Hallo, selamat datang!
Semoga kabar kalian selalu sehat, dan bahagia.
Sesuai dengan judul, kali ini gue mau membahas soal skripsi yang sebenarnya adalah unek-unek, dan beberapa poin penting yang gue dapat selama mengerjakan skripsi. Mulai dari awal menentukan judul, mencari data, mencari buku referensi untuk mencari teori siapa yang mau gue pakai, menentukan populasi, jumlah sampel penelitian, melakukan pra-survey atau tidak, dan lain-lain. Tidak hanya itu, gue juga akan membahas beberapa hal yang biasa terjadi saat menyusun skripsi. Apa saja? Baca sampai selesai, ya!

Perlu diketahui oleh teman-teman semua bahwa skripsi gue tentang Pemasaran. Kalau ditanya apa alasannya, jawabannya karena gue suka jajan. Baik itu makanan, baju, sampai buku. Dari yang suka jajan akhirnya gue jadi suka inisiatif sendiri membuat karya-karya handmade terus gue jual, dan ternyata hasil penjualannya balik modal. Hahaha, dan alasan lainnya adalah karena gue senang memperhatikan perilaku teman-teman yang belanja terutama soal fashion. Maklum saja, teman-teman gue rata-rata suka jalan-jalan, yang namanya jalan-jalan pasti ada hasrat untuk membeli sesuatu. Entah itu makanan, minuman, asesoris, dan lain-lain. Simple tapi maknanya dalam *uhuk*.
Oke, kita mulai!
Gue bisa dikatakan sebagai mahasiswi yang "Modal Nekat" karena disaat waktu seminar proposal dan deadline sudah di depan mata, gue malah ganti objek penelitian. Awalnya objek penelitian gue itu asuransi, tapi ada dua variabel yang dimana datanya itu nggak valid dan sulit didapatkan. Mau di otak-atik juga gue nggak ngerti harus apalagi yang diubah, empat bulan lamanya gue mandek sampai-sampai dosen pembimbing gue bingung sama maunya gue apa dan gue jadi merasa berdosa. Alhasil, gue memutuskan untuk mengganti objek penelitian. Dari asuransi menjadi fashion muslim, yakni Hijab. Awalnya disini gue merasa kalau objek yang akan gue teliti itu nggak ada "geregetnya", nggak keren, enggak istimewa dan WAH! Banyak cibiran dan omongan dari berbagai pihak tentang judul dan objek penelitian gue. Belum lagi mereka-mereka yang menuntut untuk segera menyelesaikan tulisan ilmiah ini. Diantaranya adalah senior gue yang sudah jadi alumni. Dia bilang "kok judul skripsinya gini banget? Kurang gereget, nih. Masa' cuma 4 variabel, terus pakai Regresi pula. Ditolak lu, pasti."
Itu baru ocehan burung merpati yang baru nelan cabai gunung 5 biji. Setelah dia, teman dekat gue juga suka banget ngomel tiap kali gue update di medsos. Dia pernah juga omelin gue via whatsapp karena waktu itu gue share link tulisan terbaru di blog. Dia bilang kalau gue nggak punya tujuan hidup, nggak punya cita-cita, nggak punya prioritas. Ya gue cuma bisa senyum-senyum sendiri dan memaklumi dia bilang begitu, karena dia nggak tahu kalau gue juga punya kesibukan lain diluar skripsi yang harus dipertanggungjawabkan. Semua orang punya tujuan hidup, tinggal bagaimana orang itu yang mengejarnya, yang bisa dilakukan adalah 'Kerjakan apa yang bisa dikerjakan!'
Oke, gue cuma bisa berpikir baik aja ketika ada orang yang bertanya 'kapan sidang?'
Seperti yang tadi gue bilang kalau metodelogi penelitian gue menggunakan analisis Regresi Linier Berganda yang sudah umum banget digunakan mahasiswa tingkat akhir sebagai alat analisis. Dosen pembimbing gue menyarankan untuk menggunakan analisis Path, tapi gue yang saat itu benar-benar dikejar deadline nggak mau dengar apa kata orang, plus gue benar-benar keukeuh mau pakai alat analisis yang menurut gue cepat dan mudah gue kerjakan, akhirnya beliau terima juga kemauan gue, dan sampailah gue memasuki masa-masa mengerjakan BAB 4 yakni mengolah data.
Gue mendapatkan hasil yang ternyata bertentangan dengan penelitian terdahulu. Satu variabel yang gue pakai ternyata hasilnya tidak signifikan. Ada beberapa penelitian terdahulu yang masuk kedalam bahan penelitian. Salah satunya berhubungan dengan salah satu variabel yang gue pakai, yakni Citra Merek. Kalau pada penelitian terhadulu mengatakan bahwa citra merek itu ada hubungannya dengan keputusan pembelian, tapi tidak dengan penelitian yang gue lakukan. Terbukti dari hasil data yang gue olah, ada yang hasilnya tidak signifikan. Awalnya gue was was, teman-teman gue pada signifikan kok gue enggak. Dan akhirnya *jeng jeng jeng* beberapa teman bilang "Otak-atik aja hasil kuesionernya, fin. Yang lain juga pada begitu, kok. Supaya signifikan."
