Langsung ke konten utama

Unggulan

REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"

Gue memutuskan untuk membeli buku ini saat kegiatan Banten Bookfair 2023 berlangsung di gedung Perpustakaan Daerah Banten pada 18 Mei 2023 silam. Kegiatan yang mempertemukan gue kembali dengan sobat karib bernama Gebrina Sephira, atau biasa dipanggil Gegeb, merupakan suatu keberuntungan. Merasa beruntung karena sudah cukup lama tidak bersua sambil membahas buku-buku yang sedang trending, maupun membahas buku-buku lama namun masih layak untuk dibaca. Terlebih di acara tersebut, gue bisa langsung bertatap muka dengan salah satu penulis kondang yang bukunya menjadi best-seller di tahun 2019. Henry Manampiring, penulis buku bertema filsafat berjudul Filosofi Teras. Tapi kali ini gue belum mau bahas Filosofi Teras. Gue bakal bahas buku yang mana sosok didalamnya cukup menyita perhatian setelah beliau meng-cover lagu milik Lisa Loeb berjudul Stay pada tahun 2021 di kanal YouTube Foo Fighters. gambar: pribadi A.      TENTANG BUKU Buku ini ditulis oleh Gilbert Chocky, ri...

OPINI: FREEDOM FIGHTER

Masih di depan layar monitor notebook kesayangan yang umurnya hampir 7 tahun. Sambil ditemani satu lagu dari Fur, Angel Eyes. Salah satu band yang menurut gue 20 atau 30 tahun lagi akan legend. Karena memang ketika gue mendengarkan lagu-lagunya, persis banget kayak The Beatles.


Hari ini tepat kita merayakan Hari Kebebasan Pers Internasional. Buat yang belum tahu, sekarang jadi tahu ya. Tepat pukul sepuluh pagi, gue baca berita dari VOA tentang kemajuan pers di Indonesia yang nyatanya masih jalan di tempat. Apa iya?


Menurut opini gue, iya. Terbukti dari kasus demi kasus yang terjadi di negeri ini, beberapa pihak penegak hukum belum bisa memecahkan kasus yang sudah lama mengambang. Seperti kasus siapa pembunuh Munir, Marsinah, para aktivis di tahun 98 yang hilang seperti Wiji Thukul, dan yang lainnya. Di era milenium, kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sampai detik ini belum diketahui siapa pelakunya. Tanda tanya besar, agak menegangkan memang ketika gue menulis tentang hal ini di blog. Tapi kali ini gue hanya ingin menyampaikan opini serta apa yang gue rasakan ketika menjadi seorang fotografer jurnalis pemula.



1 April 2019

Tepat di tanggal ini, kota Pandeglang merayakan hari jadinya yang ke-145. Sedikit flashback. Ada 3 kejadian yang berhasil gue rekam jejaknya dalam satu hari. Pertama, menyaksikan Menteri Pariwisata, Bapak Arief Yahya yang turut hadir dalam perayaan HUT Pandeglang, sembari mendeklarasikan bahwa kondisi laut di provinsi Banten pasca tsunami 22 Desember 2018,  sudah aman. Para wisatawan bisa datang kembali ke lokasi wisata yang ada di ujung barat kota Pandeglang. Disusul dengan upacara pemberantasan miras yang dibuka oleh wakil Bupati Kota Pandeglang, Bapak Tanto Arban. Banyak wartawan lokal yang berkumpul di depan gedung Badan Kesatuan Bangsa dan Politik kabupaten Pandeglang. Mendokumentasikan kegiatan, juga melakukan wawancara terkait hasil penyitaan ratusan botol miras.


Seusai meliput di depan gedung tersebut dan tidak jauh dari lokasi pemusnahan miras tepatnya pada tugu jam Pandeglang, sekumpulan mahasiswa yang tergabung pada GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Pandeglang, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Pandeglang menyerukan aksinya. Ada enam tuntutan yang mereka serukan, dan memang unjuk rasa tersebut tidak lain merujuk pada infrastruktur yang masih belum merata, serta menyudut pada pembelian mobil dinas baru. Mungkin kalian yang sempat menonton berita di televisi tahu akan hal tersebut.


