Langsung ke konten utama

Unggulan

REVIEW BUKU "GILBERT CHOCKY: DAVE GROHL"

Gue memutuskan untuk membeli buku ini saat kegiatan Banten Bookfair 2023 berlangsung di gedung Perpustakaan Daerah Banten pada 18 Mei 2023 silam. Kegiatan yang mempertemukan gue kembali dengan sobat karib bernama Gebrina Sephira, atau biasa dipanggil Gegeb, merupakan suatu keberuntungan. Merasa beruntung karena sudah cukup lama tidak bersua sambil membahas buku-buku yang sedang trending, maupun membahas buku-buku lama namun masih layak untuk dibaca. Terlebih di acara tersebut, gue bisa langsung bertatap muka dengan salah satu penulis kondang yang bukunya menjadi best-seller di tahun 2019. Henry Manampiring, penulis buku bertema filsafat berjudul Filosofi Teras. Tapi kali ini gue belum mau bahas Filosofi Teras. Gue bakal bahas buku yang mana sosok didalamnya cukup menyita perhatian setelah beliau meng-cover lagu milik Lisa Loeb berjudul Stay pada tahun 2021 di kanal YouTube Foo Fighters. gambar: pribadi A.      TENTANG BUKU Buku ini ditulis oleh Gilbert Chocky, ri...

4 ALASAN KENAPA SUKA MUSIK "INDIE?"


Bicara soal musik, tentu saja banyak yang berkata 'suka'. Namun jika kita garis bawahi akan kalimat pertanyaan "suka genre apa?" pasti jawabannya bervariatif. Ada yang suka akan dengan genre Emo, dangdut, hardcore, jazz, heavymetal, skate punk, dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan musik Indie? Buat kalian yang asing dengan kata 'indie' pasti bertanya-tanya, apakah musik indie adalah sebuah genre?

Dikutip dari website Afterglowmusictheraphy.wordpress.com "musik indie merupakan genre musik yang not even exist (tidak ada-red), karena yang disebut musik indie itu adalah untuk membedakan antara yang mainstream dengan indie. Jadi musik indie adalah istilah untuk membedakan antara musik yang dimainkan oleh musisi profesional dengan musisi amatir. Tapi yang pasti indie adalah gerakan bermusik yang berbasis dari apa yang kita punya, do it yourself, etika yang kita punya mulai dari merekam, mendistribusikan dan promosi dengan uang sendiri."


Di tahun 2015-2017 ini, karya dari para musisi indie mulai "kembali" terdengar di telinga para penikmat musik Indoenesia. Padahal para musisi ini sendiri sudah ada sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar, lho. Sampai detik ini juga gue masih rajin merapikan playlist yang berisikan lagu-lagu dari para musisi indie. Baik dari dalam negeri, maupun luar negeri.

Berikut 4 alasan kenapa gue suka mendengarkan lagu-lagu dari band indie:

1. BEDA 
Kalau berkata beda, ya pasti masing-masing orang berbeda pendapat dan beda selera pastinya. Namun percayalah bahwa musik indie akan membawa kalian pada 'sensasi' yang berbeda saat didengarkan, terlebih ketika melihat MV dari musik Indie yang kalian dengar. Pastinya ciamik!



2. UNIK

Beda itu unik, unik itu langka, dan langka itu banyak yang nyari! Keunikan dalam musik indie akan membawa kalian masuk kedalam 'ruang imaji' yang berbeda. Entah dari keunikan suara sang vokalis, aransemen musik, serta pembawaan para personel saat membawakan lagu yang mereka mainkan. Seperti musisi asal DI. Yogyakarta ini, Stars and Rabbit. Sang vokalis yakni mbak Elda Suryani menuturkan bahwa ia akan merasa lebih bebas berekspresi ketika manggung tanpa menggunakan alas kaki. Mungkin terdengar aneh, tapi bisa jadi kalian akan menarik kembali ucapan kalian ketika melihat MV terbaru dari Stars and Rabbit yang satu ini.


3. SOUNDTRACK FILM PALING CIAMIK !

Buat kalian para pecinta film, musik Indie juga berperan penting ternyata. Banyak film Indonesia yang ternyata membungkus film karya mereka dengan backsound lagu-lagu Indie agar lebih ciamik dinikmati oleh penonton. Contohnya adalah lagu dari 'White Shoes and the Couples Company' dengan judul 'Senandung Maaf' pada film Janji Joni (2005), 'Endah N' Rhesa' dengan judulnya 'When You Love Someone' di film Radio Galau FM (2012), dan di era musik indie booming di tahun 2017 ini ada film Bukaan 8 (2017) yang menjadikan lagu 'Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan' karya Payung Teduh sebagai soundtrack filmnya. Pasti tidak asing bukan dengan band satu ini? Kalau belum tahu, kenalan aja dulu.



4. MENCIPTAKAN PASAR, BUKAN PENGIKUT PASAR


Pernah dengar lagu dari Efek Rumah Kaca dengan judulnya 'Biru' alias 'Pasar Bisa Diciptakan'? itulah jawaban sekaligus pernyataan dari point nomor 4 ini. Para musisi indie berfokus dan mengedepankan kualitas musik mereka. Kalau 'urusan pasar' itu nomor dua, yang penting para penikmat musik mereka yang menjadi prioritas. Terlebih dengan era saat ini, mereka bisa memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka.

Yap, mungkin itu sedikit ulasan dari gue yang menyukai musik dari para musisi indie. Jelasnya, ketika mendengarkannya, gue merasa bebas, merasakan ruang imaji yang berbeda.

Komentar

Postingan Populer