Gue bukannya muna, tapi emang gue nggak berani buat otak-atik data. Karena apa? Kalau gue manipulasi data, gue takut dan khawatir pas waktu sidang. Entah itu gue ngaco pas menjawab pertanyaan penguji, atau hal-hal yang kelihatan banget kalau gue manipulasi data. Bisa-bisa gue dibantai penguji. Berhubung gue punya kakak yang berpengalaman sebagai asdos, dia bilang "Kalau manipulasi data, terkadang seseorang tidak benar-benar yakin bisa menjelaskan secara detil." Ya ada benarnya juga. Sepandai-pandainya tupai melompat kalau kepeleset kulit pisang juga pasti jatuh.
Perlu teman-teman ingat bahwa jam terbang dan level pendidikan seorang dosen di kampus itu sudah diatas kita. Jadi jangan macam-macam, ya. Hihi.
Akhirnya gue mencoba untuk apa adanya dengan hasil penelitian. Ketika menghadap dosen pembimbing, dan menjelaskan apa yang terjadi dosen gue cuma bilang "ya gak apa-apa, dijelasin aja artinya apa terus kira-kira kenapa bisa begitu. Dan itu jadi temuan penelitian kamu."
#BOOM
Gue menyadari satu hal. Selama ini gue kuliah untuk menjadi seorang peneliti. Ok, gue keren!
Tepat pada tanggal 28 Februari 2018, akhirnya gue sidang skripsi dan hasilnya memuaskan. Empat bulan stuck, dan satu bulan berhasil menyelesaikan skripsi yang diganti objeknya.
Penguji gue adalah 2 orang wanita super yang pernah gue temui. Penguji pertama yakni Prof. Dr. Lia Amalia, SE,. MM dimana beliau ini guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Beliau ini sosok yang keibuan, tegas, dan tidak muluk-muluk. Sempat di cecar pada BAB 1-5 oleh beliau tapi alhamdulillah gue bisa jawab dengan lancar dan lugas tanpa terbata-bata. Penguji kedua yakni Dr. Ir. Rojuaniah, MM. Beliau bisa di katakan partner dari Prof. Lia, kemana-mana pasti berdua. Mereka adalah sosok yang tidak muluk-muluk. Kalau mahasiswa bisa jawab dengan benar dan sesuai dengan tulisan ilmiahnya, ya enggak akan jahil atau iseng ketika sidang. Terakhir, dosen pembimbing gue sendiri yakni bapak Muhammad Fariz, SE,. MBA.
Setelah merasa capek, pusing, sakit hati karena lembar proposal di coret-coret, drama sampai nangis-nangis, akhirnya gue sadar dan faham makna dari kata Kuliah yang sesungguhnya. Ada beberapa poin yang gue dapat dan semoga menjadi insight untuk teman-teman yang sampai saat ini masih berkutat dengan tugas akhir:
1. HORMATI DOSEN: Kita boleh mempertahankan argumen, namun alangkah lebih baik jika kita mendengar apa kata bapak/ibu dosen yang jam terbang belajarnya lebih jauh dari kita. Namanya juga revisi, kita dikasih tahu letak kesalahnya dimana.
2. JANGAN KEBANYAKAN NANYA TEMAN: Kenapa? Bukannya ngasih solusi yang ada malah makin bikin bingung. Gue mandek nggak olah data sampai beberapa hari karena bingung akibat banyak nanya.
3. JANGAN KERAS KEPALA SAMA DIRI SENDIRI: Karena kembali ke point pertama!
4. JANGAN PERNAH MEREMEHKAN HAL KECIL: Yaiyalah, emangnya mau diremehin balik? Tentu tidak. Terbukti dari judul yang gue ambil ini meskipun senior gue bilang merupakan judul yang kurang berbobot dan alat analisis yang gue pakai bakalan ditolak, ternyata bisa mematahkan penelitian yang sebelum-sebelumnya dan menciptakan sebuah teori baru.
5. JANGAN S3 (SOK SIBUK SEKALI): Walaupun kalian punya banyak kegiatan diluar, tapi tetap harus tahu akan kewajiban dan tanggung jawab. Ini merupakan risiko yang harus kita ambil. Kita yang memilih, kita yang memulai, kita yang mengerjakan, kita juga yang harus menyelesaikan.
6. KULIAH ITU UNTUK MENCARI MAKNA TENTANG HAL KECIL DAN BESAR: Ini bisa jadi perspektif gue. Kuliah itu bukan untuk menunjukkan lo pintar dan bisa masuk ke jurusan yang lo mau, apalagi mau menunjukkan argumen kita lebih baik dan sifatnya memaksa untuk menerima. Kita nggak bisa kayak gitu. Ada alasan kenapa Allah swt menciptakan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, dan satu mulut. Yap! Gunanya adalah untuk kita agar lebih banyak-banyak melihat, banyak mendengar, banyak memberi, banyak melangkah dari satu tempat ke tempat lain agar mata kita banyak melihat, telinga yang mampu mendengar suara orang lain, serta tangan kita yang banyak memberikan setidaknya satu kebaikan kecil dimanapun kita berada.
Lagi nulis skripsi dan hasil penalitian bertolak belakang dan ga signifikan, ga berani banget ngotak ngantik variabel karena takut kalau ketahuan malunya lebih gede
BalasHapusHehehe, apapun hasilnya ya itu temuannya. Semangat ya!
Hapus