Foto: Pribadi



Ada satu momen menegangkan dimana gue melihat secara langsung, aksi bentrok mahasiswa dengan aparat kepolisian yang mencoba untuk menenangkan. Kronologis singkatnya: satu mahasiswa yang sedang melakukan orasi, tiba-tiba menjatuhkan sebuah ban yang akan dibakar saat itu juga. Namun aksi tersebut berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian yang bertugas sebagai keamanan.


Satu hal yang bikin gue kesal sendiri adalah foto yang seharusnya bagus, malah jadi jelek. Gambarnya tidak fokus. Karena pada saat itu gue bingung apakah ingin membuat video, atau hanya memotret kejadian tersebut. Gue lamban dalam mengambil keputusan untuk menangkap momen tersebut. Alhasil, foto tersebut jadinya seperti ini.



Foto: Pribadi
Namun ada beberapa foto yang berhasil diambil dengan fokus tapi entah apakah ini bisa dikatakan baik, atau tidak. Silahkan berkomentar di kolom komentar blog dibawah ya.

Foto: Pribadi



2 foto diatas dirasa cukup memberikan gambaran seperti apa rasanya menjadi seorang fotografer jurnalis pemula seperti gue. Sangat salut kepada para fotografer jurnalis senior seperti om Abrain Rambey. Ada 3 hal yang beliau ucapkan dan inshaa Allah bisa gue lakukan dengan baik, yakni:
  1. Fisik harus kuat
  2. Jangan baper
  3. Jangan jadi penakut

Memang benar adanya apa yang dikatakan beliau. Tiga hal tersebut sangat mempengaruhi hasil foto kita ketika di lapangan. Jujur memang ketika aksi yang dilakukan pada saat demonstrasi tersebut gue bingung. Tidak hanya bingung, melainkan kondisi lain yang datang adalah disaat terjadi bentrokan, ada dua anak laki-laki yang datang ke lokasi unjuk rasa. Bingung apakah gue harus terus mengambil gambar atau menggiring dua anak laki-laki tersebut ke seberang jalan. Sedangkan bahaya sekali jika ada anak kecil yang tiba-tiba mendekat ke kejadian tersebut.


Akhirnya gue memutuskan untuk menggiring kedua anak laki-laki itu ke trotoar sambil bilang "Adek, jangan kesini ya. Bahaya!" plus ada seorang pak polisi yang sempat marah-marah karena 2 anak tadi mendekati para demonstran. Akhirnya gue bantu mereka menyeberang jalan, kondisi juga mulai kondusif kembali, para demonstran yang bentrok juga sudah mulai mereda, dan gue bisa lanjut memotret dan melakukan sedikit wawancara kepada salah satu mahasiswi.



3 May 2019

Satu bulan berlalu. Namun apa yang sudah gue tangkap dan abadikan, masih tergambar jelas. Betapa luar biasanya para fotografer jurnalis diluar sana yang bisa mengabadikan momen dengan baik sekalipun kondisi sedang bersitegang. Pelajaran yang sangat berarti buat gue bahwa sekalipun kondisi tidak memungkinkan, kita harus tetap fokus pada tujuan. Namun sebisa mungkin menjaga diri dengan baik, agar terhindar dari celaka.


Bebas ibarat angin segar bagi siapapun yang menghirupnya. Namun bebas bukan berarti lepas dari tanggung jawab!


Wartawan merupakan salah satu profesi yang menurut gue mulia. Mulia disini karena mereka memperjuangkan hak masyarakat yang membutuhkan informasi. Dengan adanya informasi yang akurat, tentu masyarakat akan tahu apa yang terjadi diluar sana. Baik itu informasinya berupa tulisan, suara, gambar, video, sampai desain visual. Terlebih saat ini masyarakat banjir informasi hoax, bahkan tidak ada yang bertanggung jawab sehingga masyarakat mulai kurang percaya dengan adanya media. 


Pada hari kebebasan pers ini, gue ingin mengucapkan terimakasih kepada para jurnalis Indonesia karena sudah memberikan sumbangsihnya kepada seluruh masyarakat melalui karya jurnalistik, tidak lupa juga dengan para fotografer jurnalis Indonesia yang luar biasa memberikan karya fotografi yang secara tidak langsung bisa membuka mata dunia dan mengubah kebijakan-kebijakan hingga saat ini.


Semoga keadilan tetap terjaga, dan negeri ini menjadi rumah teraman bagi seluruh lapisan masyarakat.


SELAMAT HARI KEBEBASAN PERS SEDUNIA.

Komentar

Postingan Populer