kenapa enggak di
cegah, kenapa enggak ada yang melarang?”
Untuk menghindari stress, gue inisiatif untuk turun
dari motor dan berjalan kaki beberapa meter. Setelah kemacetan berkurang, kak
Indra kembali mengangkut gue dan melanjutkan perjalanan. Kurang lebih dua puluh
menit, tepat pukul dua belas siang akhirnya sampailah kita di Desa Sumberjaya,
Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.
SERPIHAN KETIGA:
MERINGKIH DIBALIK MATA LENSA
Ada missed komunikasi
yang terjadi antara koordinator lapangan dan relawan. Kondisi yang sangat ramai
dan sempat stuck di satu titik posko
donasi, membuat kita kebingungan. Akhirnya korlap mengatakan untuk relawan
menyebar di dua titik. Jarak antara satu titik posko dadakan ini berkisar 150
meter. Gue memotret di titik pertama, dimana banyak anak-anak dan orang tua
yang mengerumuni mobil pembawa barang-barang donasi.
Awalnya berjalan dengan normal. Hingga akhirnya ada
segerombolan anak laki-laki dan perempuan berlari ditengah lahan kosong menuju
mobil kawan gue yang membawa donasi. Waktu yang tepat untuk memotret momen ini,
tetap mencari satu titik sambil memainkan fokus pada lensa. Beberapa foto
berhasil gue ambil, tapi baru kali ini gue benar-benar merasa rapuh, lutut gue
lemas, sedih juga dengan apa yang ada di depan mata. Anak-anak yang berlari
menghampiri mobil berebutan mengambil bantuan donasi yang seharusnya kawan-kawan
gue bisa menertibkan. Mungkin karena saking banyaknya anak-anak yang mendekat,
mereka kewalahan.
For the first
time I saw this moment!
Ya, pertama kali secara nyata. Seumur-umur gue hidup
dan mengalami masa kanak-kanak, enggak pernah mengalami hal seperti itu. Ada juga
momen yang enggak bisa dilupakan. Satu anak laki-laki berjalan menuju mobil tapi
nampaknya dia ini kebingungan, dia mendatangi mobil dan menerima kantung berisi
bahan makanan serta sandal jepit. Ekspresinya datar, tatap matanya kosong.
Sayangnya gue gagal mengambil momen ini dengan baik di karenakan gagal fokus.
Gambar: Pribadi
Kelopak mata gue berair, tidak lama kemudian air mata meleleh. Kain bermotif batik Badui yang sengaja dipakai untuk berlindung dari
debu menutupi juga ekspresi kesedihan. Tapi tetap saja, mau gue tutupi ekspresi wajah waktu itu, salah satu
kawan bernama Rohmah bisa tahu apa yang gue rasakan. Gue nangis di pundaknya.
Sadar akan keadaan yang masih mengharuskan gue melaksanakan tugas, akhirnya gue
mencoba untuk mengalihkan kondisi tersebut dengan kembali berburu objek foto.
Ada lagi seorang anak laki-laki yang lucu. Rasa sedih mulai teralihkan, gue mencoba untuk
berkomunikasi dengan anak ini. Percakapan kami singkat. Sekadar bertanya nama,
sudah sekolah atau belum dan kelas berapa. Namanya Rian, saat pertanyaan kedua
dan ketiga dilontarkan dia hanya diam dan tersenyum. Datang lagi temannya yang
tidak gue tanya-tanya. Gue bilang..
“Eh, foto yuk?”
Mereka malu-malu, diam, dan memandang satu sama
lain. Beberapa foto gue dapatkan, hingga akhirnya teman-teman mereka juga ingin
ikut berfoto. Senyum gue kembali lagi saat mereka menurut dengan apa yang gue
perintahkan.
“Hitungan ketiga, kalian semua teriak yang kencang
ya! Satu.. dua.. tiga..”
Tepat di hitungan ketiga mereka semua berteriak
dengan lantang. Mereka tertawa lepas.
Gambar: Pribadi
SERPIHAN
KEEMPAT: MESIN WAKTU TERBAIK
Proses untuk “membekukan waktu” memang mengharuskan
kita untuk tetap memperhatikan komposisi, mencari titik fokus, melatih kepekaan
terhadap sekitar, dan wajib menikmati situasi bagaimanapun kondisinya. Namun
keempat poin tersebut akan sempurna jika ditambah dengan poin paling penting
dalam prosesnya, yakni kesabaran. Sebuah karya yang dibuat dengan intervensi
hati dan perasaan, akan sampai juga ke hati dan perasaan siapapun yang menikmati.
Memotret bukan hanya kegiatan mengabadikan momen, atau sekadar dokumentasi
untuk keperluan komersil. Subjek yang sudah kita “bekukan” akan menjadi sebuah
arsip yang nantinya akan membawa kita ke masa terjadinya proses “pembekuan
waktu” tersebut.
Masih tetap bersyukur dengan adanya bencana alam
yang menimpa. Mungkin kalau enggak ada bencana alam, gue enggak bisa menikmati
keindahan pantai Cipenyu walaupun kondisinya sedang enggak baik. Mungkin kalau
enggak ada bencana alam, gue enggak akan bisa melihat secara riil tentang
Ekologi (hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan) di bagian
selatan kota Pandeglang ini. Mungkin kalau enggak ada bencana alam, gue masih
bisa ketawa-ketiwi sampai enggak ingat waktu. Mungkin kalau enggak ada bencana
alam, gue pasti lupa untuk berdzikir. Dan mungkin kalau enggak ada bencana alam
tsunami di daerah Labuan sana, gue enggak akan bisa bertemu dengan orang-orang
baik yang membantu korban tsunami.
Adanya bencana alam bukanlah momen yang tidak
sepatutnya kita menyalahkan akibat “siapa”, dan “siapa” yang harus turun dari tahta kemudian
diganti kedudukannya. Bencana alam ada karena Tuhan menunjukkan
kekuasaan-Nya untuk dijadikan refleksi diri. Apa yang sudah kita
lakukan selama hidup di tahun 2018 kebelakang? Apakah selama ini kita berguna
untuk orang lain, atau malah kita merusak alam sekitar? Meski terkadang urusan
kemanusiaan akan kalah dengan urusan perut, membuat siapa saja yang belum
kebagian bisa cemberut, namun selalu tetap percaya masih ada harapan untuk
bangkit dan kembali melangkah tanpa banyak menuntut.
....Dalam diam ku mulai mencoba mencari jawaban yang takkan pernah ada
Akankah bisa ku melihat kembali surga dunia yang kini telah sirna?
_Fatamorgana, Knuckle Bones
Gambar: Pribadi
Komentar
Posting Komentar